Bagi yang suka Sepakbola, dan melihat pertandingan Liga Champions Eropa dua hari terakhir, yang paling banyak menyita perhatian tentulah AS Roma dan Arsenal.
AS Roma, kesebelasan dari ibukota Italia, membuat kejutan dengan menyingkirkan Real Madrid, kesebelasan dari ibukota Spanyol, yang lebih diunggulkan. Maklum saja Real Madrid adalah juara 9 kali kejuaraan ini sedangkan AS Roma belum sekalipun pernah juara, hanya pernah sekali menjadi juara 2. Arsenal, kesebelasan dari ibukota Inggris, membuat kejutan dengan menyingkirkan AC MilaN, kesebelasan dari kota Milan, yang juga lebih diunggulkan mengingat reputasi mereka sebagai juara 7 kali kejuaraan ini. Sama seperti AS Roma, prestasi Arsenal paling tinggi baru sekali juara 2. Semoga saja dua tim ini bisa bertemu di final, nah ini baru kejutan terbesar !! Arsenal tumbuh dari kesuksesan seorang pelatih yang jenius (Arsene Wenger), sedangkan AS Roma tumbuh dari iklim kompetisi yang ketat dan kompleks. Arsenal berisi pemain-pemain muda (rata-rata usia pemainnya 24 tahun) yang diramu oleh Arsene Wenger, diambil dari klub-klub kecil, pemain-pemain terpinggirkan atau bahkan pemain yang 'belum jadi', ditempa menjadi satu team kompak. Menjadi bukti bahwa satu team bisa berkembang bersama dalam suasana kerjasama erat tanpa perlu ada seorang pemain yang perlu dianggap 'jagoan'. Arsenal tercatat masuk lima besar klub sepakbola terkaya di dunia, sebagian kekayaannya adalah hasil penjualan pemain-pemainnya yang tadinya berharga murah kemudian setelah dipoles menjadi berlipat-lipat harganya. Tentu saja tanpa mengesampingkan promosi dan prestasi klub sebagai sumber pemasukan juga. Ironisnya, Arsenal adalah team ibukota Inggris, namun acapkali tidak ada seorang Inggris pun yang bermain. Karena dari pelatih hingga seluruh pemainnya adalah para 'perantau'. Berbeda dengan AS Roma, boleh dikatakan tumbuh dari kerasnya iklim kompetisi yang ketat, keras dan 'licik'. AS Roma bukan klub kaya, bahkan perusahaan penyokong dana utama klub ini sedang terlilit hutang dan terancam dijual. Kondisi ini sudah berlangsung hampir 5 tahun terakhir. Namun dalam lima tahun itu justru klub menuai prestasi, diantaranya dengan menjadi scudetto (juara liga Italia), juara Copa Italia, juara Super Italia, termasuk langganan mengikuti Liga Champion. Prestasi ini memang belum apa-apa bila dibandingkan dengan AC Milan, sesama klun Italia lain. Namun perlu dicatat bahwa AC Milan memiliki sumber dana melimpah yang bisa membeli pemain termahal dunia sekalipun. Kompetisi Italia yang ketat, keras cenderung licik (baik dalam bermain di lapangan maupun dalam berpolitik di level klub) menempa anak-anak Roma dan klub untuk tidak tergantung semata pada uang dan nama besar. Tercatat AS Roma jarang sekali membeli pemain kelas dunia, justru mereka mengembangkan anak-anak muda binaan sekolah mereka sendiri. Maka kemudian nama-nama besar pun muncul bukan dari membeli dari klub lain, tapi membesarkan 'anak-anak' mereka sendiri. Tercatat setidaknya ada 6 nama pemain mereka yang masuk Tim Nasional Italia, 4 orang diantaranya ikut membela Italia meraih Piala Dunia lalu. Di tim saat ini pun mulai muncul bibit-bibit muda kembali yang siap mengisi dan mengganti peran senior-seniornya. Akan sangat menarik dan kontras apabila AS Roma bisa bertanding melawan Arsenal. AS Roma yang kental dengan warna lokal, tim Italia yang dipenuhi banyak pemain-pemain asli Italia, melawan Arsenal yang kental dengan nuansa internasional, tim Inggris namun hampir tidak ada pemain dari Inggris di sana. Tim yang bermain liat dengan taktik dan strategi melawan tim yang mengandalkan speed & power. Terlepas siapa yang menang atau kalah, kelihatannya akan sangat menarik. Sejenak kita lupakan sepak bola Indonesia selagi ketua umum nya ada di penjara karena korupsi impor gula (he he he gak nyambung yah, ketua PSSI dipenjara karena kasus impor gula. Kalo di Italia dipenjara karena menyuap wasit, setidaknya masih nyambung). =narko=
