Hadits Nabi SAW : Tidak ada Agama bagi yg tidak berakal (La dina huwal
Aqlu... kalau ga salah).

                             Memang disamping akal jug a perlu keimanan,
itu pasti. Tapi untuk mentelaah Hadits-Hadits Nabi mutlak diperlukan
Akal.

                             karena kita hidup 1,400 tahun kemudian.

 

 

Awal Kajian Secara Mendalam tentang Sahabat

 

Perdamaian hudaibiyah dan sahabat

 

Pada tahun keenam Hiriyah,Rasulullah bersama seribu empat ratus
sahabatnya keluar dari Madinah dengan tujuan Umrah.

Disuruhnya para sahabat menyarungkan pedangnya masing2.Mereka berihram
di Zil Hulaifah dan membawa binatang korban agar 

orang2 Quraisy tahu bahwa mereka datang  untuk umrah, bukan
berperang.Karena sifat angkuhnya, 

orang2 Quraisy tidak mahu kelak orang Arab mendengar bahwa Muhammad
telah masuk ke Mekkah dan 

memecahkan benteng mereka.Diutusnya serombongan delegasi yg diketuai
oleh Suhail bin Amr bin Abdu Wud al Amiri 

agar meminta Nabi kembali ke tempat asalnya.Tahun depan mereka akan
diizinkan umrah untuk selama 3 hari. 

Orang2 Quraisy juga meletakkan syarat yg berat yg kemudiannya diterima
oleh Rasul SAW berdasarkan kemashlahatan yg dilihatnya dan wahyu Allah
kepadanya.

 

Namun sebagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti ini.Mereka
menentangnya dengan keras.  

Umar bin Khatab datang dan berkata :"Apakah benar engkau adalah Nabi
Allah yg sesungguhnya ?" 

 

"Ya", jawab Nabi

 

(pendapat pribadiku : belum pernah ada sahabat lain yg meragukan ke
Rasulan Nabi dan menyatakan secara tegas 

seperti halnya Umar bin Khatab. Bayangkan seorang Umar bin Khatab berani
berkata spt itu di depan Nabi)

 

Kita lanjutkan :

 

"Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam batil ?"

"Ya", sahut Nabi Lagi. 

"Lalu kenapa kita hinakan agama kita?" desak Umar 

"Aku adalah Rasulullah.Aku tidak melanggar perintahNya dan Dia lah
penolongku,"jawab Nabi. 

"Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Rumah
Allah dan bertawaf disana ?"

 

"Ya",Tetapi apakah aku mengtakan kepadamu pada tahun ini juga?", Tanya
Nabi.

"Tidak ",jawab Umar 

"Engkau akan datang kesana dan tawaf di sekitarnya"

 

Kemudian Umar datang kepada Abu Bakar dan bertanya : 

"Hai Abu Bakar! Benarkah ini adalah Nabi Allah yg sesungguhnya ?"

 

"Ya", jawab Abu Bakar

(dari saya : tampaknya Umar bn Khatab masih ragu dengan jawaban Nabi.
Maaf ! apa beliau tidak membaca Al-Quran :

Bahwa Tidaklah Nabi Allah berkata sesuatu melainkan ia wahyu dari Allah
?????)

 

Kemudian  Umar mengajukan pertanyaan yg serupa kepada Abu Bakar dan
dijawab dengan jawaban yg serupa juga

"Hai Saudara !",kata Abu Bakar."Beliau adalah Rasul Allah yg
sesungguhnya.Beliau tidak melanggar perintah-Nya dan

 Dialah penolongnya maka percayalah dengannya" 

Setelah Rasulullah selesai menulis piagam perdamaian,belaiu berkata
kepada sahabat2nya : 

"Pergilah kalian sembelih binatang2 korban itu dan cukurlah rambut!"

Demi Allah tidak satupun sahabatnya berdiri mematuhi perintah itu
sehingga Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali  . 

 

(dari saya : ajaib kan ? ....menolak perintah Nabi - yg berarti menolak
perintah Tuhan, kalau anda saya yakin akan berkata : Sami'na wa
Atho'na).

 

Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya baginda masuk ke
kemahnya dan keluar kembali tanpa berbicara dengan siapapun.

Beliau menyembelih binatang binatang korbannya dengan tangannya sendiri
lalu memanggil tukang cukurnya dan beliau cukur rambutnya.

Ketika para sahabat melihat ini mereka berdiri dan menyembelih korban
mereka lalu saling mencukur sehingga hampir-hampir mereka saling
berbunuhan........

 

(lihat buku-buku sejarah dan sirah.Juga lihat Shahih Bukhori di dalam
Bab as-Syurut fil Jihad Juz 2 hal. 132, juga Shahih Muslim Bab Sulhul
Hudaibiyah jil. 2)

 

Demikianlah ringkasan kisah perdamaian Hudaibiyah.Para Ahli sejarah dan
sirah seperti Thabari, Ibnul Athir dan Ibnu Sa'ad 

menuliskan cerita ini di buku mereka masing-masing.Begitu juga Bukhari
dan Muslim. (kalau ini cerita dari orang2 Syiah nggak usah dibahas
lagi......)

 

Disini aku terdiam dan berhenti.Tidak mungkin kalau kita tidak terkejut
dan heran atas sikap para sahabat thd Nabi. 

Apakah org yg rasional dapat menerima ucapan orang yg mengatakan bahwa
semua sahabat Nabi telah mematuhi seluruh perintah

Nabi dan melaksanakannya.Bukti sejarah ini menafikan kebenaran ucapan
seperti itu.Dapatkah seorang yg rasional menilai sikap spt itu 

thd Nabi adalah masalah kecil, atau dapat diterima atau dimaafkan ?

 

Allah berfirman : "Maka demi Tuhanmu,mereka (pada hakikatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yg 

mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka
sesuatu keberatan thd keputusan yg kamu berikan dan mereka menerima
dengan sepenuhnya (Q.S.: 4 :65).

 

Apakah di sini Umar bin Khatab tidak berat menerima keputusan Nabi SAW
ataukah dia bersikap ragu-ragu thd perintah Nabi, 

khususnya ketika dia berkata : Apakah engkau benar2 Nabi Allah yg
sesungguhnya ? Bukankah engkau berkata kepada kami...... dst.

 

Apakah Umar juga menerima jawaban Nabi yg memuaskan itu ? Tidak. Dia
tidak puas dengan jawaban Nabi lalu pergi kepada 

Abu Bakar mengajukan pertanyaan yg serupa.Apakah dia menerima jawaban
Abu Bakar dan nasihatnya agar mematuhi perintah Nabi ?

Kita tidak tahu apakah dia menerimanya lantaran jawaban Abu Bakar atau
jawaban Nabi! Kalau tidak kenapa dia berkata

 thd dirinya, "lalu aku telah lakukan beberapa perkara yg...." Hanya
Allah dan Rasul-Nya saja yg tahu apa yg dilakukan Umar.

Dan kita juga tidak tahu sebab keengganan sahabat2 lain atas perintah
Nabi setelah itu ketika baginda berkata :

"Pergilah sembelih binatang korban dan cukurlah rambut kalian!".Tidak
satupun dari mereka mendengan perintah Nabi ini sehingga beliau terpaksa
mengulanginya tiga kali.

 

Subhanallah! Aku hampir2 tidak percaya apa yg kubaca ini.Apakah sampai
tahap ini para sahabat bersikap thd perintah Nabi ? 

Jika cerita ini diriwayatkan hanya oleh golongan syiah saja, maka aku
akan katakana bahwa ini adalah tuduhan syiah kepada para sahabat yg
mulia.

 

Masalahnya begitu terkenalnya dan benarnya cerita ini sehingga semua
ahli hadits Ahlu Sunnah Wal jamaah meriwayatkannya di buku mereka
masing-masing

 

Tidak ada pilihan lain keculai menerima dan bingung ???

Apa yg haru kukatakan ? Dengan apa aku harus memaafkan sahabat2 yg telah
hidup bersama Nabi selama hampir 20 tahun, dari awal 

kebangkitan sehinggalah perdamaian Hudaibiyah, dimana mereka saksikan
berbagai mukjizat dan cahaya kenabian.Al-Quran juga 

mengajarkan kepada mereka, siang dan malam bagaimana semestinya bersikap
dan beradab di hadapan baginda Nabi dan bagaimana 

berbicara dengannya, sehingga Allah pernah mengancam untuk menggugurkan
amal baik mereka jika suara mereka diangkat lebih keras dari suara Nabi.

 

Ketika saya buka tafsir surat  Al-Hujurat 1-2 ternyata berkenanan dgn
Umar dan Abu Bakar (baca : Tafsir Al-Durr al Mantsur 7: 546-550.

 

Ringkasnya begini : Rombongan Bani Tamim menghadap Rasulullah SAW.Mereka
ingin memohon kpd Nabi untuk menunjuk pemimpin buat 

mereka.Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata : "Angkat
Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai Amir." Kata Umar ,"Tidak!, angkatlah Al-Aqra
bin Habist." .

Kata Abu Bakr ,"Kamu hanya ingin membantah aku saja". "Aku tidak
bermaksud membantahmu,"kata Umar.Keduanya berbantahan sehingga suara
mereka terdengar makin keras.

 

Waktu itu turunlah ayat :

 

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
Rasul-Nya.Takutlah kamu kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
dan 

Maha Mengetahui. Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu
di atas suara nabi.Janganlah kamu mengeraskan suara kamu 

dalam percakapan dengan dia seperti kamu mengeraskan suara kamu ketika
bercakap sesama kamu.Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak
menyadarinya (Al-Hujurat 1-2)

 

Setelah mendengarkan teguran itu Abu Bakar berkata ,"Ya,Rasulullah, demi
Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu 

kecuali seperti seorang saudara yg membisikkan rahasia. Umar juga
berbicara kepada Nabi dengan suara yg lembut.

Mereka merasakan betul bahwa ayat Al-Quran itu berkenaan dengan mereka.

 


________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
msl_008
Sent: Friday, May 11, 2007 3:42 PM
To: [email protected]
Subject: [immam] Re: Nabi Muhammad SAW



> Saya berharap di IMMAM ini agak kritislah dalam berfikir. Apa bedanya
> kita dengan orang2 yg tidak merantau. Jauh2 jauh ke Bandung
> atau ke Jakarta tetap aja cara berfikir kita ga berubah. (karena ga 
mau
> meng update informasi). Semakin membenarkan hypotesisnya Sigmund 
Freud
> bahwa "Agama itu memang candu masyrakat". Karena dilihatnya org2 
bergama
> itu hanya menerima dogma agama begitu saja.
> Untuk mengetahui apa yg terjadi 1,400 tahun lalu bisa dengan membaca
> Al-Quran, Hadits2 dan pakai Akal dalam menganalisanya.

kalo mau penuh menggunakan "akal" dari awal, akan susah diterima akal 
bahwa "ada" Allah yg MAHA atas segalanya dan "zat"nya benar2 berbeda 
dari apa-pun yg pernah ter-bayangkan "akal". tak mungkinlah "akal" 
bisa "mengakali" hal yg begituan, tak bisa dibilang "ada" oleh "akal".

begitu juga dgn kerasulan Muhammad. Muhammad tak punya "bukti" logis 
bahwa yg datang ke beliau adalah "jibril" dan Muhammad juga tak 
punya "metodologi" yg valid untuk mengklarifikasi bahwa apa yg 
disampaikan jibril memang benar2 bersumber dari "Allah". (mungkin juga 
Nabi Muhammad punya metodologinya, tapi disimpan untuk pengetahuan 
pribadi saja?)

untuk dua point di atas aja jelas harus mengesampingkan "akal". jadi, 
ikut dogma juga ga "jelek-jelek" amat lah ;)

salam.



 

Kirim email ke