Pak Djarot ysh, saya kira kita perlu buka thread baru menyangkut pertemuan waktu dan ruang. Kita sepakat bila hal-hal seperti itu sulit terulang kembali. Saya menambahkan dengan satu kisah lagi, seusai thawaf, saya mencari kesempatan untuk berdoa di Multazam. Cara berdoanya adalah merapatkan seluruh tubuh ke dinding Ka'bah. Disebutkan dalam hadits (?) bila berdoa di Multazam akan mendapatkan prioritas untuk dikabulkan oleh Allah swt. Atas saran seorang rekan yang sudah berhaji, saya sudah menyiapkan sejumlah doa yang bermacam-macam, mulai untuk beroleh kekayaan, kesuksesan, dst.
Pada kesempatan yang sangat sulit karena padatnya jemaah, akhirnya saya berhasil sampai di Multazam dan bisa bertahan sampai sekitar 5 menit. Begitu merapatkan badan, entah kenapa seluruh tubuh saya menangis, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Mata saya menangis, tangan saya menangis, kaki saya menangis, dst (36:65). Semuanya seakan-akan mengadu kepada Allah swt, tentang apa-apa yang telah mereka perbuat, tanpa dapat saya kontrol sedikitpun. Mungkin dulu kaki saya pernah menendang orang atau tangan saya pernah menampar orang. Untuk Pak BTS mungkin bisa menyimak Chrisye<http://www.youtube.com/watch?v=cNsURlMA-dg>. Pada saat itu seluruh rencana doa-doa saya tiba-tiba menjadi buyar, kembali saya hanya minta ampun kepada Allah swt. Belum pernah saya menangis sedahsyat itu, walaupun di masa kecil. Hanya minta ampun. Dalam saat seperti itu tiba-tiba saya merasakan gelombang ungu masuk ke dalam kepala saya, begitu nyata dalam mata telanjang saya, terus-menerus. Dan terasa begitu damainya, begitu bahagianya. Keesokan harinya saya kembali ke Multazam, dalam suasana yang sama, tapi sungguh, saya tidak mendapatkan nuansa seperti sebelumnya. Jadi memang momentum tidak berulang. Namun beberapa bulan kemudian, ketika sholat ashar di musholla di sebuah hotel di kawasan Kemang, saya mendapatkan kembali sinar ungu itu walau bentuk gelombangnya berbeda. Namun bulan lalu ketika saya kembali berkesempatan ke hotel itu, sinar ungu itu sudah tidak saya temukan lagi. Itu sharing dari saya pak, bila momentum tercipta pada pertemuan ruang dan waktu, secara hikmah dan hidayah. Salam. -ekadj 2009/11/29 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Pak Eka, saya kira pengalaman spiritual semacam itu sangat langka dan > kadang tidak bisa kita prediksi atau siapkan. Saya pernah mengalami > pengalaman spiritual "dielus-elus" kepala saya oleh Bunda Maria ketika saya > berdoa sendirian di depan goa Santa Maria di Sendangsono tahun 1976. Pada > waktu itu saya mengalami kebuntuan, ingin meneruskan ke perguruan tinggi > (UGM) tetapi tidak punya modal selain nila ujian saja. Saya menangis di > depan goa dan di hadapan patung Maria (nuwun sewu ini tradisi Katolik). > Suasananya sangat sepi karena tengah malam dan saya sendirian, Sejak siang > saya sudah berjalan kaki dari rumah Wirobrajan menuju Sendangsono tanpa > bekal makanan selain tekad. Alhasil, ketika pengumuman saya diterima di UGM, > sementara teman-teman sekampung banyak yang nggak lolos. > > Pengalamn semacam itu ternyata nggak bisa diulangi Pak. > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On *Sat, 11/28/09, - ekadj <[email protected]>* wrote: > > Pak Djarot ysh, terima kasih atas apresiasi bapak mengenai kisah di > Arafah ini. Segala harapan yang disampaikan, kita kembalikan kepada Yang > Maha Kuasa. > > > > Ada beberapa hal yang ingin saya luruskan, yaitu pengalaman Arafah ini > sepertinya dialami oleh setiap orang pada saat itu, sehingga bersifat > pengalaman komunal, tentunya dengan tingkat yang berbeda-beda pada setiap > orang. Saya sendiri mengakui kalau ibadah saya tidak sempurna, apalagi zikir > dan doa masih dituntun oleh ustadz. Bila saya pahami sepenuhnya zikir dan > doa itu, tentunya akan lebih mantab. Namun tentunya kita berharap timbangan > keadilan dari Tuhan sesuai dengan kemampuan setiap insan berdasarkan iman > dan taqwa masing-masing. Namun saya merasakan bila momentum seperti itu > tidak akan berulang pada kesempatan lain, walaupun persiapan akan lebih > baik, dan kita diberi kesempatan untuk melaksanakan haji berkali-kali. > Mudah-mudahan ada rekan-rekan di sini yang sudah berhaji untuk dapat > menceritakan pengalamannya. > > > > Mengenai pencapaian pada sore itu sebenarnya retrospeksi pribadi usai zikir > dan doa, sebagai suatu usaha yang kuat untuk menarik hikmah. Dalam hal ini > saya memandang perlunya persiapan dalam melaksanakan haji, yang diingatkan > sebagai ’bekal’ (2:197). Bahwa selain persiapan materi, kesehatan, dan > ketaqwaan, perlu juga persiapan pengetahuan. Sehingga sebenarnya momentum > akan terjadi bila kita sanggup menangkap al hikmah. Kembali disini bila al > hikmah kiranya adalah bersesuaian untuk setiap orang. > > > >
