Fenomena Bikers lagi :-)
* Komunitas Skubek *
* Jakarta Night Race *
[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21947','detail_images','616','450');>Penasaran
*abis* sama fenomena adu kebut malam hari antar pemilik skubek di Jakarta.
Trek yang dicicipi bukan seperti *bali* alias balap liar yang cuma bermain
di trek lurus.
Selain membosankan, main di bali juga dianggap sebagian orang sudah terlalu
mengganggu. Apalagi kalau sampai menutup jalan. Belum lagi amarah warga
setempat jika kawasannya sering dipakai *ngetrek*. Tabik!
Ini beda. Sekali lagi beda. Katanya sih, lintasan yang biasa dipakai itu
distilahkan Jakarta Night Race. MOTOR Plus coba mengikuti gerak adrenalin di
malam menjelang pagi. Bersama 25 *skubekers *menjajal nikmatnya meliuk di
lintasan yang pada siang hari padat oleh kendaraan lalu lalang. Bagaimana
cerita lengkapnya. Ikuti terus. *Ciittttt*...
PEMANASAN
Seusai nongkrong di lokasi yang disepakati di bilangan Jakarta Selatan,[image:
KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21948','detail_images','616','450');>rombongan
yang terdiri dari Yamaha Mio, Honda Vario, Suzuki Spin 125 dan Kymco Free MX
lakukan *warming-up* alias pemanasan.
Jalur yang dipilih trek lurus sepanjang 3,5 km di bilangan Gatot Subroto
memutar balik. Di sini memang tidak terlalu sulit. Jalur lurus cuma jadi
ajang tes pelemasan. Tidak lama di lokasi ini, 30 menit kemudian berangkat
menuju trek sesungguhnya.
JALUR MONACO-MACAU
* **[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21949','detail_images','616','450');>Start
*dari lampu merah Masjid besar di bilangan Jakarta Pusat. Begitu lampu
berganti hijau, *grip* gas mulai dipelintir *abiz! S*erasa balap benaran,
adrenalin meningkat! *Start* mulus hingga masuk sebuah taman, badan
mengikuti arah tikungan mirip *chicane*.
Di tikungan jalan mulus, rebah 60 km/jam enggak masalah! Saking rebahnya,
standar tengah mentok di aspal. *Srekkk*... keluar percikan api.
Sampai lampu merah pertama, semua *riders* berhenti. Maklum, tetap taat
peraturan lalu lintas. Sembari *nunggu* lampu hijau, sesama peserta
mengeluarkan canda tawa atau ngobrol sejenak.
"Salut, *Bro*! *Elu* rebah banget di tikungan. Padahal lebarnya cuma 3
meter. Keluar bunga api tuh dari standar tengah," bilang Dimas yang juga
besut Yamaha Mio kelir biru ban standar. *Ah*, itu sih biasa...
Lampu hijau, mulai start lagi. Kali ini jalur melewati sebuah bundaran
sebelum menuju kediaman mantan orang nomor satu di negeri ini. Tikungan
tergolong cukup sempit. Meski sempit, bundaran itu bisa dimasuki dua motor
berdampingan. Sambil rebahan tentunya.
Kondisi itu, memaksa 'pembalap' harus antre masuk tikungan! Lagi-lagi, 100
meter lepas tikungan bukannya geber tunggangan tetapi malah saling tertawa.
Saling bercanda menertawakan kepanikan di tikungan tadi.
Taunya memang seperti itu*.* Yang dicari, ketegangan saat masuk dan keluar
tikungan! Jadi di trek lurus, mereka saling bercanda. Ini terlihat ketika
rombongan menuju Gambir arah ke Monas.
Dari canda, suasana kembali serius. Terkena lampu merah di Patung Tani,
bersiap geber pacuan. Begitu hijau, roda belakang kembali mulai mendorong
laju skubek. Geber gaya merunduk, harus berganti sigap. Jalur mirip Monaco
sepanjang sekitar 6 km ini melintasi 7 lampu merah.
KATA TESTER
Rebah meniru gaya Capirossi atau Alex Baros melibas tikungan terakhir
Istanbul Park-Turki, boleh *aja*. Tapi tentu punya batasan. Apalagi yang
digeber skubek. "Buat di Mio, menikung maksimal ada batasan," bilang H.
Indra, yang geber Mio.*[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21950','detail_images','616','450');>
*
Kalau sebatas mentok standar tengah, itu masih oke. "Kalau *diterusin* dan
pakai ban standar, bisa tergelincir. Karena bibir ban habis di posisi
rebah," bilang pria yang juga pembalap ini.
Dari kumpulan *skubekers*, banyak yang mengaplikasi *windshield*. "Buat main
kayak *gini*, saat dibawa rebah enggak terlalu masalah. Hanya kendala di
trek lurus. Apalagi ketika tembus lebih dari 80 km/jam. Setang terasa
goyang," ujar seorang peserta yang tidak mau namanya dikutip.
"Namun secara keseluruhan, menjajal lintasan Jakarta Night Race ini
menyenangkan. Adrenalin meningkat, hiburan malam tetap ada," kompak seluruh
*skubekers* yang ikut!
SAFETY TO RACE
*[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21951','detail_images','616','450');>
*Dari investigasi *Em-Plus*, banyak *riders* yang kurang didukung peranti *
safety*. Maksudnya, selain helm. Karena tak sedikit terlihat pakai sandal
saat berkendara. Kebayangkan jika terjadi sesuatu! Bisa kemana tuh ujung
kaki alias jari?
"Sebenarnya ini bukan ingin balap. Sekadar main habiskan malam dan sekaligus
memacu adrenalin," ungkap Dimas diiringi tawa juga canda dari
teman-temannya.
Mau balap atau enggak, tetapi saat berkendara *safety* jadi prioritas utama,
bos! Jangan sampai peranti pengaman tubuh, dilupakan!
MOTOR Plus merasakan pentingnya peranti ini. Sebisa mungkin kaca helm tetap
terpasang. Usahakan mengaplikasi kaca bening jangan kaca hitam! Karena
selain jalan lebih terlihat jelas, mata juga aman dari lontaran kerikil atau
debu berterbangan.
*
Wong *sudah pakai kaca helm saja masih merasakan lontaran batu kecil menusuk
kaca. Apalagi kalau enggak pakai.
HANDICAP
[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21952','detail_images','616','450');>Ini
benar-benar balap jalanan. Karenanya ada beberapa rintangan yanng bakal
dilalui. Jalur balap melewati jalur Busway di pertengahan Stasiun Gambir.
Bukan karena jalurnya yang memotong alias pertigaan, *lho*. Tetapi karena
ketinggian jalur Busway punya jarak berbeda dengan jalur biasa.
Spontan, banyak *riders* yang berdiri atau duduk kencang memegang setang
ketika menghajar perbedaan tinggi permukaan itu. Lepas dari jalur itu,
posisi badan kembali membungkuk.
Dengan kecepatan sekitar 80 km/jam, posisi skubek direbahkan di tikungan.
Asyiknya, tikungan ini berbentuk huruf S. Gaya rebah tekuk banting setang.
Tapi, lagi-lagi itu cuma ada di benak pikiran menjelang tikungan. Karena
ketika masuk di tikungan yang memang lebarnya lebih dari 6 meter itu, tak
sesuai harapan. Terasa sekali ban belakang bergeser.
Jalannya *bumpy* aspal enggak rata, makanya banyak yang masuk dari sisi
luar. Menjelang akhir tikungan S, seluruh *riders* meluapkan rasa senangnya.
*So*, tidak sedikit dari mereka yang rebah *Abiz* sampai mentok di standar
tengah hingga keluar bunga api. Saking senang, tak tahunya balap finish di
tikungan itu.
TEKNIK MODIF
Skubek yang tampil kudu ditunjang peranti mumpuni. Mulai dari karet hitam
bundar alias ban. "Anak-anak banyak yang mengganti ban Mio pakai punya
Vario," aku Petet yang mengaplikasi ban Honda Vario di Yamaha Mio 2006
miliknya. Alasannya, karena lebar karet bundar Vario lebih lebar. Dengan
begitu rebah pun bisa maksimal.[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21953','detail_images','616','450');>
Bagi yang mau lebih nyaman geber di tikungan, tidak sedikit juga yang ganti
ban *aftermarket* ukuran lebar.
"Kalau *gue* pilih pakai merek Swallow ukuran 120/70-14 buat depan dan
140/60-14 buat belakang," aku Ronny yang besut Honda Vario lansiran 2007.
Hasilnya, rebah abis sampai bibir ban pun kerap dilakukannya.
Nah, itu buat skubek yang memang aplikasi pelek 14. Lalu bagaimana dengan
skubek diameter pelek di atas 14 inci? "Sebelumnya sih pakai standar dan
coba pelek 17. Tapi setelah *gue* ganti pelek Mio, taunya menikungnya lebih
enak. Jadi, terus *gue* pakai *sampe* sekarang," jujur Penyok, penggeber
Yamaha Nouvo yang nama aslinya ogah disebut.
Biar nambah asyik besut di tikungan, enggak sedikit juga dari mereka yang *bore
up* pacuan. Seperti yang dilakukan Bayu, pada Yamaha Nouvo 2002-nya.
"*Gue*bore up pakai seher 53,5 mm dan
*roller* pakai 11 gram. Hasilnya, enak di tikungan juga *top speed*," bilang
pemuda yang mau dipanggil Kecap ini.
Gimana dengan suspensi? Tentunya buat rebah, peranti ini juga punya peran
penting. Berdasar pengalaman *Em-Plus* biar lebih enak nikung, mending
*sok*standar diganti pakai produk
*racing* yang punya redaman mumpuni. Mengingat banyak kondisi tikungan
dengan permukaan 'jerawatan'.
Enggak ketinggalan nih! Soal penerangan jalan malam hari alias lampu. Memang
masih banyak yang aplikasi lampu standar, tapi enggak sedikit yang ganti
bohlam Halogen atau HID.
"Lebih terang. Semua permukaan jalan lebih terlihat. Mau *ngembat* sisi luar
atau dalam lebih enak," aku Dimas yang menggunakan HID di Mio biru miliknya.
TUKANG KEBUT TEMPOE DOELOE
Fenomena balap seperti ini mengingatkan pada model kebut-kebutan zaman
dulu. Yakni era 70-80 an. Bedanya, dulu di wilayah Gajah Mada, Hayam Wuruk
dan sekitar kota.
"Bagusnya sih biar enggak berbahaya dan melanggar aturan, mustinya disikapi
dengan ide menggelar balap jalan raya. Banyak yang sudah sukses membuat
jalan raya dimanfaatkan jadi sirkuit balap resmi. Kayak Monaco dan Macai,"
jelas Nanang Gunawan, generasi ke-2, geng Pacinko.
Paul Gunawan, tokoh road race nasional dan petugas * scrut* beken berbagi
kisah soal fenomena kebut anak muda *tempo doeloe*. "Tahun 60-70 an
kebut-kebutan *udah* rame," bukanya.
Klub Pacinko di Utara Jakarta dan gengnya Saksono-Toddy Andries CS di
Selatan. "Mereka sering naik ke Puncak, Bogor dan *ngebut* di sana," jelas
Om Paul.
Geng Pacinko termasuk legendaris, mereka melahirkan klub jago kebut Jakarta
seperti Gamshi (Anak Muda Frustrasi) dengan dedengkot An An Kuda, MGZT
(Mangga Besar Anak Ibliz), Hanoman, Aligator atau Green Eagle.
Di daerah Bandung, geng kebut begitu tak kalah seru. Almarhum Om Alen
Suhendra Handayani, salah satu tokoh Harley Club Bandung pernah cerita,
mereka kerap ketemu anak Jakarta di Puncak dan adu kebut.
"Mereka rata-rara punya nyali lebih, kadang menantang kami *ngebut* dengan
copot rem belakang," kisah Eddy Winata Kusumah, yang sekarang jadi pengusaha
variasi di Kebon Jeruk, Kota, Jakarta Barat.
Kemungkinan mereka bertarung dengan para dedengkot Moonraker atau Dr De
Kills. Klub asal Bandung dulu ini kerap *nantangin *lawannya tanpa rem.
Dendengkotnya Teddy De Kills pernah menghebohkan Bandung dengan adu balap
Bandung-Pangandaran tanpa rem sekitar '80-an.
*Oh ya*, tokoh Monraker salah satunya Benny 'Baong' Pria Nursandi yang cukup
dikenal di kalangan balap road race Jawa Barat sampai saat ini.
KNALPOT COPOT
Aksi rombongan memakan korban dua buah knalpot. "*Nggak* tahu di mana
jatuhnya. Begitu keluar Kuningan knalpot gue jebol," kesal Penyok yang
nyemplak Yamaha Nouvo. Akibat masalah ini Penyok gagal beraksi maksimal
selama perjalanan.
Lain lagi cerita Doni. Pria yang buka bengkel cat ini baru sadar *end* *
muffler* Yamaha Mio-nya copot setelah putaran pertama. "Tahu-tahu tarikan
beda makanya di lap kedua kurang enak bawanya," kata warga Pondok Pinang,
Jakarta Selatan ini.
BUBAR WISATA KULINER
[image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21954','detail_images','616','450');>Melepas
lelah setelah adrenalin melonjak, ke-25 skubekers istirahat sejenak di
Monas. Sambil melihat pemandangan Istana Negara, beberapa pedagang kacang
rebus dan minuman menghampiri. "Wah... terasa capek. Haus lagi," ungkap
Dimas. [image: KLIK -
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=10204&imageid=21955','detail_images','616','450');>
Sambil menyeruput air mineral dan teh botol, debar jantung kembali
mendingin. Rasa lelah dan kantuk berganti. Seluruh kru sepakat bubaran...
--
--- This Is The Age Of The Ride Safe ---
B 6537 KCL <> InBike 026 <> KHCC 011
http://lampuhijau.wordpress.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike)
-----------------------------------------------------------------------------------------------
We moderators work for free only for your convenience in our milis.
Help us and obey the rules or be gone!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengirim ke milis email ke [email protected]
http://www.inbike.org
http://inbike-2006.fotopic.net
http://inbike.multiply.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---