it's the men behind the gun .. it's the rider behind the ride
stay ride safe .. make room to ride :-)

======================================
(
http://otomotifnet.com/otoweb/index.php?templet=otonews/Content/0/0/1/7/1820
)

Rabu, 01/10/08 05:52
Disiplin Berkendara
Motor Bukan Mesin Pembunuh!
------------------------------

*Sekarang* ini banyak yang menuding kalau motor biang kerok kematian di
jalan raya. Kata lainnya, motor nggak cuma alat transportasi tapi juga mesin
pembunuh nomor satu. Di waktu lalu, MOTOR Plus mengulas masalah ini.
Mendalaminya, kami ajak rembug Prof. Dr. Danang Parikesit, Senior Researcher
Transport Planning And Financing Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Beliau setuju jika motor sangat berbahaya dengan data-data. "Sebanyak 30
ribu orang tewas per tahun karena kecelakaan bermotor dan 70 persen atau
sekitar 21 ribu orang karena motor," ulasnya. Dari penelitiannya, Danang
menyimpulkan, sebab utama kecelakaan karena perilaku berkendara yang salah.
"Di samping kelaikan motornya sendiri," tegas pria yang menukangi Pusat
Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM ini.

Pak Prof memberikan kuncian dua hal yakni perilaku mengendara dan kelaikan
motor. Jadi bukan semata motor sendiri yang jadi pembunuh! Prof. Dr. Rahardi
Ramelan, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
mengungkapkan dalam makalahnya Ada Apa Di Jalan Raya Kita, yangf isi
mengenai keganjilan yang terjadi di jalan raya. Ia menekankan aspek disiplin
berlalu lintas yang lemah dari pengendara.

"Perilaku dari kebanyakan pengendara dan pengawas lalu lintas jauh dari
harapan. Etika yang jadi pegangan jauh ditinggalkan," tegasnya. Sebagai
tambahan yang nggak kalah penting, environment dalam aktivitas bermotorpun
perlu diperbaiki. Pemerintah sebagai penyelenggara negara menjadi titik
penting ikhwal masalah ini.

"Masalahnya motor adalah benda terkecil di jalan raya. Saat terjadi
kecelakaan, otomotis kemungkinan kematian atau cedera fatal ya motor,"
gambar Joel Deksa Mastana, Chief Instructor, Motorider Safety. Jusri
Pulubuhu Director Training Jakarta Defensive driving Consulting (JDDC) ambil
peran. "Ada 4 faktor penting yang membuat motor bahaya dan nggak bisa
dilihat sepotong-sepotong! Kebijakan, penegakan hukum, infrastruktur dan
pendidikan," seriusnya.

*Tanpa helm jika jatuh emang mematikan*

Dari gambaran tadi, 'Pembunuhan' yang melibatkan motor tadi disebabkan
faktor internal dan eksternal. Di sisi internal, pendidikan keselamatan
berkendara dan kesadaran pemakai jalan memang masih rendah. Diakui, pengguna
motor sering berperilaku tak ideal di jalan. Dari pengamatan sehari-hari,
MOTOR Plus mencatat beberapa perilaku tak safety seperti zig-zag (bergerak
tak konstan kanan-kiri tak beraturan, unskillful (skill rendah dalam
berkendara), kamikaze (terlalu berani ngadu seperti ingin bunuh diri) dan
banyak lagi.

Jenis riders seperti ini banyak di jalanan. Ironisnya, saat terjadi benturan
di jalanan, merekalah yang paling fatal akibatnya. Sisi ekstern 'pembunuhan'
yang dilakoni motor tentunya pada 'lawan' di jalanan khususnya mobil.
Pengguna jalanan ini sama tak patutnya di jalanan.

Lihat mobilis angkot yang berhenti sembarangan, supir bus dan truk di luar
kota terutama Pantura yang 'mengintimidasi' pengendara dan menganggap mereka
hanyalah penganggu perjalanan. Padahal mereka seharusnya tahu kesamaan hak
di jalanan karena sama-sama membayar pajak.

*MEKANISME PENERBITAN SIM HARUS DITERAPKAN SERIUS *
Coba perhatikan brosur mekanisme penerbitan SIM dari markas besar Kepolisian
Negara Republik Indonesia, Direktorat Lalu Lintas. Di situ tertera syarat
memiliki SIM yakni KTP/Passpor, Kesehatan dan Ijazah/Sertifikat Sekolah
Mengemudi.

Nah, yang terakhir ini hampir mirip dengan sertifikat safety riding. Makin
sip, ada hukum yang melindungi hal ini. Simak peraturan pasal 230 PP No.
44/93. Di situ dijelaskan bahwa SIM tak berlaku jika perolehannya dengan
cara tidak sah alias tidak dilengkapi syarat di atas. Dengan kata lain,
polisi berhak menganggap SIM tak sah jika pemilik tidak memiliki
ijazah-sertifikat mengemudi.

Pada kesempatan lain, Direktur Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia,
Brigjen Yudi Sushariyanto pernah mengatakan, pihaknya belum akan menerapkan
sertifikat safety riding dalam pengambilan SIM.

Iwan Fals pernah ngomong ke Em-Plus kalau kekacauan jalan bisa diatasi
dengan cara memperbaiki sitem atau proses pembuatan SIM. Terserah mau itu
SIM A (mobil) atau SIM C (motor). "Itu benar berjalan, lalu lintas pasti
nyaman," kata bang Iwan yang rambut putihnya sudah mulai banyak itu. *

Penulis/Foto:Isfan/HerryAxl (Motor Plus) *

-- 
<Redd Cyser B 6193 KPL>
REDUCE SPEED, MAKE WAYS FOR SAFETY  !
http://www.jalanraya.net/
http://gueandry.blogspot.com/
http://redd.dagdigdug.com/
----------------------------------------------

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike)
-----------------------------------------------------------------------------------------------
We moderators work for free only for your convenience in our milis.
Help us and obey the rules or be gone!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengirim ke milis email ke [email protected]
http://www.inbike.org
http://inbike-2006.fotopic.net
http://inbike.multiply.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke