riz aircooled wrote:
> Pemindahan awan dilakukan bisa untuk menghindari banjir atau sebagai
> senjata pemusnah massal (weather control). Untuk daerah kekeringan
> diperlukan pembuatan awan hujan yg prinsipnya kalau mampu kita mampu
> membuat alat yg mampu memindahkan awan hujan/badai maka seharusnya
> dgn reaksi yg sama bisa membuat kumpulan awan hujan/badai hal inilah
> yg mendasari alasan digunakan sebagai senjata.
> 
> Hujan buatan dimungkinkan bila unsur awan bermuatan air cukup banyak
> dan kelembaman yg terjadi memungkinkan, jadi istilah hujan buatan
> sebenarnya sifatnya hanya sebagai triger saja. Seperti sebuah pistol
> kalau bubuk mesiunya lembab atau basah biar pelatuknya jalan tetap
> saja tdk terjadi ledakan. Bukankah kebakaran hutan dpt dicegah kalau
> hujan buatan mampu dibuat..? Tapi kenyataannya seberapa besar
> pemerintah kita mengupayakan hujan buatan tetap tidak terbentuk di
> kalimantan dan Sumatera saat musim kering lalu, sampai akhirnya
> menyewa kapal terbang pembawa air milik Rusia utk memadamkan
> kebakaran.

memang betul. hujan buatan memang tidak bisa dilakukan kalau tidak ada
awan atau awannya hanya tipis saja. bisa diduga yg terjadi di Kalimantan
atau Sumatera adalah seperti itu, kekurangan awan untuk memicu hujan buatan.

> 
> Kita tidak/belum mampu memecah awan hujan yg pekat seperti terjadi
> saat ini di sekitar perairan Indonesia. Sebab membawa unsur triger
> tersebut sendiri sdh mengandung unsur resiko besar. Kalau tidak salah
> Amerika juga pernah coba memecahkan badai dgn menembakkan roket hujan
> buatan tapi yg terjadi tidak mampu mengurangi/tdk berpengaruh dlm
> terbentuknya badai. Kalau saat ini kita sdh mampu membuyarkan
> teknologi membuyarkan awan pekat maka sebenarnya kita tidak perlu
> takut lagi dgn badai/hujan yg menyebabkan bencana, tapi kenyataan yg
> ada pihak BMG yg notabene mengetahui teknologi itupun hanya mapu
> mengeluarkan warning begitu juga dgn LAPAN.
> 
> Herdi
> 

kalau karena keterbatasan belum mampu dilakukan, bukan berarti teknologi
itu tidak kita miliki. memang harus diakui, ada skala tertentu dari
volume awan yg dapat dibuyarkan oleh peralatan yg dimiliki. selain
tergantung dari volume skala awan itu, penerapan cara membuyarkan awan
ini juga saya rasa masih tergantung dari kondisi-kondisi cuaca yg
mendukung. yang ada aja sekarang, ramalan-ramalan cuaca masih banyak
melesetnya daripada benar. jadi memang betul ada unsur risiko yg besar
pula di sini selain yg sudah disebut di atas. Amerika saja masih bisa
gagal seperti contoh di atas. tidak aneh kalau lembaga2 kita itu lebih
takut pada risiko gagal tersebut. belum lagi kalau menimbang faktor
biaya yg juga cukup tinggi untuk penerapannya.

[ãndré]


Kirim email ke