Salam Sejahtera... Pada Selasa, 5 Maret 2007, warbird692001 menulis:
> Sharif, judging ourselves is as easy as judging others. Because being > human is basically being selfish, everything is about ourselves. Me, > myself, my family, my house, my career, my etc, my etc. Unlike other > mammals, humans are individualists. Moya sistra Indie, ya yescho nye znayo. Ya plokho ponimayo po angliskiy, posmotritye... Sesuai dengan yang pernah Anda sampaikan, berujar dalam Bahasa Inggris lebih mengena bagi Anda, karena kosakata yang dimilikinya dianggap lebih pas dibandingkan ketika berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, saya bisa menerimanya. Namun berbeda dengan saya, yang lebih merasa nyaman berbahasa nenek moyang...yang dengan keras kepala mempelajari bahasa rumpun Slavia. > So if you ask me if it's good to become the judge to ourselves, my > answer will be: we have been the judge to ourselves for millenia. It's > not good and it's not bad either. It's what we instinctively do. > Example: you judge yourself a sexyst, thus it gives you the right to > judge Hoshi and other women for their choices. Kita tidak bisa memukul rata segala sesuatu, dengan cara menempatkan diri sebagai wakil atau sebaliknya menempatkan orang lain pada kedudukan itu. Kemanusiaan ada dan -sampai dengan saat ini- masih ada karena ada nilai-nilai yang ditemukan, diciptakan, dijaga dan diperbarui. Bahkan hewan dan tetumbuhan pun memiliki nilai-nilai naluriah, yang menyebabkan mereka bisa bertahan sampai dengan saat ini. Bakteri dan ganggang adalah bukti bahwa pada ukuran yang -jauh- lebih besar ternyata hal itu terjadi, yaitu alam semesta. Saya memberikan penilaian berdasarkan parameter yang ada dalam benak, yang dibentuk oleh entah berapa triliun masukan selama keberadaan saya di alam ini. Demikian juga Anda dan siapa pun atau apa pun yang ada di alam ini, "the adaptive beings". Penilaian biasanya didasarkan pada hal itu, sehingga tidak dpat secara sederhana dipilah sebagai Benar dan Tidak Benar saja. > I have a question: > Can you be the jury and the executioner to yourself? Juri dalam ranah Anglo-Saxon ? Kita hidup dalam sistem Kontinental, sehingga pernyataan Anda tidak dapat saya tanggapi. Kedua sistem hukum ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. > Humans made mistakes. That we all know. > Accepting that fact is not important. > The important thing is how to learn from those mistakes. Bukankah saya sudah menyampaikan itu, yang antara lain saya dapatkan dari ST ? Menerima dan Belajar merupakan satu kesatuan. Keduanya pun tidak dapat dipaksakan pada orang lain, karena itu berkaitan dengan banyak hal, di antaranya tingkat kematangan jiwa. Pencapaian tingkat kematangan itu berhubungan tidak linear dengan usia biologis, sehingga 2 orang yang seusia belum tentu sama kematangannya. Saya yang -mungkin- lebih tua dibandingkan Anda belum tentu sematang Anda, demikian juga ketika saya ditandingkan dengan -misalnya- Angel Lelga... > Being a judge doesn't qualify us to learn from the mistakes we made, > but being a defendant is. It is not fair to pick out just one thing > and left out the others.. it will be too convenient. Truth is, we've > been conveniently living as judges. Menurut saya, yang penting bukan Benar atau Tidak Benarnya, melainkan apa yang kita lakukan mengenai itu. Kumbakarna gugur bukan karena ia membela Rahwana melainkan karena ia membela Alengkadireja, tanah airnya. > I'm not saying this is easy, but the best way to improve the quality > of humanity is not to be a judge, jury or executioner to ourselves. > Let others be the judge, jury and executioner, and let ourselves be > the defendants. Pernyataan Anda berdasarkan perjalanan batiniah Anda. Saya tidak akan memberikan penilaian mengenai itu, kecuali -merujuk Mark Twain- membela kebebasan Anda untuk berpendapat walau saya mungkin tidak sependapat. Hal seperti ini pernah dilakukan Spock ketika Kirk dianggap tidak layak memimpin dan membahayakan Enterprise. Sharif Dayan
