Sulit agar gw tidak nimbrung di topik ini, soale  gw baru baca komik
non fiksi "non-komunikasi" karya Larry Gonick (yg telah menghasilkan
best seller komik non fiksi: "Sejarah Peradaban")

Manusia punya "mekanisme menolak" pemikiran yg tidak bisa diterima dan
tidak nyaman, walaupun sesuatu yg logis.  

Dan akhirnya menghasilkan padangan2 stereotype kepada hal-hal yg tdk
lazim. Bentuk penolakan dari yg sangat kasar (baca: sadis) hingga yg
halus (joke, becandaan).

Subject posting ini tepat sekali "Bijak dalam berdiskusi", ditambah, 
kita hanya kenal terhadap member ini melalui on-line (maya), dan tidak
tahu secara dekat bagaimana latar belakang dan jalan hidup masing
masing member (280-an member). Alih-alih, dng becandaan yg bersifat
'stereotype' bisa jadi sudah dianggap suatu 'serangan ke privasi'
orang di-becanda-in.

/iful

--- In [email protected], "Ario Wirawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Jujur sejujur-jujurnya, gue nggak ada niat "menegur" siapa pun lho dalam
> e-mail sebelum ini. Semoga "terbaca" cukup jelas dalam penuturan gue di
> e-mail sebelum ini. Gue sangat paham bahwa tidak ada satu pun member
yang
> ingin dengan sengaja menyinggung member lain. Semua ini cuma bagian dari
> becandaan kita aja. Jangan sampai semangat berdiskusi kita jadi kendor
> gara-gara ini.
> 
>  
> 
> Mungkin intinya gue cuma ngangkat issue yang disampaikan Ivan (kalo
nggak
> salah) dengan sederhana tapi sangat jelas: "Kalo ada yang tersinggung,
> ngacung aja. Kita pasti stop kok." :-D
> 
>  
> 
> Ario
> 
>  
> 
>   _____  
> 
> From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
> On Behalf Of Erianto Rachman
> 
> 
> 
>  
> 
> Ario cukup sensitive dan bijak.
> 
> Saya setuju.
> 
> Harap teman2 semua memperhatikan dengan bisak semua email yang
dikirim dan
> diterima.
> 
> Kita tidak ingin lagi seru2-nya begini tau2 ada yang tersinggung
tanpa kita
> sengaja maupun kita sadari.
> 
> Salam,
> 
> Eri
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke