Ya, ini juga salah satu perspektif gw yang secara tidak sadar timbul,
yaitu menganggap segala sesuatu yang berasal dari luar negeri lebih
"advanced" dan budaya asli kita "terbelakang". kalau menurut pelajaran
sejarah, tidak ada budaya asli yang lebih baik dari budaya lain.
masing-masing unique.

kalau masalah selera, mungkin benar juga kalau selera dipengaruhi
keterbatasan ekonomi. seorang anak yang dari kecil sampai besar cuma
punya akses ke film nasional, ya mau tidak mau seleranya cenderung ke
arah situ.

gw akui pernah menganggap orang yang lebih suka mistik sebagai
"terbelakang". tapi rasanya tidak adil juga kalau gw mengabaikan
faktor2 ekonomi mereka. karena memang mereka tidak punya banyak
pilihan dalam hiburan.

Salam,
J

--- In [email protected], "warbird692001"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Apakah selera yang sama dengan penonton American atau European
> dikatagorikan lebih 'advanced'?
> 
> Dan selera yang asli indonesia lantas dianggap 'terbelakang'?
> 
> Gue gak setuju.
> 
> science fiction kan bukan budaya indonesia, yang of course hanya bisa
> dinikmati oleh mereka yang punya akses saja. 
> 
> Beda dengan sinetron cinta dan mistis, itu asli indonesia yang akses
> nya bisa menjangkau pelosok2 negri ini. 
> 
> Gak usah lewat tv deh. Di daerah terpencil yang gak ada tv, hiburan
> rakyat adalah lewat tarian, nyanyian, wayang, atau ritual daerah yang
> kental dengan myths dan mystic. Gue bukan sombong, tapi gue sudah
> sering adventure keluar masuk pelosok kampung di Indonesia. Ritual
> mistis adalah akar budaya yang paling kuno di negri ini bahkan sebelum
> agama Hindu masuk. Walaupun disini kita punya akses ke negara lain
> dengan alat2 canggih, banyak saudara2 kita yang akses ke luar kampung
> nya saja mesti pakai tenaga nasi (alias jalan kaki). 
> 
> Tidak sophisticated? sudah pasti, karena mereka tidak punya akses pada
> teknologi... jangankan internet, kadang2 PLN juga hanya menyala
> setelah maghrib dan jam 7 pagi sudah dimatikan. Itupun jaringan lama
> yang 110 Volt, bukan yang standard di kota besar 220 Volt. Telephone
> hanya ada di pesantren terdekat. 
> 
> Apakah, selera orang2 semacam ini lantas dianggap 'terbelakang' karena
> gak ngerti sci-fi? Dianggap tidak mengerti akal sehat?
>  
> I don't think so. Mungkin sebelum memberikan judgement lebih baik
> menengok dulu ke daerah2 lain yang bukan kota tujuan wisatawan atau
> bisnis... yang in fact adalah majority in Indonesia. Kalau bisa, coba
> tengok di luar pulau jawa deh. 
> 
> Gak usah jauh2 deh. Contoh konkret aja STARGATE. Film seri ini sangat
> besar di USA dan Canada, disusul di Eropa. Tapi Indonesia tidak punya
> akses untuk film2 buatan Canada. Di Kabel tidak ada, bajakan juga
> tidak ada. Kalau dihitung di mail list ini aja, yang nonton SG secara
> regular sejak season 1-10.. gak sampai 5 orang. Yang baru dengar
> tentang SG juga banyak... Gaung yang sebegitu besar, buktinya gak
> kedengaran di Indonesia koq.  
> 
> Salam,
> Indie
> 
> --- In [email protected], Eka Budhiman <ekabudhiman@>
> wrote:
> >
> > Setuju juga,
> > 
> > Orang Indo kebanyakan ngak suka sci fi, masih agak
> > "terbelakang" dalam selera kalo menurut gua.
> > Makanya acara kayak "pemburu hantu" dan sinetron2
> > kacangan ttg cinta, mistis, dll laku kayak kacang
> > goreng.
> > 
> > Society kita ngak terlalu sophisticate dalam hal ini.
> > Ada juga tapi presentasenya kecil sekali.
> > 
> > Contohnya dari seluruh rakyat kita, berapa persen
> > orang yg suka "Trio Macan" dibanding "Il Divo"?
> > 
> > There you have it....
> >
>


Kirim email ke