---------- Forwarded message ----------
From: Artu Ditu <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/4/2
Subject: [diskusi-autis] Menyelamatkan Pernikahan (Bagian #04 dari $1#)
To: [EMAIL PROTECTED]


  Cara Menyelamatkan Pernikahan (Bagian #03 dari #41)

Insting dan Kebiasaan

Umumnya orang berpikir bahwa mereka mempunyai kendali pada perilaku mereka.
Mereka pikir bahwa apa-apa yang mereka lakukan adalah hasil pilihan mereka.
Tetapi ternyata hal ini berbeda dari banyak hasil penelitian dan percobaan
dalam membantu orang merubah perilaku mereka. Kemudian diiketahui bahwa
umumnya apa-apa yang orang kerjakan dikendalikan oleh insting dan kebiasaan,
yang merupakan perilaku yang terjadi dengan sendirinya (otomatis) dan hampir
terjadi begitu saja (tanpa perlu suatu usaha/upaya).

Sehingga jika kita ingin melakukan deposit pada Bank Cinta dan menghindari
penarikan, maka perlu sangat memperhatikan tentang insting dan kebiasaan.
Sebab jika kita tidak mencoba mengendalikan mereka, maka merekalah yang akan
mengendalikan kita dan menghancurkan cinta yang dimiliki satu-sama-lain.

Kita dilahirkan dengan insting untuk membantu kita bertahan hidup. Insting
adalah sumber dari perilaku, yang tidak perlu "dipelajari", mereka terjadi
dalam bentuk lengkap pada saat pertama kali terpicu. Terlihat jelas bahwa
bayi-bayi memiliki berbagai insting yaitu mereka mengerjakan banyak hal yang
sama, seperti mengisap ibu jari yang tidak pernah mereka pelajari
sebelumnya. Setelah dewasa, sebenarnya kitapun memiliki lebih banyak
perilaku instingtif dibanding yang kita sadari, dan banyak dari perilaku ini
akan merupakan sebab suatu pernikahan berhasil atau gagal.

Kebiasaan merupakan hal yang berbeda dari insting, karena mereka
"dipelajari". Kebiasan terbentuk oleh praktek, dan tanpa praktek, sebagai
contoh, kita tidak akan pernah langsung bisa langsung ke komputer dan
mengetik 90 kata per menit. Kebiasaan adalah suatu perilaku yang dilakukan
berulang-ulang sehingga menjadi otomatis dan hampir tidak perlu usaha besar
lagi untuk melakukannya. Dan jika terdapat suatu keadaan tertentu saat
perilaku tersebut dipelajari (misalnya suatu ruangan), maka akhirnya
keadaan-keadaan tersebut akan cenderung memicu suatu kebiasaan atau
mempermudah terjadinya kebiasaan tersebut.

Bahkan kemampuan sosial kompleks merupakan kebiasaan yang "dipelajari"
dengan pengulangan. Percakapan, sebagai contoh, akan membaik dengan praktek
yang sungguh-sungguh, seperti juga halnya dengan kasih sayang, kekaguman,
dan bahkan kejujuran.

Jika kita harus memikirkan terlebih dahulu untuk melakukan setiap kegiatan
kita sehari-hari, maka otak kita akan harus sebesar gudang. Maka untuk
menghemat ruang otak, beberapa perilaku disimpan sebagai insting, sementara
perilaku lain disimpan sebagai kebiasaan. Jika suatu perilaku tertentu
terpanggil, kita dapat dengan secara otomatis langsung mengulang apa yang
tersimpan dengan segera, tanpa perlu menciptakannya lagi dari awal. Dengan
demikian kita tidak perlu lagi memikirkan setiap respons yang diperlukan
sepanjang kegiatan sehari-hari, cukup dengan memicu suatu insting atau
kebiasaan yang tersimpan dalam otak kita. Pada saat kita beranjak setengah
baya, maka terdapat sedemikian banyak perilaku kita yang seperti
dikendalikan oleh autopilot, yang merupakan hasil bentukan dari
kebiasaan-kebiasaan yang kita dapat sehari-hari. Karena itulah perilaku
orang-orang tua biasanya cukup dapat diperkirakan.

Insting-insting sering membantu terjadinya perilaku-perilaku. Letupan
kemarahan merupakan contoh yang baik. Sering kita lihat letupan kemarahan
pada bayi baru lahir, dan tentunya dapat dipastikan bahwa tidak perlu ada
pembelajaran terlebih dahulu agar perilaku tersebut terjadi. Dan ketika
seorang anak bertumbuh, dengan cara bagaimana suatu kemarahan ditumpahkan,
akan menjadi lebih canggih. Tetapi bukannya insting yang menjadi canggih,
hal ini karena kebiasaan letupan kemarahanlah yang mengalami perkembangan,
yang didukung oleh insting, yang membuatnya menjadi canggih. Pada
pernikahan, satu dari perilaku-perilaku yang paling merusak adalah
letupan-letupan kemarahan, dimana kita secara sadar mencoba menyakiti
pasangan kita, sehingga menyebabkan terjadinya penarikan-penarikan yang
sangat besar pada rekening Bank Cinta. Tetapi hal ini merupakan sesuatu yang
kita lakukan secara alami, inilah instingtif.

Insting-insting dan perilaku-perilaku, seperti letupan-letupan kemarahan,
seringnya tidak tepat. Mereka mungkin tercipta sebagai cara pemecahan dari
suatu masalah-masalah tertentu sebelum-sebelumnya, tetapi banyak dari hal
tersebut tidak cocok dengan masalah-masalah lain yang memicu mereka di
kemudian hari. Inilah saat dimana kecerdasan kita berguna. Kita dapat
benar-benar menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu saat kita menyadari
bahwa hal-hal tersebut tidak efektif dalam memecahkan masalah-masalah
tertentu, dan kita dapat menggantinya dengan perilaku-perilaku yang efektif.

Kita dapat merubah insting-insting kita, atau kita juga dapat memintaskan
hubungan cara pendekatan mereka dengan suatu masalah. Jika kita memiliki
suatu insting yang memiliki letupan-letupan kemarahan, tidak berarti bahwa
kita harus benar-benar memilikinya. Kita dapat menciptakan perilaku-perilaku
baru yang mencegah kita dari kehilangan kesabaran. Memang perilaku-perilaku
buruk sulit diganti dengan perilaku-perilaku baik, terutama jika mereka
dikendalikan oleh insting, tapi hal ini bukan tidak dapat dilakukan. Dan,
pada pernikahan, hal ini harus dilakukan jika kita ingin pernikahan
berhasil.

Pada penelitian tentang apa yang diperlukan untuk membangun
rekening-rekening Bank Cinta, diketahui bahwa kebiasaan-kebiasaan merupakan
hal yang lebih penting diperhitungkan daripada masalah perilaku yang berdiri
sendiri. Perilaku-perilaku yang melakukan deposit unit-unit cinta
menyebabkan saldo Bank Cinta yang sangat besar karena mereka diulang-ulangi
hampir tanpa upaya besar. Sebaliknya perilaku yang berdiri sendiri sering
tidak berefek sedemikian banyak pada Bank Cinta. Dengan cara yang sama,
perilaku-perilaku yang menyebabkan penarikan unit-unit cinta cenderung
menghancurkan saldo Bank Cinta karena mereka juga terulang-ulang tanpa perlu
upaya besar.

Sehingga suami-istri perlu didorong agar memiliki perilaku untuk melakukan
apapun supaya membuat senang satu-sama-lain (menyetor unit-unit cinta), dan
menghindari kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkan satu-sama-lain tidak senang
(penarikan unit-unit cinta). Kesepakatan sederhana cukup baik sebagai awal.
Tetapi saldo Bank Cinta hanya berubah menjadi lebih baik jika kesepakatan
tersebut mengarahkan suami-istri untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru.

Konsep-konsep dasar berikutnya akan membantu memperlihatkan bagaimana cara
membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan menciptakan dan mempertahankan
kecintaan satu-sama-lain. Konsep berikutnya akan membantu kita membentuk
kebiasaan-kebiasaan untuk membangun saldo Bank Cinta.

.....[bersambung].....

Berikutnya : Kebutuhan-kebutuhan emosional yang paling penting.

[Non-text portions of this message have been removed]

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke