---------- Forwarded message ----------
From: Artu Ditu <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/4/1
Subject: [diskusi-autis] Menyelamatkan Pernikahan (Bagian #02 dari #41):
Bank Cinta
To: [EMAIL PROTECTED]


  Cara Menyelamatkan Pernikahan (Bagian #02 dari #41)

Bank Cinta

Di dalam diri kita terdapat Bank Cinta dengan rekening-rekening atas nama
semua orang yang kita kenal. Jika orang-orang tersebut dikaitkan dengan
perasaan menyenangkan, "unit-unit cinta" ditambahkan pada rekening-rekening
mereka, tetapi jika dikaitkan dengan perasaan tidak enak, maka unit-unit
cinta diambil/dikurangkan. Secara emosi, kita tertarik pada orang-orang
dengan neraca positif dan tidak suka pada mereka yang dengan neraca negatif.
Inilah bagaimana emosi kita mendorong kita untuk ingin selalu bersama dengan
orang-orang yang tampaknya memperlakukan kita dengan baik, dan menghindari
mereka yang tampaknya menyakiti kita.

Reaksi-reaksi emosional kita terhadap berbagai orang, apakah tertarik atau
tidak suka, bukan suatu pilihan. Kita tidak melakukan pilihan, tetapi
neraca-neraca Bank Cinta kitalah yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
Kalau tidak percaya, cobalah untuk merasa tertarik pada mereka yang
dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman buruk kita, pastilah tidak mungkin
dapat terjadi. Atau cobalah untuk merasa membenci mereka yang dikaitkan
dengan perasaan sangat menyenangkan. Kita tidak memutuskan siapa yang akan
kita sukai dan siapa yang tidak kita sukai, karena hal tersebut terkait
dengan perasaan-perasaan kita, yaitu apakah mereka melakukan deposit-deposit
atau pengambilan-pengambilan, hal tersebutlah yang menentukan reaksi-reaksi
emosional kita terhadap mereka.

Kita dengan sendirinya akan menyukai mereka dengan neraca Bank Cinta
positif, dan tidak menyukai mereka dengan neraca negatif. Kemudian jika
suatu rekening mencapai suatu ambang batas tertentu, maka terpiculah suatu
reaksi emosi yang khusus, yaitu cinta. Kita tidak lagi hanya menyukai orang
tersebut, tapi kita jatuh cinta padanya. Ini merupakan perasaan ketertarikan
yang luar biasa terhadap lawan jenis.

Perasaan cinta adalah cara emosi kita untuk mendorong kita menghabiskan
banyak waktu dengan seseorang yang memperlakukan kita dengan baik, yaitu
seseorang yang dengan efektif membuat kita senang dan mengetahui bagaimana
menghindari kita menjadi tidak senang. Kita pasti akan ingin menghabiskan
waktu dengan orang yang kita sukai dengan terdapatnya suatu perasaan yang
kita sebut cinta, yaitu emosi yang memberi kita motivasi/dorongan. Bahkan
kita tidak hanya ingin bersama orang tersebut, tetapi juga mengidamkannya.
Saat kita bersamanya kita merasa lengkap, dan saat kita terpisah rasanya
seperti ada yang kurang. Maka perasaan cinta tidak hanya efektif dalam
membuat orang-orang bersama-sama untuk suatu jangka waktu yang banyak,
tetapi juga mendorong kita untuk menghabiskan seluruh waktu kita untuk hidup
bersama dalam suatu pernikahan.

Tetapi emosi kita memberi lebih dari perasaan cinta. Jika emosi kita
mengidentifikasi seseorang yang membuat kita senang, hal itu juga memotivasi
kita untuk membalas supaya orang tersebut senang. Sehingga sepertinya tanpa
perlu upaya, kita akan melakukan berbagai hal agar menjadikan kita sangat
senang. Apakah kita pernah memperhatikan bahwa ketika kita jatuh cinta,
tampaknya kita secara tidak sadar jadi penuh kasih sayang, penuh pengertian,
penuh kekaguman dan ingin "bercinta"? Hal ini karena emosi kita ingin
mempertahankan orang tersebut tetap berada dekat kita, karena itu maka hal
tersebut menggerakkan kita agar membuat orang yang bersangkutan bahagia,
yang jika efektif, juga akan memicu perasaan cintanya pada kita. Pandangan
penuh cinta tidak hanya mengkomunikasikan perasaan cinta kita pada
seseorang, tetapi juga mencerminkan insting kita untuk melakukan apa saja
agar orang tersebut menjadi bahagia.

Ketika seorang pria dan wanita keduanya jatuh cinta, emosi mereka mendorong
mereka untuk membuat satu-sama lain bahagia seumur hidup. Bahkan lintasan
pikiran untuk menghabiskan sisa umur secara terpisah biasanya menimbulkan
ketakutan. Seolah-olah bagi mereka bahwa mereka diciptakan untuk
bersama-sama selamanya. Pada umumnya kasus, pria dan wanita menikah karena
mereka jatuh cinta, dan mereka jatuh cinta karena neraca Bank Cinta mereka
berada di atas ambang batas romantik cinta.

Tetapi apa-apa yang naik juga dapat turun, tidak terkecuali juga dengan
neraca bank cinta. Umumnya suami-istri akhirnya mengetahui bahwa perasaan
romantik cinta adalah lebih rapuh dibandingkan dengan apa yang mereka kira
sebelumnya. Dan jika neraca Bank Cinta merosot di bawah ambang batas
romantik cinta, suami-istri tidak hanya kehilangan perasaan mereka terhadap
hasrat satu sama lain, tetapi mereka juga kehilangan insting untuk membuat
bahagia satu sama lain. Apa yang tadinya tidak perlu usaha besar untuk
melakukan sesuatu, sekarang berubah menjadi sulit/berat dilakukan, bahkan
terjadi keengganan/penolakan. Bukannya pandangan cinta yang timbul, tetapi
pasangan jadi mempunyai pandangan apati. Dan tanpa cinta, suami-istri tidak
lagi ingin menghabiskan hidup mereka bersama-sama lagi. Malahan mereka mulai
berpikir untuk bercerai, atau paling tidak hidup terpisah satu sama lain.

Maka menjadi jelaslah bagi kita sekarang bahwa Bank Cinta merupakan suatu
konsep yang teramat sangat penting sekali dalam pernikahan. Jika kita ingin
insting dan emosi kita mendukung pernikahan kita maka kita harus menjaga
rekening Bank Cinta kita berada di atas ambang batas romantik cinta. Tetapi
bagaimana kita dapat mempertahankan neraca tersebut sedemikian tinggi? Dan
apa yang dapat kita perbuat jika telah terjadi penurunan sampai di bawah
ambang batas tersebut?

Memang sulit untuk memahami jawaban pertanyaan tersebut, karena mereka
merupakan kunci untuk menyelamatkan pernikahan-pernikahan. Tanpa cinta,
suami istri sangat tidak termotivasi untuk mempertahankan pernikahan mereka,
tetapi dengan mengembalikan cinta dan insting yang terkait untuk
menghabiskan hidup dengan bersama, ancaman perceraian akan teratasi.
Pernikahan terselamatkan jika cinta telah bersemi kembali.

Konsep-konsep dasar selanjutnya akan membantu kita dalam memahami jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Tetapi prinsip umum
sederhanyanya adalah: Jika suami-istri ingin memiliki suatu pernikahan yang
bahagia, mereka harus membuat deposit sebanyak-banyaknya pada Bank Cinta dan
menghindari pengambilan. Untuk mencapai hal ini, harus dilakukan perubahan
perilaku. Seorang suami dan istri harus belajar bagaimana membuat
satu-sama-lain senang, dan bagaimana menghentikan perbuatan yang
mengakibatkan satu-sama-lain tidak senang.

Konsep berikut akan membantu kita mengerti tentang mengapa kita berperilaku
demikian dan apa yang dapat kita kerjakan untuk merubah perilaku kita.

.....[bersambung].....

Konsep berikut : Insting dan Kebiasaan

[Non-text portions of this message have been removed]

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke