Sahabat-sahabat, bukannya membela siapa pun. Tetapi menghina sesuatu dengan 
alasan stereotyping bukanlah tindakan yang bijaksana, menurut saya pribadi. 
Hina dan bantailah apa pun, kalau memang sudah terbukti jelek. Setidaknya 
menurut Anda sudah terbukti jelek.

Kalaupun misalnya suatu sinopsis membuat Anda ilfil untuk menonton film 
tersebut, ya tidak usah ditonton. Tetapi jika berkenan, tidak perlulah kita 
menghina suatu film berdasarkan "riwayat" atau "sejarah" dan "sinopsis". Film 
itu fungsinya untuk ditonton. Kalau sudah nonton Anda ingin menghina dan 
mencaci maki film tersebut, dipersilakan.

Apakah Anda pernah nonton Neraca Kasih atau Kembang Kertas? Sejarah film 
Indonesia juga tidak memastikan film Indonesia pasti jelek kok. Memang film 
Indonesia banyak yang jelek, tetapi yang bagus juga tidak sedikit (setidaknya 
pada masa-masa tertentu). Lalu saya dengar promosi film Indonesia Pintu 
Terlarang yang sepertinya bagus dan membuat saya tertarik untuk menontonnya. 
Mungkin saja film itu juga jelek, tetapi saya akan menontonnya dulu sebelum 
menghinanya (jika pada akhirnya saya memutuskan untuk menghinanya). Tetapi 
siapa tahu saya akan dapat surprise dan ternyata film ini sebagus promosinya? 
Senang kan?

Anggaplah film Glitch ini sebagai jembatan penghubung. Setidaknya ada yang 
berani keluar dari genre horror dan beralih ke science fiction (whatever kind 
of science fiction it may be, setidaknya arahnya atau nuansanya sudah ke sana). 
Seandainya memang benar film itu jelek, ya setidaknya sudah ada yan berani 
membuat. Kalau cukup banyak yang nonton, mungkin produsernya berani buat lagi, 
mungkin dengan budget yang lebih besar, dengan pemilihan skenario yang lebih 
hati-hati. Apa pun lah. Tapi kalau memang usahanya didukung, kemungkinan untuk 
terjadi perbaikan menjadi ada. Kalau dari sinopsis saja sudah dihina, kapan 
Indonesia akan punya film science fiction yang bagus?

Justru seharusnya dari kitalah, para penggemar science fiction, sebagian besar 
dukungan ini berasal. Kalau saya menyikapi film ini sih, saya akan menontonnya. 
Lalu setelah itu baru saya hina dan caci maki, jika memang perlu dan dirasa 
layak melakukan itu. Atau saya puji, jika dirasa layak untuk dipuji. Tapi satu 
hal yang pasti (setidaknya insya Allah) saya akan menontonnya.

Kalau dulu kita pernah bertanya "Kapan ya Indonesia bisa bikin film Star Trek?" 
maka jawabannya tepat ada di sini. Kalau pembuka jalannya tidak didukung, kapan 
film (sekualitas) Star Trek-nya bisa jadi kenyataan?

Tanpa bermaksud menggurui, sahabat-sahabat, ini hanya mengemukakan pendapat 
pribadi saja. Salam hormat.

Ario



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke