Exactly my point Kommandatte..!

sebenarnya saya ada sedikit harapan juga sih, cuma supaya rame maka gw
tidak memulai thread ini dengan opini, tapi dengan pertanyaan.. untuk
membangkitkan curiosity kawan2.. dan komentar Ario sedikit banyak
merefleksikan apa yang ingin saya sampaikan:

could this be.. an end to indonesian horror and adult comedy genre?

or

our hope is just too high - for a beginning of sci-fi era?

karena itu terlepas dari apa yang kita rasakan setelah nonton film ini
- yang paling penting adalah bagaimana reaksi pasar nantinya. it
doesn't matter whether we trek lovers like it or not. it's the market
thing that matters: if it don't generate cashflow, it's out from the
industry.

Ferengi analysis mode: ON

:D


--- In [email protected], ER <erianto.rach...@...> wrote:
>
> Terima kasih bung Ario atas komentarnya yang positif.saya juga sedikit
> merasa haru bahwa ada yang melihat seberkas cahaya harapan di sini.
> ya, hinaan yang terlanjur saya lontarkan memang kurang baik.
> ngaku nih....
> 
> Sebagai tindakan rasa hormat saya kepada mas Ario (bukan kepada
pembuat film
> Glitch). saya akan nonton film ini.
> dan saya akan mempersiapkan diri untuk menjaga tidak tertidur saat
nonton
> ;-)
> Dan saya akan obyektif mengulasnya. kalo bagus akan saya bilang bagus!
> kalo jelek akan saya hina. hehehehe... tentunya dengan tutur kata
yang lebih
> baik...
> 
> sekali lagi terima kasih dan salut kepada bung Ario yang setia
membangkitkan
> harapan kita kepada (yang katanya atau mungkin) "calon" film sci-fi
> Indonesia.
> 
> Salam,
> ER
> (siapsiapmasukvortexwaktuhilanng2jamhehehe)
> 
> 
> 2009/1/30 Ario at Yahoo dot Com <progexpr...@...>
> 
> >   Sahabat-sahabat, bukannya membela siapa pun. Tetapi menghina sesuatu
> > dengan alasan stereotyping bukanlah tindakan yang bijaksana,
menurut saya
> > pribadi. Hina dan bantailah apa pun, kalau memang sudah terbukti
jelek.
> > Setidaknya menurut Anda sudah terbukti jelek.
> >
> > Kalaupun misalnya suatu sinopsis membuat Anda ilfil untuk menonton
film
> > tersebut, ya tidak usah ditonton. Tetapi jika berkenan, tidak
perlulah kita
> > menghina suatu film berdasarkan "riwayat" atau "sejarah" dan
"sinopsis".
> > Film itu fungsinya untuk ditonton. Kalau sudah nonton Anda ingin
menghina
> > dan mencaci maki film tersebut, dipersilakan.
> >
> > Apakah Anda pernah nonton Neraca Kasih atau Kembang Kertas?
Sejarah film
> > Indonesia juga tidak memastikan film Indonesia pasti jelek kok.
Memang film
> > Indonesia banyak yang jelek, tetapi yang bagus juga tidak sedikit
> > (setidaknya pada masa-masa tertentu). Lalu saya dengar promosi film
> > Indonesia Pintu Terlarang yang sepertinya bagus dan membuat saya
tertarik
> > untuk menontonnya. Mungkin saja film itu juga jelek, tetapi saya akan
> > menontonnya dulu sebelum menghinanya (jika pada akhirnya saya
memutuskan
> > untuk menghinanya). Tetapi siapa tahu saya akan dapat surprise dan
ternyata
> > film ini sebagus promosinya? Senang kan?
> >
> > Anggaplah film Glitch ini sebagai jembatan penghubung. Setidaknya
ada yang
> > berani keluar dari genre horror dan beralih ke science fiction
(whatever
> > kind of science fiction it may be, setidaknya arahnya atau
nuansanya sudah
> > ke sana). Seandainya memang benar film itu jelek, ya setidaknya
sudah ada
> > yan berani membuat. Kalau cukup banyak yang nonton, mungkin
produsernya
> > berani buat lagi, mungkin dengan budget yang lebih besar, dengan
pemilihan
> > skenario yang lebih hati-hati. Apa pun lah. Tapi kalau memang usahanya
> > didukung, kemungkinan untuk terjadi perbaikan menjadi ada. Kalau dari
> > sinopsis saja sudah dihina, kapan Indonesia akan punya film
science fiction
> > yang bagus?
> >
> > Justru seharusnya dari kitalah, para penggemar science fiction,
sebagian
> > besar dukungan ini berasal. Kalau saya menyikapi film ini sih,
saya akan
> > menontonnya. Lalu setelah itu baru saya hina dan caci maki, jika
memang
> > perlu dan dirasa layak melakukan itu. Atau saya puji, jika dirasa
layak
> > untuk dipuji. Tapi satu hal yang pasti (setidaknya insya Allah)
saya akan
> > menontonnya.
> >
> > Kalau dulu kita pernah bertanya "Kapan ya Indonesia bisa bikin
film Star
> > Trek?" maka jawabannya tepat ada di sini. Kalau pembuka jalannya tidak
> > didukung, kapan film (sekualitas) Star Trek-nya bisa jadi kenyataan?
> >
> > Tanpa bermaksud menggurui, sahabat-sahabat, ini hanya mengemukakan
pendapat
> > pribadi saja. Salam hormat.
> >
> > Ario
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >  
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke