tentang naskah buatan saya itu, maksudnya ceritanya yg ga jelas endingnya 
maupun plotnya ;)
iya saya menyadari kekonyolan kalau membandingkan dgn silversurfer, maksud saya 
konsep yg ga masuk akal pun kalau dikemas dgn bagus,mayoritas penonton kyknya 
ga bakal protes [kecuali keturunan vulcan hehehe]

Thanks utk pencerahan nya, saya bisa blajar byk dari pengalaman anda semua.

Sebenarnya saya sudah menduga kendala ada di biaya, tapi saya tidak menyangka 
akan jadi serumit itu birokrasi yg berkaitan dgn PH. dunia perfilman memang 
sesuatu yg sangat asing bagi orang awam krn tidak diajarkan dunia pendidikan.. 
well itu rasanya yg jadi penyebab mengapa dunia perfilam kita miskin 
scriptwriter & kreativitas ;)

Sebenarnya tidak bisa dibilang kalo selera penonton kita parah ya.. krn dari yg 
saya liat dari situsnya indosiar, komen2 mereka 90% pedes bahkan ga kalah pedes 
dari komen kita2 ;). ada yg memprotes sinetron innayah, muslimah, dll.

dan kalo anda mau perhatikan, smuanya direspon indosiar: "akan kami 
perhatikan". semoga saja bukan auto-reply dari bot ~_~

lalu kenapa masih saja seperti itu, itulah yg saya kira aneh. zaman sekarang 
udah canggih sehingga komen yg masuk harusnya ditanggapi sbg warning, ga kayak 
zaman TVRi dulu. saya pernah lihat ada yg memberi kesempatan utk sms komentar, 
di akhir sinetron. zaman sekarang informasi bisa mengalir dari banyak channel. 
di dunia maya termasuk kaskus yg largest indonesian community, tidak terhitung 
sudah yg mencela sinetron lokal, bahkan di FB juga sudah banyak groups utk itu.

mungkinkah karena mereka emang tidak punya pilihan, krn scriptwriter yg nulis 
buat PH ya orang itu2 aja? krn budaya yg selalu mengutamakn seniorism, jadi yg 
muda selalu dipandang sblah mata kyk di iklan A mild.

untuk kasus UFO & anjasmara, memang menjengkelkan krn dia punya nama besar tapi 
retarded. selalu saja mengeksploitasi kebodohan utk ditertawakan. saya jadi 
merindukan serial friends, kapan ya ada komedi cerdas di indo? tapi ya itu 
tadi, kalo ga punya nama besar, mana bisa lobbying. karena itu film2 yg idealis 
ya cuma bisa survive di komunitas indie - yg mayoritas disponsori perusahan 
rokok.. #_#

ttg mahalnya special effect, saya kira itu dulu, seharusnya sekarang lebih 
murah krn teknologi komputer sedemikan pesat dalam membuat SFX. sulit iya, tapi 
kalo mahal.. nggak semahal dulu deh. mungkin ada yg pernah melihat karya 
animator lokal? kualitasnya ya seadanya krn independen, tapi lumayan lah kalo 
dibandingkan dgn iklan2 yg sekarang semakin byk pake animasi.

ttg film independen, ada cucunya james ... yg buat, saya lupa namanya yg jelas 
dia baru 18th, kalo ga salah film ttg kemerdekaan. benar2 langka, selain krn 
dia masih muda sudah skolah film sampe LN, juga krn dia lobying sendiri utk 
modalnya ga pake nama besar kakeknya. budget utk itu habis 10M kalo ga salah..



--- In [email protected], Bowo Trahutomo <bowo_trahut...@...> wrote:
>
> Apa yang disampaikan oleh rekan Ario itu memang benar realistis, kenyataannya 
> memang demikian kesulitan yang dihadapi di lapangan dunia sinetron. 
>  
> Dulu waktu saya kerja di Bank Danamon skitar tahun 1996, saya pernah di 
> telpon oleh seorang investor yang mau membuat PH. Dia apply pinjaman dari 
> bank untuk modal menyelesaikan Film Bende Mataram yaitu berupa serial silat.
> Pemerintah bahkan menetapkan untuk PH yg baru berdiri, harus pertama-tama 
> membuat cerita tradisional. Maka itu sekitar tahun 1990an sangat banyak 
> serial cerita2 silat dan tradisional.
>  
> Nah, si investor yg berhubungan dng saya ini dia harus membiayai sendiri film 
> serial yang dibuatnya jadi beberapa episode, lalu menawar-nawarkan film itu 
> kepada Stasiun TV, dan kalau OK dibeli, maka episode yg sudah 70% jadi itu 
> akan dibeli dan uangnya untuk menyelesaikan serial itu sampai selesai satu 
> session. Oleh karena itulah resiko kerugian yang harus ditanggung sebuah PH 
> tidak kecil. Kalau mereka sudah membuat beberap epoisode awal, itu saja sudah 
> memakan biaya sampai ratusan juta bahkan bisa ke angka milyar, kalau 
> settingnya memakan biaya besar, apalagi kalau memakai special2 efek. Saya 
> pernah dikasih tau, untuk membuat efek tangan seorang pendekar mengeluarkan 
> listrik menyala-nyala atau menembakkan "sinar laser" tenaga dalam dalam 
> periode beberapa detik saja bisa memakan biaya sampai dua puluh lima juta 
> lebih (itu aja tahun 1995/1996). Bisa dibayangkan kalau PH itu harus membuat 
> pesawat luar angkasa plus tembak2an sinar laser/ photon torpedo,
>  plus teknologi film yg menggambarkan shuttle craft keluar dari pesawat 
> enterprise dan mendarat mulus di permukaan planet, spt film ENTERPRISE, bisa2 
> satu episode saja bisa memakan biaya sampai Rp.500 juta-an 
>  
> Kalau PH tsb sudah sukses menjual satu serial cerita silat nusantara/ 
> tradisional. maka selanjut2nya mereka boleh membuat cerita-2 romantika/drama 
> / soap opera sehari-hari yang berbiaya murah dan sedikit resiko investasinya 
> (ibaratnya syuting di rumah pun jadi). 
> Nah itulah sebabnya para produser film sinetron bak jamur di musim hujan 
> sangat senang membuat sinetron-2 cengeng yg tidak perlu pakai otak utk 
> menontonnya, tapi bisa membuat para pembantu rumah tangga dan para ibu-2 
> menangis tersedu-sedu emosi bercampur aduk dibuatnya, sinetron2 macam begitu 
> laku keras bak kacang goreng. Biaya pembuatannya murah, jualannya kenceng 
> banget, balik modalnya cepet. 
>  
> Hal itu sebaliknya dari pembuatan film Sci Fi. Ingat saja dulu pilot episode 
> Star Trek TOS, dulu hampir diberhentikan oleh PARAMOUNT, karena dianggap 
> meragukan dipasar, untunglah mendiang Gene Roddenberry terus memasarkan 
> ide2nya supaya bisa diterima oleh pihak investor. TOS season III itupun 
> dibuat semata karena "desakan"-2 sangat kuat dari para fans fanatik Star Trek 
> yang terus menerus "membombardir" studio Paramount dengan surat2 permintaan 
> STAR TREK TOS dilanjutkan; sampai akhirnya pihak studio berkata kpd para 
> fans: "oke..oke..kami akan membuat Session III Star Trek, tapi tolong 
> hentikan mengirimkan surat-2 itu kepada kami"..pihak PARAMOUNT sampai angkat 
> bendera putih terhadap desakan2 para fans berat STAR TREK di masanya. 
>  
> Nah keadaan sebaliknyalah yg terjadi di Indonesia saat ini. Para fans 
> sinetron2 cengeng dan tidak masuk akal itu lah yg mendominasi pasar saat ini. 
> Sehingga, para investor PH, apabila ingin membuat film Sci Fi, pasti akan 
> berpikir beribu-ribu kali akankah mereka berani menanggung rugi milyaran 
> rupiah kalau sampai film mereka tidak dibeli oleh stasiun TV manapun. 
>  
> Mengenai film sinetron Indosiar: UFO itupun, saya berspekulasi, mereka berani 
> membuat menjadikan film "aneh bin ajaib" itu semata-mata dikarenakan mereka 
> bisa memasang Anjasmara utk beracting dng gaya "cecep" nya yg imbisil, idiot 
> dan memimpikan wanita pujaan yg diperebutkan para pria. Bagaikan cerita 
> pungguk merindukan bulan. 
> Nah, bumbu2 UFO itu dibuat utk "menjembatani" hal2 yg tidak logis dan tidak 
> masuk akal supaya lebih bisa diterima oleh jalan cerita yg akan di 
> paksa-paksakan supaya bisa "nyambung". 
>  
> Jadi..perjalanan pembuatan film Sci Fi di Indonesia, ini bila kita mau 
> memimpikan ada investor PH yg berani membuat film mirip dng ide-ide star 
> trek, mungkin akan menghadapi dilema tantangan yg puluhan kali lipat lebih 
> berat dibandingkan dulu ketika Gene Rodenberry ketika menjual ide nya 
> mengenai Star Trek, padahal masa itu USA sudah memasuki abad penjelajahan 
> ruang angkasa.... Indonesia ? eeeehhhmmmmm....sekarang baru masa penjajagan 
> pembuatan roket kali ya? (India dan China saja sudah bisa membuat roket ulang 
> alik ke orbit bumi pada saat ini) :) 
>  
> Kecuali mungkin..kalau ada keajaiban, dimana ada milyarder bekas anak 
> presiden, yg gandrung SciFi / Star TRek dan berani kehilangan milyaran rupiah 
> utk mewujudkan sebuah film Sci Fi di Indonesia yg bermutu, mungkin saja 
> barulah impian itu sedikit mendekati kenyataan. 
> Yang paling simple dan paling mungkin utk diwujudkan sebenarnya adalah: 
> apabila Stasiun TV kita berani membeli dan menayangkan film2 STAR TREK 
> ..kalau itu saja bisa dilakukan..itu sudah sangat bagus banget ... :) 
> 
> 
> ~ LIVE LONG and PROSPER ~
> Bowo T. Suharso
> http://trekphilosophy.blogspot.com/
> http://facebook.com/trahutomo
> SKYPE: bowo.trahutomo
> LinkedIn: http://id.linkedin.com/in/bowotrahutomo
> 
> --- Pada Sel, 5/1/10, Ario at Yahoo dot Com <progexpr...@...> menulis:
> 
> 
> Dari: Ario at Yahoo dot Com <progexpr...@...>
> Judul: Re: [Indo-StarTrek] Re: Sinetron terbaru INDOSIAR : UFO
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Selasa, 5 Januari, 2010, 3:49 PM
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> Dulu...
> 
> Dulu saya kerja di production house Millenium Visitama Film. Mengenai bisa 
> nulis script, ya orang kan kebisaannya beda-beda. Ada yang bisa nulis 
> skenario, ada yang bisa nulis lagu, ada yang bisa nulis program komputer. 
> Otodidak aja sih. Ada bakat sedikit, lalu diasah oleh pengalaman kerja dan 
> lingkungan kerja.
> 
> Mengenai bisa tayang di Indosiar, nah kalo itu betul-betul bukan saya, tapi 
> si pemilik PH sekaligus produser. Dia ini produser kawakan dari zaman dulu 
> dan relationship dengan stasiun-stasiun TV nggak diragukan lagi, karena 
> memang itu bidang bisnisnya dan keahliannya. Jadi memang nggak bisa seperti 
> membalik telapak tangan. Dibangun pelan-pelan dan lama.
> 
> Jadi saya nggak bisa menjelaskan prosesnya di sini, karena merupakan proses 
> yang panjang dan bersifat lobying. Tapi kalau ada yang punya konsep serial 
> dan naskah yang mau dijadikan sinetron, maka saya bisa menyarankan untuk 
> menawarkan konsep tersebut, disertai beberapa episode contoh naskah, ke 
> PH-PH. Banyak banget PH di Jakarta. Just pick any. Or better yet, pick all. 
> He he he...
> 
> Tapi yaaah, namanya menawarkan konsep, sama aja dengan orang jualan barang 
> lainnya, jangan berharap akan diterima. Kalaupun diterima, jangan berharap 
> langsung seketika diterima. Kalaupun pada akhirnya diterima, jangan berharap 
> akan menjadi persis plek ketiplek seperti yang kita inginkan. Betul bahwa 
> kemungkinan besar akan ada kompromi, karena ada sisi-sisi tertentu yang 
> mungkin tidak dilihat oleh penulis skenario, tetapi dipandang perlu oleh 
> produser. Itulah, antara lain, tugas saya dulu pada saat kerja di MVF, 
> menilai dan mempercantik konsep dan skenario orang lain.
> 
> Kalau mau langsung menawarkan ke stasiun TV: kemungkinan "jadi"nya lebih 
> kecil dibanding lari ke PH, sebab TV nggak punya tim produksi yang kuat untuk 
> bikin sinetron. Mereka lebih suka beli aja ke PH. Indosiar adalah salah satu 
> yang paling kuat produksi sinetronnya, tapi itu pun dulu. Sekarang kekuatan 
> itu sudah diturunkan dan mereka juga lebih suka beli.
> 
> Begitu mungkin yang bisa sedikit saya sharing-kan berkenaan dengan hal itu. 
> Mengenai naskah Bro Levin sendiri, maksudnya nggak jelas arahnya ke mana itu 
> ceritanya yang akhirnya nggak jelas arahnya atau ceritanya bagus tapi nggak 
> tahu mau dijual ke mana? :-P
> 
> Silver Surfer? Jauhlah, Bro! Masih banyak kendala yang kita hadapi untuk 
> mencapai atau bahkan mendekati level itu. He he he... Apalagi waktu saya 
> bikin Mister Hologram. Itu kan udah hampir 10 tahun yang lalu.
> 
> Ario
> 
> ____________ _________ _________ __
> From: L'evin <tran...@gmail. com>
> To: indo-startrek@ yahoogroups. com
> Sent: Mon, January 4, 2010 6:06:52 PM
> Subject: [Indo-StarTrek] Re: Sinetron terbaru INDOSIAR : UFO
> 
> Hmm.. bung Ario ni bkerja dimana kok bisa nulis script & bisa tayang di 
> Indosiar? kalo bisa di sharingkan bagaimana prosesnya agar suatu saat ada 
> naskah juga dari komunitas kita yg bisa tayang ke TV - sekalipun harus 
> compromise nantinya.. better than nothing
> 
> ~ sebenarnya saya pernah nulis naskah ttg kehidupan seorang trekker, tapi 
> tidak jelas kemana arahnya.. hahaha ~
> 
> konsep kesaktian Mister Hologram = Silver Surfer tapi jauuh lebih keren 
> Silver Surfer
> ^_^
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
> cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
> Dapatkan IE8 di sini! 
> http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke