Ini kutipannya:
 
Andre Surya – Nama Lokal, Prestasi Internasional
June 11th, 2010 lika

Iron Man. Terminator Salvation. Star Trek.
 
Penggemar film atau bukan, hampir semua orang mengenali judul film-film box 
office di atas. Tapi tahukah Anda bahwa salah satu yang ikut “bertanggung 
jawab” atas kecanggihan special effects film-film tersebut adalah seorang anak 
muda asli Indonesia?
Perkenalkan, Andre Surya.
Namanya muncul di kredit film Iron Man, Star Trek, Terminator Salvation, 
Transformers: Revenge of the Fallen, dan Iron Man 2, sebagai Digital Artist. 
Dia juga terlibat dalam pengerjaan film Indiana Jones and the Kingdom of the 
Crystal Skull, Surrogates, dan Transformers: Revenge of the Fallen.
Pria kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1984 ini adalah satu-satunya digital artist 
asal Indonesia di divisi Industrial Light and Magic (ILM) Lucasfilm Singapore. 
Lucasfilm sendiri adalah salah satu production company tersukses di dunia, yang 
didirikan tahun 1971 oleh George Lucas, sutradara Star Wars.
Pria yang kini berdomisili di Singapura ini sekarang sedang sibuk mengerjakan 
proyek film besar yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat. Tapi ia masih 
menyempatkan diri untuk berbincang dengan editor Yahoo! Indonesia supaya Anda 
semua bisa mengenalnya lebih dekat.
 
Coba ceritakan siapa itu Andre Surya.
Saya lahir di Jakarta, 1 Oktober 1984. Lahir dan dibesarkan di kota ini. Selain 
hobi main bola, saya juga punya ketertarikan di bidang 3D. Saat ini saya single 
dan tinggal di Singapore, bekerja di divisi Industrial Light and Magic 
Singapore di bawah Lucasfilm Singapore.
 
Belajar 3D dari mana?
Saya dulu kuliah di Untar, ambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Tapi 
kemudian saya dapat kesempatan untuk kerja di Polaris 3D, sebuah perusahaan 
advertising and architectural visualization di Jakarta. Setelah itu saya 
memutuskan untuk terus bekerja dan nggak melanjutkan studi saya di Untar. Jadi 
saya di Untar cuma satu tahun, terus lanjut ke Kanada untuk ambil diploma di 
bidang Film and Special Effects di Vanarts, sebuah sekolah film di Vancouver. 
Tapi sebagian besar pengetahuan dan keterampilan 3D justru saya pelajari 
sendiri tanpa training dan sekolah. Saya udah mulai mempelajari Computer 
Graphic sejak kelas 1 SMA. Jadi kalo dihitung, kira-kira 10 tahun yang lalu.
 
Apa aja prestasi yang udah pernah kamu capai?
Saya beberapa kali memenangkan penghargaan, baik lokal maupun internasional. 
Contohnya, gambar buatan saya yang berjudul Somewhere in the Sky pernah 
ditampilkan di CGOVERDRIVE, konferensi Computer Graphic terbesar di Asia. 
Gambar itu juga memenangkan Excellence Award di buku Elemental 2 terbitan 
Ballistic Publishing dan Best Artwork Awards di Indocg Showoff Book, sebuah 
buku kumpulan CG art Indonesia. Lalu gambar saya yang berjudul City of Enhasa 
juga memenangkan juara satu di Future World Contest di www.3dkingdom.org
 
Jelaskan dong seperti apa pekerjaan seorang digital artist.
Digital artist mengerjakan banyak hal seperti modelling, layout, lighting, dan 
compositing. 
Modelling itu proses pembuatan model itu sendiri, seperti mobil, robot, dan 
sebagainya. Layout itu proses matching camera CG (computer graphics) dengan 
background aslinya. Lighting itu proses kreatif agar 3D yang di-produce 
terlihat menarik dan menyatu dengan background-nya aslinya dalam scope posisi 
cahaya. Sedangkan compositing itu proses penyatuan semua elemen yang ada.
Di dalam sebuah film, rata-rata ada lebih dari 70 orang digital artist, 
terutama bila film itu skala besar, seperti Iron Man 2. Saya bekerja dalam tim 
yang masing-masing punya skill dan role sendiri.
 
Apa yang membuat kamu tertarik untuk bekerja di bidang ini?
Karena ini hobi saya. Saya suka banget mengerjakan 3D dan saya juga dari dulu 
memang ingin bekerja di industri film. Buat saya ini adalah pekerjaan impian. 
Waktu masih kuliah, kadang-kadang saya mengkhayal bagaimana rasanya mengerjakan 
visual effects untuk sebuah film besar dan melihat nama kita muncul di credit 
title film itu. Sekarang semuanya udah benar-benar terwujud.  It’s simply a 
dream come true!
 
Apa film pertama yang kamu kerjakan? 
Proyek feature film pertama saya itu Iron Man. Film ini juga yang saya anggap 
sebagai batu loncatan. Di situ saya ngerjain bagian lighting saat Iron Man 
terbang pertama kali.
 
Bagaimana ceritanya sampai bisa bekerja untuk Lucasfilm?
Ceritanya lumayan panjang sih, dan nggak gampang juga. Sederhananya begini deh. 
Sejak wawancara pertama sampai akhirnya saya diterima kerja di Lucasfilm itu 
membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Awalnya saya wawancara di Ottawa, Kanada, 
lalu wawancara lewat telepon oleh Lucasfilm Singapore, lalu ada wawancara 
kedua, dan baru setelah itu lah saya dikabari bahwa saya diterima.
 
Waktu itu memang melamar ke Lucasfilm?
Saya ngelamar di Lucasfilm US sewaktu saya sudah lulus sekolah tapi dikarenakan 
visa kerja US yang cukup sulit dan mereka membuka studio di Singapore maka saya 
ditransfer kesana. Ada beberapa orang Indo yang kerja di Lucasfilm Singapore, 
terutama di bidang IT, games, dan TV series, tapi di bidang Visual effects 
untuk feature film (ILM), artistnya sekarang ini hanya saya satu-satunya yang 
orang Indonesia.

Apa keterampilanmu yang paling dibanggakan?
Saya paling suka lighting, dan and I feel that it’s my best skill. 
 
Dari semua film yang pernah kamu kerjakan, yang mana yang paling berkesan? 
Yang paling exciting adalah Transformers: Revenge of the Fallen, soalnya 
sebagian besar tugas saya di proyek itu adalah mengerjakan lighting.
 
Apa suka dan duka yang dialami sebagai digital artist?
The best part is, kamu melakukan hal yang paling kamu sukai, dan dibayar untuk 
itu. Plus, melihat nama kita terpampang di credits sebuah feature film ternama 
itu benar-benar hal yang tak ternilai. Kekurangannya…, jujur aja saya nggak 
bisa menemukan apa nggak enaknya jadi digital artist. Jadi jawabannya: there is 
no worst part of being digital artist for me. 
 
Apa film favorit kamu?
Sampai saat ini sih Avatar masih jadi film favorit saya. Secara teknologi juga 
film ini yang menurut saya paling oke. Saya ingin suatu hari nanti bisa 
terlibat dalam proyeknya James Cameron.
 
Saat ini 3D sedang jadi trend di industri film. Menurut kamu, sampai berapa 
lama ini akan bertahan?
Saya rasa 3D akan bertahan cukup lama dan masih akan jadi trend hingga 10 tahun 
ke depan, atau bahkan lebih.
 
Menurut kamu, mungkinkah filmmaker Indonesia membuat film 3D dengan kualitas 
baik?
Saya yakin bisa. Saya sendiri kenal beberapa orang Indonesia yang sangat 
berbakat dan skill mereka juga bertaraf International. Mereka bekerja di 
perusahaan-perusahaan besar di bidang 3D di luar negeri. Kalau saja mereka 
semua balik ke Indonesia dan membuka satu perusahaan dengan kualitas standard 
International, dengan bakat dan skill yang mereka punya, saya rasa sangat 
memungkinkan bila Indonesia menghasilkan film-film dengan kualitas standard 
International.
*Ingin tahu lebih banyak tentang Andre Surya? Sila cek situs pribadi Andre 
Surya di http://www.as07.com  atau langsung kirim email ke [email protected]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke