(Menemani) Ngonthel Sepeda di kebun teh Nirmala
Oleh Wikan
Musim hujan tak menghalangi suami saya untuk menjajal kerasnya medan batu
pegunungan Halimun dengan rock shock bike miliknya. Pada hari Sabtu yang cukup
cerah, kami bertiga �saya, suami dan anak� meluncur kearah Sukabumi dengan
tujuan kebun teh Nirmala di Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Sempat agak
kelewatan sedikit, akhirnya kami menuju jalan yang benar: dari jalan raya
Sukabumi belok ke kanan ke arah stasiun Parung Kuda. Jalan raya yang berkelok
menuju kearah Halimun dapat dikategorikan mulus. Dengan pemandangan sekeliling
yang hijau diseling dengan perkebunan teh, sampailah kami ke Tempat Penelitian
milik Departemen Kehutanan di Kabandungan. Disini terdapat juga Wisma yang bisa
diinapi oleh pengunjung. Kami berhenti sejenak disana untuk mendapatkan
informasi mengenai TNGH, stasiun penelitian Cikaniki (tempat penginapan di
TNGH) dan perkebunan teh Nirmala. Ternyata, tujuan kami ke Cikaniki masih cukup
jauh.
Perjalanan menuju TNGH, ternyata dimulai dengan jalan yang kurang mulus,
berlubang disana�sini. Jalan aspal yang kurang mulus berakhir di desa Cipeteuy.
Jangan ge�er, bukan berakhir untuk kemudian menuju jalan mulus, tapi untuk
menuju jalan terjal yang berbatu. Pantas saja teman saya mengingatkan untuk
membawa kendaraan non sedan untuk ke TNGH ini. Sebenarnya, bagi Anda yang tidak
mempunyai kendaraan non sedan bisa menitipkan mobil di desa Cipeteuy ini, lalu
kemudian naik angkutan pedesaan Rp.20.000,�/orang (tetapi menunggu sampai
angkot penuh) atau menyewa angkot dengan biaya kurang lebih Rp.200.000/sekali
jalan.
Buckle up guys, ternyata perjalanan sangat berguncang! Mobil hanya bisa dipacu
paling cepat 10�20km/jam. Bagaimana tidak? Jalan benar�benar dari susunan batu.
Disana sini ada kubangan becek hasil hujan semalam dan limpahan air dari
beberapa mata air yang ada dikanan kiri jalan. Pemandangan dikanan kiri adalah
sawah, semak belukar yang tinggi, jurang, dan pedesaan dengan beberapa rumah
penduduk saja.. sangat sepi. Beberapa kali kami sempat bertanya kepada petani
yang lewat, apakah benar jalan yang kami lalui menuju ke Nirmala. Maklum,
arahan dari bawah perkebunan teh Nirmala hanya 27km saja, tetapi karena jalan
yang berbatu, berliku dan sepi, terasa jauh dan tak sampai�sampai.. Tak heran
sesampainya di Cikaniki, ada tamu disana yang berkomentar, perjalanan ke
Nirmala serasa "in the middle of nowhere", atau lebih tepatnya, serasa ke
nirmala sebenar�benarnya ya?
Sawah bertingkat tak hanya di Tegalalang!
Walaupun jalan sangat buruk, beberapa pemandangan sangat indah. Kami menemui
sawah bertingkat yang tak kalah indahnya �bahkan lebih indah� daripada sawah
bertingkat di Tegalalang Bali. Wahh, ternyata, bumi Priangan menyimpan berbagai
keindahan alam!
Dibeberapa tempat kami juga sempat berhenti sejenak untuk mengagumi aliran
sungai perawan ditengah sawah dan semak belukar. Lumayan untuk meluruskan
punggung yang "patah�patah". Semangat kami kembali terbangun setelah gerbang
TNGH muncul didepan kami. Memasuki gerbang ini, hutan hujan tropis menyambut
kami dengan bebauan khas. Duh, segarnya! Tapi jangan lupa, masih 5km lagi
sebelum kita bisa beristirahat di penginapan!
Cikaniki!
Akhirnya, setelah menempuh waktu kurang lebih 3 jam (total), sampailah kami ke
stasiun penelitian Cikaniki, yang juga berfungsi sebagai tempat penginapan.
Tempatnya tidak terlalu besar tapi nyaman. Bangunan kayu yang terdiri dari 2
bagian besar, masing�masing berisikan lima kamar, ruang keluarga merangkap
ruang makan, dapur dan kamar mandi. Setiap bangunan mempunyai balkon yang
menghadap kehutan, dan masing�masing kamar mempunyai pintu yang mengarah ke
balkon ini. Pemandangannya sangat indah, dan melalui pintu bebauan hutan yang
khas masuk ke kamar.
Meskipun tanpa reservasi terlebih dahulu, kami beruntung mendapatkan kamar di
stasiun penelitian Cikaniki ini. Karena jumlah kamar yang terbatas, setiap
pengunjung sebaiknya melakukan booking terlebih dulu supaya kebagian kamar.
Untungnya ada 1 kamar yang dibatalkan pemesannya, jadi kami bisa menempatinya
dengan harga normal Rp.100.000 saja per malam.
Sore itu, tak ada kegiatan yang bisa dilakukan kecuali berjalan�jalan ke
jembatan gantung/canopy trail. Yang disebut jembatan gantung adalah jembatan
yang terbuat dari lempengan�lempengan besi yang disatukan dengan tali, yang
digantungkan disatu pohon besar ke pohon besar yang lain. Jadi, bila kita
melewatinya, jembatan akan bergoyang�goyang. Karena fungsinya sebagai tempat
observasi hutan dari atas, maka jembatan tersebut digantungkan pada batang
pohon yang teratas. Wow.. tinggi sekali! Untuk mencapai jembatan gantung, kita
harus berjalan menembus hutan (tidak terlalu jauh sih) dengan jalan setapaknya
yang cukup licin karena habis hujan.
Sayangnya, hanya ada dua bagian jembatan gantung yang bisa kita telusuri,
karena bagian yang lain telah rusak. Itupun, maksimum jumlah orang yang berada
dijembatan dalam satu waktu adalah dua orang. Jadi, untuk naik keatas, dibatasi
per lima orang dua didepan dan dua dibelakang. Satu orang adalah penjaga untuk
mengawasi dan mengarahkan kita.
Usai dari jembatan gantung, mendung menggantung dengan tebal. Semua orang
memutuskan untuk kembali ke penginapan dan memasak makan malam dengan peralatan
yang telah tersedia. Penting untuk pengunjung TNGH: disini tidak disediakan
makan malam, jadi kita harus membawa sendiri perbekalan makanan. Bila tidak
membawa, kita bisa pergi ke desa terdekat, yaitu desa Citalahab untuk memberi
bahan makanan. Tapi untuk mencapai desa tersebut, lagi�lagi kita harus menempuh
jalan terjal berbatu, dan tidak terlalu dekat.
Jamur dan kunang�kunang
Pukul 21.00 saat hendak membuat minuman hangat, di ruang makan rombongan
tetangga kamar sedang ramai membicarakan jamur dan kunang�kunang. Ternyata,
mereka baru saja keluar dari hutan untuk melihat jamur yang bersinar di dalam
hutan dan juga kunang�kunang. Senangnya �padahal tidak boleh seharusnya� mereka
membawa sampel jamur dan kunang�kunang. Jamur yang seukuran dua kali jarum
pentul tersebut memang bersinar biru didalam kegelapan. Cantik sekali! Saya
hanya bisa membayangkan bagaimana gerombolan sinar disepanjang jalan dan juga
gerombolan sinar melayang�layang dihutang (kunang�kunang). Lain kali, saya akan
lihat langsung dihutan!
Desa Citalahab dan Nirmala Plantation Settlement
Esok paginya, kami dibangunkan oleh kicauan burung dihutan. Jujur saja, malam
yang kami lewati tak begitu dingin, mungkin karena pintu dan jendela tertutup
rapat. Tanpa mandi, kami langsung bersiap untuk pergi ke perkebunan teh
Nirmala. Saya dan anak mengendarai mobil, menguntit suami yang "ngonthel" naik
sepeda. Jam 7 tepat kami sudah meluncur pelan�pelan. Sama seperti jalanan
menuju Cikaniki, jalan ke perkebunan teh Nirmala terjal berbatu, licin dan
menanjak. Tapi oh my God, pemandangan kesana sangat sangat indah! Hamparan
kebun teh berbatasan dengan hutan hujan tropis dengan vegetasi yang
mengagumkan. Tak terlukiskan dengan kata�kata! Bagi bikers, menggenjot sepeda
disini merupakan tantangan yang cukup berat, tapi worth to do, karena
pemandangan yang sangat indah akan mengobati lelah menggenjot sepeda.
Desa pertama yang dilewati adalah desa Citalahab. Desa ini adalah desa pertama
yang dapat dicapai melalui jalan normal, atau jalan yang menembus hutan. Desa
ini terletak dijurang dan berbatasan dengan sungai. Pemandangan Citalahab dari
atas juga indah. Dibawah sana, dipinggir hutan, ada juga sebuah guest house
yang mirip rumah penduduk. Kami sempat turun sejenak ke desa ini untuk
bermain�main ke sungai.
Selesai berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke atas untuk menuju ke perkebunan
teh Nirmala. Setelah beberapa bukit, pemukiman penduduk yang kami temui adalah
plantation settlement atau semacam perumahan bagi karyawan perkebunan teh.
Pemukiman sederhana ini terletak pada dataran (plateau). Sama indahnya dan
romantis. Beberapa rumah penduduk yang seragam, sederhana namun bersih dilatari
dengan pemandangan perkebunan teh dan bukit menghijau penuh pepohonan. Bikers
juga bisa mencoba untuk ngonthel diantara pepohonan teh disini. Medan tidak
begitu terjal seperti kebun�kebun teh sebelumnya. Maklum kebun teh sebelumnya
berada di bukit yang cukup tinggi dan terjal.
Catatan: didesa inilah kita bisa berbelanja bahan makanan bila kita tidak
membawa perbekalan.
Pabrik Teh Nirmala
Setelah melewati beberapa tanjakan, akhirnya sampailah kita ke tempat yang
tertinggi dari perkebunan teh Nirmala, yaitu pabrik teh Nirmala. Di pabrik yang
menguarkan aroma teh yang segar ini kami berhenti sejenak untuk melihat�lihat
sekeliling. Kami juga mendapatkan penjelasan bahwa diatas pabrik, ada juga
tempat penginapan yang dikelola sebuah pihak swasta eks pemilik pabrik teh
Nirmala. Wah, ternyata, ada juga hotel disini! Jadi, bila Anda tak mendapat
kamar dibawah, coba�coba saja naik lagi ke pabrik teh Nirmala, siapa tahu ada
kamar kosong.
Tiba�tiba hujan turun dengan derasnya, kamipun bergegas pulang ke Cikaniki.
Perutpun sudah keroncongan, mengingatkan kami untuk mampir ke warung di
Citalahab untuk membeli bahan makanan. Sesampai di Cikaniki, indomie telor yang
mengepul langsung tandas masuk perut saya, suami dan anak. Hmm, inilah yang
disebut kebahagiaan. Sederhana namun manis..
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/