Andrey. Thanks  udah forward  cerita ini.. Sudah cukup buat reference
Jalan-jalan ke TN Karimun.

Gimana?   Mau tanggal  11  atau 25 maret?
Berangkatnya kamis sore, naik bus yg langsung Jepara...

Siapa aja nih yg minat?



-----Original Message-----
From: Acorbusie [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, February 22, 2005 3:55 PM
To: Backpackers Indonesia
Subject: [indobackpacker] Fwd: [Nature Trekker] Perjalanan ke Karimunjawa


"Priyatni, Zustina (JKT-ME)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:To: 
From: "Priyatni, Zustina \(JKT-ME\)" 
Date: Mon, 21 Feb 2005 09:48:36 +0700
Subject: [Nature Trekker] Perjalanan ke Karimunjawa


Dari milis sebelah. cerita karimun jawa dari sudut pandang lain. menarik ;p 

====== 

Dari cerita kakay saya yang kebetulan mahasiswa kehutanan UGM, dan hobinya
jalan-jalan ke mana-mana (kakak saya pernah klaim kalau seluruh taman
nasional  di jawa sudah pernah dia masuki, dari ujung kulon di banten sampai
alas purwo di jawa timur). 

Suatu waktu saya tanya, apa di jawa ini masih ada tempat gelap yang
langitnya masih jernih tanpa ada polusi cahaya (kebetulan saya ni mahasiswa
astronomi, dan lembang tempat saya biasa penelitian aja langitnya sudah gak
bagus). Dia jawab, di Karimunjawa itu langitnya sangat cerah sampai bima
sakti saja bisa kelihatan. Pergilah saya kesana, tapi sayang waktunya lagi
gak bagus karena tiap hari berawan dan hujan terus. 

Bagi yang suka menyelam atau snorkeling pasti akan suka tempat ini, karena
lautnya bening sekali (bahkan laut di sekitar dermaga sangat jernih dan
ikan-ikan masih bersliweran di bawah kapal yang merapat) dan terumbu
karangnya sangat bagus. Yang suka berkemah pasti lebih senang lagi, karena
banyak pulau kosong yang tak berpenghuni di kepulauan ini. Cocok sekali
untuk main Robinson Crusoe, hehehe... 

Berikut ini ceritanya. 

Pulau Karimunjawa letaknya kurang lebih 90 km di barat daya Jepara, bisa
dicapai dari Semarang atau Jepara lewat tiga cara: Naik kapal kecil
pengangkut ikan, naik ferry, atau naik kapal cepat 20 knot. Kapal kecil
berangkat dari Pelabuhan Kartini, Jepara, setiap pagi jam 5.00. Jadwalnya
enggak tentu, kadang ada kadang enggak(tapi berangkat hampir setiap hari).
Ongkosnya murah tapi, Rp. 15.000 saja. Tapi perjalanan lamanya 6 jam dan
karena kapalnya kecil goyangannya luar biasa (yang gak biasa bisa langsung
mabok). Tidurnya deket mesin yang memekakkan telinga, belum lagi risiko
kapalnya terbalik atau tenggelam. Pokoknya bahaya lah (tapi lebih seru).

Ferry "Muria" berangkat dua kali seminggu. Hari Rabu dari Pelabuhan Kartini,
Jepara, dan kembali lagi Hari Kamis. Ongkos kurang lebih Rp. 20.000, lamanya
perjalanan juga 6 jam. Tapi lebih aman walaupun masih ada risikonya juga
kalau lagi sial (tenang, ada asuransi. Kalau kapal kecil gak ada). Datang
lagi ke Karimunjawa hari Sabtu Sore dan kembali ke Jepara hari Senin pagi. 

Kepulauan ini total ada 27 pulau, yang dihuni cuma 5. Penduduk total ada
8000 jiwa. Pulau utama yang terbesar adalah Karimunjawa, soalnya paling
besar. Informasi lebih lanjut tentang Karimunjawa bisa dicari di google,
tapi dephut punya info di
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_karimun.htm 

Pada awal tahun ini Harian Kompas juga pernah menulis feature tentang
Kepulauan ini: www.kompas.com/kompas-cetak/0501/08/Wisata/1454122.htm
www.kompas.com/kompas-cetak/0501/08/Wisata/1454125.htm 

Saya dateng ke pulau ini hari kamis tanggal 10 Februari 2005. Hari Rabu
Tanggal 9 saya pergi ke Semarang dari Jogja jam enam sore, sampai jam 22.30.
Saya telpon pelabuhan, ternyata kapal hanya ada hari sabtu. Oleh karena itu
saya langsung pergi ke terminal Terboyo dan naik bus ke Kudus. Dari Kudus
nyambung lagi ke Jepara (sebenarnya ada bis langsung, tapi waktu itu tengah
malam jadi angkutan rada-rada susah. Kalau beramai-ramai mungkin lebih baik
carter mobil) dan di Pelabuhan saya nyari2 kapal ke Karimunjawa, ternyata
ada. Saya sampai jam 3 pagi di pelabuhan Kartini dan kapal baru berangkat
jam 5.30, jadi ada waktu tidur dulu di dek kapal yang lebarnya cuma 2 meter
(dengan beratap langit-langit. Sempat gerimis sebentar sehingga saya pindah
ke palka). 

Kapal yang saya tumpangi adalah kapal kecil yang saat itu digunakan untuk
mengangkut es batu. Awaknya ada tiga, yang satu di bawah terus ngurus mesin,
jadi ini mekaniknya. Di atas ada dua orang, yang satu nyupir. Sepanjang
perjalanan saya banyakan tidur soalnya ngantuk belum tidur semaleman. Kapal
ini rupanya bukan punya mereka tapi punya juragan mereka rumahnya merangkap
gudang barang. Saya kalau tidur di palka. Di samping saya tidur ada mesin
kapal, jadi kuping saya rada budek kalo naik ke dek. Tiga awak kapal ini
kelihatannya pelaut senior yang pengalaman melautnya sudah tinggi. Pada pagi
hari saat hendak berangkat, cuaca mendung dan sedikit gerimis. Salah seorang
awak melihat horizon dengan seksama, dan temannya berkata, "Ada nggak?" yang
kemudian dijawab, "ada tuh, ada." Dan berangkatlah mereka. Entahlah apa yang
dimaksud oleh kedua orang itu, tapi menurut saya yang mereka cari adalah
tanda-tanda alam yang menjamin amannya perjalanan mereka. Saya agak
ketar-ketir melihat cuaca  mendung ini, jadi saya tanya saja kepada juru
mudinya, yang paling tua di situ, "Pak, kalau cuacanya begini apa aman?" Dan
dijawab dengan santai, "Oooh, ini mah aman. Sudah biasa kok." Sepanjang
perjalanan modal mereka hanya sebuah kompas yang dibawa keluar dari palka.
Kompas ditaruh di atas dek, begitu saja, dan sepanjang perjalanan mereka
hanya mengandalkan pengalaman mereka. Di tengah-tengah perjalanan Pulau Jawa
sudah menghilang dari horison dan Kepulauan Karimunjawa pun belum kelihatan.
Jadi practically we're in the middle of nowhere tapi mereka toh bisa juga
menentukan arah menuju Karimun. Rupa-rupanya inilah kehebatan bangsa kita
sebagai bahariwan. Pengetahuan mereka tentang perilaku gelombang laut juga
sangat hebat. Mereka mengetahui bahwa tinggi gelombang bergantung pada
kedalaman laut, bila lautnya dangkal gelombang akan tinggi sementara laut
dalam gelombangnya tenang. Tentu saja mereka mengetahui ini dari pengalaman
(saya mengetahui hal ini dari kuliah fisika tentang  gelombang, hehehehe).

Sampai di Karimunjawa jam 12.15, jadi lamanya perjalanan kurang lebih 6 jam.
Di dekat dermaga ikan (ada dua dermaga di sini, dermaga ikan tempat
kapal-kapal kecil berlabuh dan dermaga ASDP tempat kapal cepat dan kapal
ferry berlabuh) ada warung punya Bu Ester, terkenal sekampung dan perannya
seperti tavern di game Sid Meier's Pirates. Bisa nyari info, ngobrol sama
pemilik warung, mabuk-mabukan, dan dengerin gosip terbaru. 

Saya tertarik dateng ke sini sebenernya cuman mo nyari kegelapan. Bukannya
saya pangeran kegelapan sih, tapi tempat ini kan jauh dari mana-mana yang
terang-terang jadi pasti langitnya bagus untuk pengamatan astronomi.
Sayangnya saya dateng pada bulan yang salah. Di sini cloud coveragenya buruk
dan sepanjang hari berawan trus. Mana hujan terus lagi. Jadilah saya
terdampar di sini. Besoknya ternyata gak ada kapal karena hari 1 suro.
Besoknya lagi juga gitu, gak ada ikan untuk diantar ke Jepara karena
kemarennya orang2 pada gak melaut. Jadilah sepanjang hari saya duduk2 di
losmen, di warung bu ester, atau di pinggir pantai terdekat sambil mebaca
novel. Lumayanlah pulang-pulang saya udah namatin sebuah novel dan 2 buku
tentang posmodernisme.

Di sini everybody knows everyone. Orang asing baru datang langsung dikenali.
Gak ada yang bawa jam tangan di sini, jadi langsung ketauan kalo saya
pendatang. Gak ada yang nenteng2 buku di sini (kecuali anak sd), jadi saya
langsung keciri. Gak ada yang berkacamata di sini, jadi saya langsung
ketauan. Maling virtually nonexistent, malahan motor itu kuncinya ditinggal
terus gak pernah dikantongin. Angkutan umum gak ada karena semua orang punya
motor. Malahan kalo mau minjem motor punya orang juga dia pasti berbaik hati
minjemin. Gak mungkin dicolong, mau dibawa kemana coba? Hampir semua motor
di sini barang curian, dipasok dari pasar gelap (katanya). Jadi
surat-suratnya gak pernah ada. Gak penting lah, gak ada yang meriksa ini.
Polisi memang ada, tapi mereka kerjaannya maen judi melulu, hwahahahahaha...
(kata orang loh) dan kebanyakan adalah polisi2 yang dimutasi, mungkin karena
indisipliner kali. Kantor Kodim aja kosong melulu gak ada orangnya. 

Nah karena jalanan di sini pada lengang semua, saya pinjem aja motor bebek
punya pemilik losmen (padahal saya gak bisa naik motor). Jadilah saya
keliling-keliling pulau naik motor, menyebrang ke Pulau Kemojan yang
terhubung jembatan dan ngobrol sama petugas bandara dewadaru. Ada bandara di
sini tapi tidak ada penerbangan rutin, semuanya carteran. Petugasnya tinggal
di situ, gak bisa pulang karna dia pegawai departemen perhubungan yang
ditempatkan di situ. Pokoknya kasihan banget lah dia kesepian di situh.
Kelihatannya dia tidak membawa bahan bacaan karena dia bilang bahan-bahan
bacaannya adalah brosur wisata yang ada di situ dan itupun sudah habis
dibacanya. 

Beberapa kilometer dari kota utama, terdapat Makam Sunan Nyamplung, anak
Sunan Muria yang diasingkan ke pulau ini. Sunan Nyamplung datang ke pulau
dengan menggunakan kapal yang terbuat dari kayu pohon dewadaru. Ia kemudian
menanam kayu dewadaru dan tumbuhlah di pulau itu. Pohon dewadaru termasuk
pohon yang dikeramatkan dan kayu-nya tak boleh dibawa keluar dari pulau
tersebut. Menurut kepercayaan, kapal manapun yang membawa dewadaru keluar
dari pulau tersebut pasti akan tenggelam. Bahkan bandara setempat selalu
menggeledah siapapun yang akan meninggalkan pulau, takut kalau2 membawa
dewadaru nanti mencelakakan kapal terbang. Pendatang yang menumpang kapal
ikan juga selalu ditanya apakah membawa dewadaru. Konon menurut cerita,
satu-satunya cara untuk membawa dewadaru dengan aman adalah dengan menaruh
dahan tersebut di atas kapal yang dek-nya terbuat dari kayu dewadaru. Kapal
ini tak akan tenggelam karena pasti akan kembali ke Karimun. 

Sayangnya saya belon sempet muter-muter ke pulau lain karna cuacanya buruk
terus dan lagipula duit saya terbatas (Di sini tidak ada ATM jadi sebaiknya
nyetok uang dulu di Semarang, Kudus, atau Jepara). Sewa perahu seharian
biayanya ratusan ribu dan saya cuman sendirian. Kalo ramai-ramai kan bisa
patungan tapi kalo sendiri ya saya tanggung sendiri. Lagian di sini enaknya
nyilem tapi saya belum bisa diving. Jadi kalo ke sini lagi udah harus bisa
nyilem dan bersertifikat, biar lebih enak. 

Seingat saya hanya ada satu penginapan di sini (dikelola oleh kecamatan
setempat, kalau tidak salah), sisanya adalah homestay, yaitu rumah penduduk
yang difungsikan sebagai penginapan. Biaya menginap satu malam berkisar
antara 25 hingga 50 ribu. Pemilik penginapan umumnya menyediakan makan 3
kali sehari dengan tambahan biaya, biasanya umumnya 12 ribu per hari.
Menurut penduduk yang saya temui, yang paling murah adalah Hanfah yang biasa
ditinggali oleh mahasiswa yang sedang penelitian, jadi mungkin ada diskon
khusus untuk mahasiswa di homestay tersebut. Kebetulan saya tak tinggal di
homestay tersebut. 

Di penginapan saya, makan sebenernya bisa disediakan sama pemilik
penginapan, tapi berhubung istri pemilik penginapan sedang berobat ke Jepara
maka saya nyari makan sendiri. Kalo makan pasti saya makan di Bu Ester dan
situ memang pusat pertukaran informasi gituh, bener-bener tavern-nya Pirates
lah. Makanan di sini pasti hasil laut. Ikan atau Cumi. Ayam harganya lebih
mahal. Setau saya warung makan cuman ada tiga di sini. Tapi selama di sini
saya cuman makan di tempat Bu Ester doang.

Tidak ada warnet di tempat ini, sementara wartel hanya ada satu. Wartel
beroperasi dengan menggunakan radar, jadi ongkosnya sangat mahal. Saya kaget
juga ketika melihat argonya yang kuda. Cepat sekali! Tapi kalau melihat
teknologinya yang juga mahal, pakai radar begitu, saya rasa wajar saja. 

Hari Minggu tadi tanggal 13 baru saya kembali naik kapal cepat Kartini I.
Abis gak ada kapal lain! Terpaksa deh ngerogoh kocek 80 rebu perak (untuk
eksekutif, harganya 95 ribu). Tapi emang cepat! 20 knot dan 3.5 jam saya dah
nyampe di Tanjung Emas, Surabaya. Di belakang saya Karimunjawa, tempat gelap
yang gagal saya lihat. Lain kali ke sana lagi. Bulan April sampai ke Oktober
setiap tahun adalah saat-saat terbaik. 

=====
Tri Laksmana
------------------ 

Setiap menitnya, hutan di Indonesia hilang seluas enam lapangan sepakbola !
   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Nature_Trekker/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give
the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com "No Spamming or forwarding
unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links



 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke