"Priyatni, Zustina (JKT-ME)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:To: 
From: "Priyatni, Zustina \(JKT-ME\)" 
Date: Mon, 21 Feb 2005 09:48:36 +0700
Subject: [Nature Trekker] Perjalanan ke Karimunjawa


Dari milis sebelah� cerita karimun jawa dari sudut pandang lain� menarik ;p 

====== 

Dari cerita kakay saya yang kebetulan mahasiswa kehutanan UGM, dan hobinya 
jalan-jalan ke mana-mana (kakak saya pernah klaim kalau seluruh taman nasional  
di jawa sudah pernah dia masuki, dari ujung kulon di banten sampai alas purwo 
di jawa timur). 

Suatu waktu saya tanya, apa di jawa ini masih ada tempat gelap yang langitnya 
masih jernih tanpa ada polusi cahaya (kebetulan saya ni mahasiswa astronomi, 
dan lembang tempat saya biasa penelitian aja langitnya sudah gak bagus). Dia 
jawab, di Karimunjawa itu langitnya sangat cerah sampai bima sakti saja bisa 
kelihatan. Pergilah saya kesana, tapi sayang waktunya lagi gak bagus karena 
tiap hari berawan dan hujan terus. 

Bagi yang suka menyelam atau snorkeling pasti akan suka tempat ini, karena 
lautnya bening sekali (bahkan laut di sekitar dermaga sangat jernih dan 
ikan-ikan 
masih bersliweran di bawah kapal yang merapat) dan terumbu karangnya sangat 
bagus. Yang suka berkemah pasti lebih senang lagi, karena banyak pulau kosong 
yang tak berpenghuni di kepulauan ini. Cocok sekali untuk main Robinson Crusoe, 
hehehe... 

Berikut ini ceritanya. 

Pulau Karimunjawa letaknya kurang lebih 90 km di barat daya Jepara, bisa 
dicapai dari Semarang atau Jepara lewat tiga cara: Naik kapal kecil pengangkut 
ikan, naik ferry, atau naik kapal cepat 20 knot. Kapal kecil berangkat dari 
Pelabuhan Kartini, Jepara, setiap pagi jam 5.00. Jadwalnya enggak tentu, kadang 
ada kadang enggak(tapi berangkat hampir setiap hari). Ongkosnya murah tapi, Rp. 
15.000 saja. Tapi perjalanan lamanya 6 jam dan karena kapalnya kecil 
goyangannya luar biasa (yang gak biasa bisa langsung mabok). Tidurnya deket 
mesin yang memekakkan telinga, belum lagi risiko kapalnya terbalik atau 
tenggelam. Pokoknya bahaya lah (tapi lebih seru).

Ferry "Muria" berangkat dua kali seminggu. Hari Rabu dari Pelabuhan Kartini, 
Jepara, dan kembali lagi Hari Kamis. Ongkos kurang lebih Rp. 20.000, lamanya 
perjalanan juga 6 jam. Tapi lebih aman walaupun masih ada risikonya juga kalau 
lagi sial (tenang, ada asuransi. Kalau kapal kecil gak ada). Datang lagi ke 
Karimunjawa hari Sabtu Sore dan kembali ke Jepara hari Senin pagi. 

Kepulauan ini total ada 27 pulau, yang dihuni cuma 5. Penduduk total ada 8000 
jiwa. Pulau utama yang terbesar adalah Karimunjawa, soalnya paling besar. 
Informasi lebih lanjut tentang Karimunjawa bisa dicari di google, tapi dephut 
punya info di 
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_karimun.htm 

Pada awal tahun ini Harian Kompas juga pernah menulis feature tentang Kepulauan 
ini: www.kompas.com/kompas-cetak/0501/08/Wisata/1454122.htm 
www.kompas.com/kompas-cetak/0501/08/Wisata/1454125.htm 

Saya dateng ke pulau ini hari kamis tanggal 10 Februari 2005. Hari Rabu Tanggal 
9 saya pergi ke Semarang dari Jogja jam enam sore, sampai jam 22.30. Saya 
telpon pelabuhan, ternyata kapal hanya ada hari sabtu. Oleh karena itu saya 
langsung pergi ke terminal Terboyo dan naik bus ke Kudus. Dari Kudus nyambung 
lagi ke Jepara (sebenarnya ada bis langsung, tapi waktu itu tengah malam jadi 
angkutan rada-rada susah. Kalau beramai-ramai mungkin lebih baik carter mobil) 
dan di Pelabuhan saya nyari2 kapal ke Karimunjawa, ternyata ada. Saya sampai 
jam 3 pagi di pelabuhan Kartini dan kapal baru berangkat jam 5.30, jadi ada 
waktu tidur dulu di dek kapal yang lebarnya cuma 2 meter (dengan beratap 
langit-langit. Sempat gerimis sebentar sehingga saya pindah ke palka). 

Kapal yang saya tumpangi adalah kapal kecil yang saat itu digunakan untuk 
mengangkut es batu. Awaknya ada tiga, yang satu di bawah terus ngurus mesin, 
jadi ini mekaniknya. Di atas ada dua orang, yang satu nyupir. Sepanjang 
perjalanan saya banyakan tidur soalnya ngantuk belum tidur semaleman. Kapal ini 
rupanya bukan punya mereka tapi punya juragan mereka rumahnya merangkap gudang 
barang. Saya kalau tidur di palka. Di samping saya tidur ada mesin kapal, jadi 
kuping saya rada budek kalo naik ke dek. Tiga awak kapal ini kelihatannya 
pelaut senior yang pengalaman melautnya sudah tinggi. Pada pagi hari saat 
hendak berangkat, cuaca mendung dan sedikit gerimis. Salah seorang awak melihat 
horizon dengan seksama, dan temannya berkata, "Ada nggak?" yang kemudian 
dijawab, "ada tuh, ada." Dan berangkatlah mereka. Entahlah apa yang dimaksud 
oleh kedua orang itu, tapi menurut saya yang mereka cari adalah tanda-tanda 
alam yang menjamin amannya perjalanan mereka. Saya agak ketar-ketir melihat 
cuaca
 mendung ini, jadi saya tanya saja kepada juru mudinya, yang paling tua di 
situ, "Pak, kalau cuacanya begini apa aman?" Dan dijawab dengan santai, "Oooh, 
ini mah aman. Sudah biasa kok." Sepanjang perjalanan modal mereka hanya sebuah 
kompas yang dibawa keluar dari palka. Kompas ditaruh di atas dek, begitu saja, 
dan sepanjang perjalanan mereka hanya mengandalkan pengalaman mereka. Di 
tengah-tengah perjalanan Pulau Jawa sudah menghilang dari horison dan Kepulauan 
Karimunjawa pun belum kelihatan. Jadi practically we're in the middle of 
nowhere tapi mereka toh bisa juga menentukan arah menuju Karimun. Rupa-rupanya 
inilah kehebatan bangsa kita sebagai bahariwan. Pengetahuan mereka tentang 
perilaku gelombang laut juga sangat hebat. Mereka mengetahui bahwa tinggi 
gelombang bergantung pada kedalaman laut, bila lautnya dangkal gelombang akan 
tinggi sementara laut dalam gelombangnya tenang. Tentu saja mereka mengetahui 
ini dari pengalaman (saya mengetahui hal ini dari kuliah fisika tentang
 gelombang, hehehehe).

Sampai di Karimunjawa jam 12.15, jadi lamanya perjalanan kurang lebih 6 jam. Di 
dekat dermaga ikan (ada dua dermaga di sini, dermaga ikan tempat kapal-kapal 
kecil berlabuh dan dermaga ASDP tempat kapal cepat dan kapal ferry berlabuh) 
ada warung punya Bu Ester, terkenal sekampung dan perannya seperti tavern di 
game Sid Meier's Pirates. Bisa nyari info, ngobrol sama pemilik warung, 
mabuk-mabukan, dan dengerin gosip terbaru. 

Saya tertarik dateng ke sini sebenernya cuman mo nyari kegelapan. Bukannya saya 
pangeran kegelapan sih, tapi tempat ini kan jauh dari mana-mana yang 
terang-terang jadi pasti langitnya bagus untuk pengamatan astronomi. Sayangnya 
saya dateng pada bulan yang salah. Di sini cloud coveragenya buruk dan 
sepanjang hari berawan trus. Mana hujan terus lagi. Jadilah saya terdampar di 
sini. Besoknya ternyata gak ada kapal karena hari 1 suro. Besoknya lagi juga 
gitu, gak ada ikan untuk diantar ke Jepara karena kemarennya orang2 pada gak 
melaut. Jadilah sepanjang hari saya duduk2 di losmen, di warung bu ester, atau 
di pinggir pantai terdekat sambil mebaca novel. Lumayanlah pulang-pulang saya 
udah namatin sebuah novel dan 2 buku tentang posmodernisme.

Di sini everybody knows everyone. Orang asing baru datang langsung dikenali. 
Gak ada yang bawa jam tangan di sini, jadi langsung ketauan kalo saya 
pendatang. Gak ada yang nenteng2 buku di sini (kecuali anak sd), jadi saya 
langsung keciri. Gak ada yang berkacamata di sini, jadi saya langsung ketauan. 
Maling virtually nonexistent, malahan motor itu kuncinya ditinggal terus gak 
pernah dikantongin. Angkutan umum gak ada karena semua orang punya motor. 
Malahan kalo mau minjem motor punya orang juga dia pasti berbaik hati minjemin. 
Gak mungkin dicolong, mau dibawa kemana coba? Hampir semua motor di sini barang 
curian, 
dipasok dari pasar gelap (katanya). Jadi surat-suratnya gak pernah ada. Gak 
penting lah, gak ada yang meriksa ini. Polisi memang ada, tapi mereka 
kerjaannya maen judi melulu, hwahahahahaha... (kata orang loh) dan kebanyakan 
adalah polisi2 yang dimutasi, mungkin karena indisipliner kali. Kantor Kodim 
aja kosong melulu gak ada orangnya. 

Nah karena jalanan di sini pada lengang semua, saya pinjem aja motor bebek 
punya pemilik losmen (padahal saya gak bisa naik motor). Jadilah saya 
keliling-keliling pulau naik motor, menyebrang ke Pulau Kemojan yang terhubung 
jembatan dan ngobrol sama petugas bandara dewadaru. Ada bandara di sini tapi 
tidak ada penerbangan rutin, semuanya carteran. Petugasnya tinggal di situ, gak 
bisa pulang karna dia pegawai departemen perhubungan yang ditempatkan di situ. 
Pokoknya kasihan banget lah dia kesepian di situh. Kelihatannya dia tidak 
membawa bahan bacaan karena dia bilang bahan-bahan bacaannya adalah brosur 
wisata yang ada di situ dan itupun sudah habis dibacanya. 

Beberapa kilometer dari kota utama, terdapat Makam Sunan Nyamplung, anak Sunan 
Muria yang diasingkan ke pulau ini. Sunan Nyamplung datang ke pulau dengan 
menggunakan kapal yang terbuat dari kayu pohon dewadaru. Ia kemudian menanam 
kayu dewadaru dan tumbuhlah di pulau itu. Pohon dewadaru termasuk pohon yang 
dikeramatkan dan kayu-nya tak boleh dibawa keluar dari pulau tersebut. Menurut 
kepercayaan, kapal manapun yang membawa dewadaru keluar dari pulau 
tersebut pasti akan tenggelam. Bahkan bandara setempat selalu menggeledah 
siapapun yang akan meninggalkan pulau, takut kalau2 membawa dewadaru nanti 
mencelakakan kapal terbang. Pendatang yang menumpang kapal ikan juga selalu 
ditanya apakah membawa dewadaru. Konon menurut cerita, satu-satunya cara untuk 
membawa dewadaru dengan aman adalah dengan menaruh dahan tersebut di atas kapal 
yang dek-nya terbuat dari kayu dewadaru. Kapal ini tak akan tenggelam karena 
pasti akan kembali ke Karimun. 

Sayangnya saya belon sempet muter-muter ke pulau lain karna cuacanya buruk 
terus dan lagipula duit saya terbatas (Di sini tidak ada ATM jadi sebaiknya 
nyetok uang dulu di Semarang, Kudus, atau Jepara). Sewa perahu seharian 
biayanya ratusan ribu dan saya cuman sendirian. Kalo ramai-ramai kan bisa 
patungan tapi kalo sendiri ya saya tanggung sendiri. Lagian di sini enaknya 
nyilem tapi saya belum bisa diving. Jadi kalo ke sini lagi udah harus bisa 
nyilem dan bersertifikat, biar lebih enak. 

Seingat saya hanya ada satu penginapan di sini (dikelola oleh kecamatan 
setempat, kalau tidak salah), sisanya adalah homestay, yaitu rumah penduduk 
yang difungsikan sebagai penginapan. Biaya menginap satu malam berkisar antara 
25 hingga 50 ribu. Pemilik penginapan umumnya menyediakan makan 3 kali sehari 
dengan tambahan biaya, biasanya umumnya 12 ribu per hari. Menurut penduduk yang 
saya temui, yang paling murah adalah Hanfah yang biasa ditinggali oleh 
mahasiswa yang sedang penelitian, jadi mungkin ada diskon khusus untuk 
mahasiswa di homestay tersebut. Kebetulan saya tak tinggal di homestay 
tersebut. 

Di penginapan saya, makan sebenernya bisa disediakan sama pemilik penginapan, 
tapi berhubung istri pemilik penginapan sedang berobat ke Jepara maka saya 
nyari makan sendiri. Kalo makan pasti saya makan di Bu Ester dan situ memang 
pusat pertukaran informasi gituh, bener-bener tavern-nya Pirates lah. Makanan 
di sini pasti hasil laut. Ikan atau Cumi. Ayam harganya lebih mahal. Setau saya 
warung makan cuman ada tiga di sini. Tapi selama di sini saya cuman makan di 
tempat Bu Ester doang.

Tidak ada warnet di tempat ini, sementara wartel hanya ada satu. Wartel 
beroperasi dengan menggunakan radar, jadi ongkosnya sangat mahal. Saya kaget 
juga ketika melihat argonya yang kuda. Cepat sekali! Tapi kalau melihat 
teknologinya yang juga mahal, pakai radar begitu, saya rasa wajar saja. 

Hari Minggu tadi tanggal 13 baru saya kembali naik kapal cepat Kartini I. Abis 
gak ada kapal lain! Terpaksa deh ngerogoh kocek 80 rebu perak (untuk eksekutif, 
harganya 95 ribu). Tapi emang cepat! 20 knot dan 3.5 jam saya dah nyampe di 
Tanjung Emas, Surabaya. Di belakang saya Karimunjawa, tempat gelap yang gagal 
saya lihat. Lain kali ke sana lagi. Bulan April sampai ke Oktober setiap tahun 
adalah saat-saat terbaik. 

===== 
Tri Laksmana 
------------------ 

Setiap menitnya, hutan di Indonesia hilang seluas enam lapangan sepakbola !
   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Nature_Trekker/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke