Di Aceh, kita melihat banyak masjid yang masih utuh. Di Meulaboh saya lihat satu. Di internet sempat beredar rangkaian gambar masjid-masjid yang utuh. Belakangan muncul kabar bahwa ada beberapa gereja yang juga lolos dari kehancuran. Di India, satu-satunya yang tersisa dari sebuah desa pesisir adalah patung Mahatma Gandhi.
Banyak yang memuji kebesaran Allah Ta'ala dan menganggapnya mukjizat. Barangkali memang mukjizat, tapi saya suka dengan penjelasan Farid Gaban di bawah ini, yang lebih memuaskan akal saya. Wassalam -- Tomi Satryatomo http://www.trekearth.com/members/wisat http://satryatomo.blogspot.com ---------- Forwarded message ---------- From: faridgaban <[EMAIL PROTECTED]> Date: Fri, 04 Mar 2005 05:00:02 -0000 Subject: [pantau-komunitas] Arsitektur - Kenapa Banyak Masjid Aceh Tahan Tsunami? To: [EMAIL PROTECTED] Arsitektur - Kenapa Banyak Masjid Aceh Tahan Tsunami? Salam, Saya baru pulang dari Banda Aceh kemarin. Mengunjungi wilayah Kajhu, pinggiran Banda Aceh, saya melihat masjid yang utuh meski sekelilingnya luluh-lantak akibat tsunami. Banyak sudah diperdebatkan kenapa masjid-masjid Aceh bisa selamat dari gempuran ombak. Tapi, merenungkan masjid Kajhu itu, saya merasa menemukan jawaban baru atas misteri tadi. Penjelasannya lebih bersandar pada fisika dan mekanika. Masjid Kajhu tidak dibangun dengan dinding yang utuh. Ada banyak jendela besar di dinding itu, juga pilar-pilar besar di berandanya yang "open-space". Kayu pintu dan jendela kaca besar mudah rontok oleh gempuran ombak. Setelah digempur ombak, bangunan masjid menjadi sebuah struktur porous (seperti batu berongga) yang leluasa mengalirkan air. Ini berbeda dengan bangunan berdinding padat yang akan mirip bendungan ketika datang air bah. Sekuat apapun cenderung akan jebol. Di Calang saya menemukan masjid baru yang dibangun pada era Soeharto, Masjid Amal Bakti Pancasila, rontok total akibat gempuran tsunami meski letaknya jauh dari pantai. Seperti masjid di kota-kota besar, masjid ini berdinding padat dengan pintu dan jendela yang sering terkunci. Sebaliknya, masjid-masjid tradisional (tak hanya di Aceh, tapi juga di Jawa) umumnya dibangun dengan konsep "open-space". Jikapun ada pintu dan jendela, ukurannya besar-besar. Tidak hanya memberi rasa lega ketika orang berjamaah Jumat, tapi juga memberi kesan ramah, mengundang masuk semua orang. Arsitek yang paham benar fungsi masjid (dalam makna yang luas, tidak sekadar tempat ibadah) akan menghormati konsep "open-space" seperti itu. Dan ketika orang merenungkan pembangunan kembali Aceh, aspek arsitektur tradisional seperti itu mudah-mudahan menjadi pertimbangan utama. salam, Farid Gaban [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Indonesian Backpacker Communities visit our website at www.indobackpacker.com "No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately" Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
