http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/9904/23/metro/badu17.htm Jumat, 23 April 1999
Baduy Dalam, Baduy Luar, dan "Baduy Proyek" Kompas/jpe Top of Form Bottom of Form DI depan gerbang milenium ketiga sekarang ini, dunia tengah berada dalam gelombang perubahan mahadahsyat. Banyak bangsa, termasuk Indonesia, gonjang-ganjing dilanda krisis multidimensional; sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan krisis eksistensial. Masyarakat dunia tengah bergolak, sebelum menemukan bentuk dan tatanannya yang baru di awal tahun 2000-an yang bakal segera tiba. Namun, di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, hanya sekitar 100 kilometer di sebelah tenggara Jakarta, Ibu Kota republik ini, yang dikunjungi akhir Maret 1999, suara hiruk-pikuk dan getaran perubahan besar itu sama sekali tak terasa. Desa di balik bukit-bukit pegunungan Kendeng di Banten Selatan itu, masih saja seperti yang dulu. Suku Baduy, penghuni kampung-kampung di Kanekes, sejak ratusan tahun lalu memang dikenal tak pernah mau tahu dengan apa pun yang terjadi di luar batas desanya. Perubahan, reformasi, apalagi revolusi, tak ada dalam kamus masyarakat manusia yang terdiri dari sekitar 7.000 kepala itu. Jangankan mengubah tatanan sosial, ekonomi, atau politik. Bagi orang Baduy, cara berbusana saja pantang diganti-ganti. Sejak zaman kakek moyang dress code mereka tetap sama; baju pangsi dan kain-kebaya putih-putih untuk laki-laki dan perempuan Baduy Dalam. Baju pangsi hitam-hitam dan kebaya hitam atau biru tua bagi warga Baduy Luar. Aturan soal penutup badan ini baru satu dari sekian ribu aturan adat yang bersumber pada ajaran agama Sunda Wiwitan, agama arkais yang masih dipeluk orang Baduy sampai detik ini. *** KEPALA adat Baduy sekaligus ulama agama Sunda Wiwitan disebut puun. Jumlahnya tiga orang. Mereka tinggal di wi-layah Baduy Dalam yang sakral, di kampung-kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana. Fatwa dari para puun inilah yang membuat Tanah Baduy hingga sekarang masih relatif bebas dari segala pengaruh budaya non-Baduy. Listrik termasuk barang haram di Tanah Baduy. Meski di Banten Selatan sejak beberapa tahun lalu listrik sudah masuk ke banyak desa yang terpencil, Kanekes sampai sekarang masih saja tetap gulita di waktu malam. Demikian juga sekolah bagi anak-anak, dokter, dan segala macam komoditas produksi non-Baduy, sejak dandang untuk menanak nasi, piring-gelas, sampai semen dan pipa pralon. Semua orang Baduy membangun rumah hanya dari bahan-bahan yang bisa didapat di kebun dan hutan. Tiang dan rangka dari kayu, dinding dari anyaman bambu. Atap rumah terbuat dari daun rumbia dilapis ijuk agar tak gampang bocor. Aturan adat juga mengatur gaya arsitektur rumah dan ke mana bangunan itu harus menghadap. Itu sebabnya, meski dibangun dengan bahan-bahan sederhana, rumah-rumah di sebuah kampung Baduy selalu tampak teratur rapi. Adat Baduy pun membatasi kegiatan-kegiatan ekonomi yang boleh dilakukan warganya. Orang Baduy boleh bertani, tetapi dilarang berdagang. "Maksudnya, kami tak boleh membeli barang dari orang lain dan dijual kembali untuk mendapatkan untung. Kami hanya boleh menjual hasil bumi kami dan barang-barang lain yang kami hasilkan sendiri," kata Arsid, pemuda dari Kampung Gajeboh. "Bertani pun kami tak boleh sembarangan. Menanam kopi, misalnya, juga dilarang di Kanekes. Juga menanam kayu jenjing yang bisa dijual sebagai bahan peti di pabrik-pabrik," jelas Pulung, warga Gajeboh lainnya. Namun, larangan ini tak membuat orang Baduy sulit mendapat penghasilan. Dari kampung-kampung Kanekes setiap hari keluar berkuintal-kuintal pisang, kelapa, durian -kalau sedang musim- dan gula aren. Hasil-hasil pertanian itu mengalir ke desa-desa sekitar, bahkan sampai ke Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak. Dengan cara itulah orang-orang Baduy mendapat uang tunai. Dana segar hasil penjualan hasil bumi itu sebagian dibelikan berbagai komoditas yang tak mereka hasilkan sendiri, seperti garam, ikan asin, rokok. Tak banyak jenis komoditas lain yang mereka beli karena memang dilarang adat. Orang Baduy berprinsip, selama memiliki uang mereka akan tetap membeli beras, meski mereka juga menghasilkan padi sendiri. Padi hasil ladang sendiri cuma disimpan di dalam lumbung, dan baru dikonsumsi saat upacara adat atau jika memang benar-benar perlu. "Karena itu, banyak orang Baduy yang punya simpanan padi sampai berton-ton, karena hasil panen tiap tahun tak pernah dimakan," kata Syarif, laki-laki Baduy dari Kampung Kaduketug. "Tak jarang ada yang masih memiliki padi hasil panen beberepa puluh tahun lalu," tambahnya. *** BADUY barangkali satu-satunya masyarakat adat Nusantara yang paling teguh mempertahankan kebudayaan dan tradisi purbanya. Levend antiquiteit, begitu seorang penulis Belanda pernah menyebut mereka. Resistensi masyarakat Baduy pada perubahan boleh dikata luar biasa. Apalagi karena desa mereka relatif dekat dari Jakarta, yang menjadi garda terdepan dalam segala perubahan di Bumi Indonesia. Namun, perubahan bukannya sama sekali tak terjadi di Kanekes. Pembagian wilayah dan warga Baduy secara tradisional menjadi dua paruh, Baduy Dalam dan Baduy Luar, mencerminkan adanya dinamika dalam komunitas itu. Wilayah Baduy Dalam yang meliputi kampung-kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana hanya boleh dihuni mereka yang mampu melaksanakan seluruh aturan adat secara sempurna. Orang Baduy Dalam pantang bercerai setelah menikah. Mereka juga tak boleh bepergian memakai kendaraan alias hanya boleh berjalan kaki, bahkan jika pergi ke Jakarta atau Bandung sekalipun. Di Baduy Dalam, tak boleh ada sepotong pun barang-barang asing yang diharamkan. Mereka yang ketahuan melanggar aturan, dipersilakan segera keluar. Baduy Luar adalah tempat penampungan mereka yang tak sanggup menjaga kesucian wilayah Baduy Dalam. Ke sanalah mereka "dibuang" karena berbagai pelanggaran adat yang tak termaafkan. Bercerai, misalnya. Atau ketahuan bepergian jauh dengan menumpang kereta api. Namun, penduduk Baduy Luar tak lantas menjadi komunitas tersendiri. Mereka, yang kini menjadi mayoritas Kanekes, tetap menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat Baduy secara keseluruhan. Setiap orang Baduy Luar -urang panamping, begitu istilah mereka- tetap harus taat pada semua fatwa para puun. Hanya saja pantangan-pantangan yang berlaku bagi mereka lebih ringan ketimbang yang harus ditaati orang Baduy Dalam atau urang kajeoroan, menurut istilah Baduy. Mereka, misalnya, boleh naik kendaraan umum atau kereta api kalau sedang saba kota. Mereka juga tak diharamkan bercerai kalau tak lagi bisa hidup rukun dengan suami atau istri. Orang Baduy Luar, terutama mereka yang sering bepergian ke luar Kanekes, dalam kehidupan sehari-hari diam-diam banyak yang suka melanggar aturan adat. Misalnya saja makan dan minum dengan piring dan gelas beling. Padahal mestinya mereka tetap bersantap di piring kayu atau daun pisang. Sebagian ada pula yang sudah memiliki jam tangan dan radio transistor, yang sebetulnya merupakan barang-barang haram. Akan tetapi, perubahan itu baru terjadi di tingkat tingkah laku. Perubahan belum menyentuh tataran sistem budaya dan sistem nilai. Orang Baduy Luar yang memiliki radio dan jam tangan, masih percaya hal itu sebenarnya merupakan dosa. Mereka tatap sadar, barang-barang itu sebenarnya tak boleh dimiliki. Lagi pula memiliki barang-barang haram bukannya tanpa risiko. "Setahun sekali di sini ada razia. Dilakukan polisi Baduy yang disebut baresan. Atas perintah puun mereka periksa semua rumah. Semua barang larangan yang ditemukan disita. Piring-piring langsung dipecahkan," kata Arsid yang pergelangan tangan kirinya dililit sebuah arloji sport digital. *** SEBAGIAN orang Baduy kini tak lagi tinggal di Kanekes. Sejak awal zaman Orde Baru (Orba), lebih dari 30 tahun lalu, secara bertahap, lebih dari 100 keluarga Baduy meninggalkan desa adat mereka itu dan pindah ke beberapa permukiman baru yang dibangun Departemen Sosial dalam rangka proyek pemukiman kembali (resettlement) masyarakat terasing. Kampung-kampung baru itu tersebar di berbagai desa lain di Kecamatan Leuwidamar, antara lain di daerah Gunungtunggal (yang tertua), Margaluyu, Cipangembar, dan Sukatani. Departemen Sosial memang memasukkan orang Baduy dalam daftar masyarakat terasing, dan karena itu, seperti yang lain-lainnya, dianggap harus dimukimkan kembali. Tetapi, orang Baduy sendiri banyak yang bingung kenapa mereka dianggap masyarakat terasing. "Kami 'kan bukan suku terasing," kata Daenah, orang Baduy Luar yang jadi Kepala Desa atau Jaro Desa Kanekes. Dari dulu, kata Daenah, orang Baduy tak pernah terasing. Desa Kanekes tak pernah jadi kawasan tertutup. Siapa saja boleh keluar-masuk. Hanya pada bulan-bulan tertentu yang dianggap suci orang asing tak boleh datang. Itu pun hanya di wilayah Baduy Dalam. Semua orang Baduy, kecuali para puun, boleh bepergian ke mana pun juga, sesuka mereka. Mereka pun biasa berhubungan dengan orang-orang lain, antara lain untuk menjual hasil bumi dan membeli berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti beras dan ikan asin. Umumnya orang Baduy juga bisa hidup layak dari hasil ladang dan kebunnya. Barangkali itu pasalnya banyak rumah yang dibangun Departemen Sosial untuk orang Baduy tetap kosong, meski sudah berdiri bertahun-tahun. Dari sekitar 10 kampung proyek permukiman kembali, menurut Daenah, hanya yang ada di Gunung Tunggal yang terisi penuh. Kampung Sukatani dihuni oleh sekitar 150 kepala keluarga. Tetapi itu pun tak semuanya keluarga Baduy. Ratusan unit rumah di kampung-kampung proyek resettlement lain, seperti di Pasircakar dan Cimanggu, hampir semua tak berpenghuni atau diisi orang-orang non-Baduy. "Kami tidak pernah minta kampung dan rumah baru, tetapi diberi terus," kata Daenah. "Namun, karena sudah jadi proyek, pembangunan terus dilakukan," tambahnya. Proyek terakhir adalah pembangunan 100 unit rumah di Pasirgintung, tak jauh dari Kanekes, yang diresmikan Februari 1999 silam. Sebagian besar rumah di sana juga tampak kosong melompong. Seorang laki-laki warga Ba-duy Luar dari Kampung Kaduketug menjelaskan, orang Baduy yang memilih keluar dari Kanekes umumnya karena malas bekerja. Akibatnya mereka menjadi orang Baduy yang miskin. "Orang Baduy Proyek itu mau pindah hanya karena pemerintah menjanjikan bantuan sandang-pangan untuk beberapa bulan," katanya. "Baduy Proyek" adalah istilah untuk menyebut orang Baduy yang kini mukim di kampung-kampung proyek pemukiman kembali Departemen Sosial. "Setelah keluar, kehidupan mereka umumnya malah lebih jelek. Mereka banyak yang hanya menjadi pengangguran karena tak memiliki keterampilan apa-apa. Mau bertani juga tak bisa karena tak ada tanah yang bisa digarap. Bahkan tak jarang yang akhirnya menjadi pencuri," kata Daenah. Hanya dalam masyarakat Baduy Poyek inilah yang telah terjadi berbagai perubahan yang maha besar. Di bawah bimbingan para penyuluh lapangan Departemen Sosial dan tokoh-tokoh lain, mereka berubah dari petani yang produktif dan mandiri menjadi kaum pekerja kasar serabutan yang konsumtif dan hidup tergantung pada belas kasih orang lain. Para pakar antropologi kini barangkali harus mengkaji ulang masalah kategorisasi sosial dalam masyarakat Baduy. Jika sebelumnya orang Baduy hanya terbagi atas dua kategori, yakni orang Baduy Dalam dan Baduy Luar, kini sudah ada pula orang "Baduy Proyek" alias orang Baduy Luar Sekali... (mulyawan karim) , [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Indonesian Backpacker Communities visit our website at www.indobackpacker.com "No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately" Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
