http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0409/27/teropong/1258910.htm
Senin, 27 September 2004

Masyarakat Baduy yang Mengalami Perubahan

DALAM hal makanan, orang Baduy tergolong sangat fanatik. Mereka tidak mau 
menyantap makanan selain makanan tradisional yang mereka santap setiap 
hari. Maklum, masyarakat yang tinggal di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa 
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini sangat memegang 
teguh adat istiadat nenek moyang mereka hingga saat ini.
MEREKA tidak akan menyantap jenis makanan yang tidak dimakan nenek moyang 
mereka. Mereka juga tidak akan melakukan kebiasaan yang dulunya tidak 
pernah dilakukan nenek moyang mereka. Kebiasaan mandi tidak menggunakan 
sabun masih berlangsung hingga saat ini.
Tidak memakai sabun mandi bukan berarti mereka tidak punya uang, tetapi 
benar-benar demi mengikuti kebiasaan orangtua mereka. Kalau ada warga Baduy 
yang coba-coba memakai sabun saat mandi dan sampai ketahuan, pasti mendapat 
teguran keras. Teguran ini bisa berujung pada pemecatan sebagai warga Baduy 
Dalam.
Akan tetapi, orang Baduy adalah manusia biasa yang punya keinginan untuk 
sedikit berbeda. Ketika di antara mereka berjalan-jalan menuju daerah lain 
atau bahkan hingga Jakarta dengan berjalan kaki, ada juga yang ingin 
mencoba minuman Sprite atau Coca-Cola.
Ketika Kompas mengajak beberapa warga Baduy Dalam berjalan-jalan hingga ke 
Rangkasbitung, di tengah jalan mereka haus. Saat ditawari minum, mereka 
ternyata memilih minuman Coca-Cola di kotak minuman pinggir jalan. Coca- 
Cola adalah jenis minuman yang tidak dikenal kakek-nenek mereka.
"Saya pernah makan di McDonald's," tutur Jakri (29), salah seorang warga 
Baduy Dalam. Makan di restoran waralaba dari Amerika Serikat itu rasanya 
bukan hal yang aneh, namun terasa janggal untuk Jakri yang berasal dari 
Kampung Cibeo, Kecamatan Leuwidamar.
MASYARAKAT Baduy hidup dengan aturan adat yang ketat. Di Baduy Dalam, 
pikukuh atau aturan adat adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Hal ini 
berbeda dengan Baduy Luar yang masih memperbolehkan naik kendaraan.
Meskipun melihat berbagai barang berteknologi yang dibawa oleh wisatawan, 
masyarakat Baduy Dalam masih mempertahankan adat mereka.
Mereka masih "setia" berjalan kaki, mengedepankan kejujuran, menolak 
mencemari lingkungan (tanah dan air), dan tidak merokok. Baduy Dalam 
menerapkan adat lebih ketat dibandingkan dengan Baduy Luar. Salah satu 
perbedaannya, warga Baduy Luar diperbolehkan berkendaraan.
Menurut Jaro Cikeusik, Alim, apa yang dibawa masyarakat luar-sepanjang 
tidak bertentangan dengan adat-tidak memengaruhi kehidupan masyarakat Baduy 
Dalam. Jaro Alim menegaskan, adat yang dilanggar diyakini bisa menyebabkan 
bencana alam dan mengundang berbagai penyakit.
SUKU Baduy sering disebut urang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, 
Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 
km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari 
Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy.
Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. 
Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya. Kampung Baduy 
Luar sering disebut kampung panamping atau pendamping, yang berfungsi 
menjaga Baduy Dalam.
Untuk menuju Baduy Dalam, pengunjung bisa naik mobil dari Rangkasbitung ke 
terminal Ciboleger atau menyewa sampai ke Cijahe, lalu diteruskan dengan 
berjalan kaki untuk sampai ke kampung Baduy Dalam.
DALAM keseharian, kaum lelaki dari Baduy Dalam menggunakan ikat kepala 
putih. Kecuali puun atau pemimpin adat, para lelaki menggunakan baju hitam 
dan sarung selutut berwarna biru tua bercorak kotak-kotak. Kaum perempuan 
menggunakan sarung batik biru, kemben biru, baju luar putih berlengan 
panjang. Gadis-gadis menggunakan gelang dan kalung dari manik.
Lelaki dari Baduy Luar menggunakan ikat kepala biru bermotif batik. 
Perempuannya menggunakan kain batik dan baju biru tua atau hitam. Namun, 
banyak juga di antara mereka berkaus dan bercelana jins.
Menurut Yuli (33), warga Baduy Luar, dalam sebulan ratusan orang datang ke 
Baduy. Mereka berlatar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial yang 
beragam. Interaksi warga Baduy dengan masyarakat lain menyebabkan perubahan 
gaya hidup warga Baduy.
Menurut pakar budaya dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI, Prof Dr 
Ayatrohaedi (65), perubahan pada suatu masyarakat tidak dapat dihalangi. 
Adat tak dapat berbuat banyak menghadapi perubahan. Adat sering kali hanya 
menerapkan peraturan, namun tidak mampu menindak.
Kalau dulu masyarakat Baduy cukup makan dengan nasi, ikan asin dan garam, 
kini mereka gemar makan mi instan. Menurut Nasib (25), salah seorang 
pedagang makanan yang berkeliling dari Baduy Luar hingga Baduy Dalam, 
rata-rata sepekan ia bisa menjual 10 kardus atau 400 bungkus mi instan.
Tak cuma mi instan, menyantap spageti dengan sumpit pun tidak membuat 
mereka kikuk. Awal September lalu, Narpa (45) dan dua anaknya, serta 
beberapa lelaki Baduy lahap menyantap makanan Italia yang disajikan tamu 
dari Jakarta yang menginap di rumahnya. Hanya istri Narpa saja yang mengaku 
tidak doyan.
Pergeseran selera makan pun terjadi pada anak-anak. Jarmin (46), warga 
Kampung Cibeo, mengaku, di masa anak-anak ia hanya memakan pisang bakar 
sebagai camilan. Kini ia harus mengeluarkan Rp 10.000 untuk jajan tiga 
anaknya yang gemar camilan-camilan dalam kemasan, permen, atau minuman kemasan.
Penjual makanan datang dari luar Cibeo sebab masyarakat Baduy Dalam tidak 
diperkenankan berdagang oleh adat.
Peraturan adat hanya melarang masyarakat Baduy untuk makan daging kambing, 
anjing, dan kucing serta minum sesuatu yang memabukkan. Aturan ini 
menyebabkan es lilin, minuman ringan (soft drink), susu, roti, dan makanan 
ringan dengan mudah diterima masyarakat Baduy.
Jika bepergian ke kota, orang Baduy Dalam biasa membawa oleh-oleh 
buah-buahan atau makanan yang tak ada di kampungnya. "Habis enggak ada lagi 
yang boleh dibeli," ungkap Sanif (25), warga Baduy Dalam berambut gondrong 
yang biasa membawa jeruk, apel, anggur, dan kelengkeng.
Di Jakarta, beberapa kali mereka dijamu makan di restoran mewah oleh 
kenalannya. Jangan heran kalau orang-orang Baduy Dalam bisa bercerita soal 
Toserba Sarinah atau Mal Pondok Indah.
PERGAULAN dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan 
teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti 
masyarakat lain, mereka menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan 
bahkan memiliki radio. "Kalau boleh beli motor, mau juga sih punya," kata 
Saliya (27) sambil tertawa.
Orang Baduy Luar maupun Dalam kadang-kadang nonton televisi di rumah warga 
luar Baduy. Orang-orang Cibeo menonton di Ciboleger yang jaraknya sampai 12 
km. Sementara orang Baduy dari Kampung Batubelah menonton ke Cijahe yang 
jaraknya 3 km.
"Kalau malam, orang-orang Baduy datang dengan membawa obor untuk menonton 
televisi," tutur Acih, seorang warga Cijahe. "Nonton mah meunang. Mun boga 
tivi, teu meunang ku adat," ujar Kuenci (67), buruh tani yang mengatakan 
bahwa adat tidak melarang mereka menonton, yang tidak diperbolehkan adalah 
memiliki televisi.
Kuenci selalu mampir untuk menonton televisi sepulang bertani di 
Leuwidamar. Jumat (3/9) siang, ia tengah menonton siaran berita, mengaku 
meski tak mengerti bahasa Indonesia, tapi ia menyukai gambar-gambar 
bergerak di televisi.
Sanip (28) yang tiga bulan lalu berganti status dari Baduy Dalam menjadi 
Baduy Luar pun sudah menggunakan jam tangan. Begitu juga Saliya yang sejak 
lahir berstatus warga Baduy Luar. "Jam ini dikasih teman tahun kemarin," 
ucap Saliya. Ia mengaku belajar membaca jam tangan selama setahun.
Buat Saliya dan Sanip, fungsi jam tidak hanya sebagai penunjuk waktu, 
tetapi juga untuk "gaya-gayaan". Saliya yang berasal dari Kampung Kaduketug 
dan Sanip dari Kampung Balimbing menanggalkan jam tangan sebelum masuk 
kampungnya.
"Tidak berani pake, takut kena marah orang tua atau jaro," kata Saliya, 
ayah dua anak ini. Jaro adalah wakil dari pemimpin adat yang berhubungan 
langsung dengan warga. Jaro terdapat di setiap kampung Baduy. Jaro 
berkedudukan di bawah puun.
Di Kampung Kaduketug (Baduy Luar), banyak warga memiliki radio. Setiap 
sebulan sekali, jaro memperingatkan warga agar selalu taat pada adat. 
"Sebetulnya sih takut. Tapi jaro-nya juga punya," kata Antiwin (26).
Tak cuma radio, Yuli warga Baduy Luar bahkan sudah punya telepon seluler 
atau ponsel. Beberapa warga Baduy Dalam, meski tak punya ponsel dan tak 
dapat baca-tulis, dapat menggunakan telepon. Jangan kaget jika ada orang 
Baduy Dalam bilang, "Saya minta alamat dan nomor HP kamu, ya."
"Saya suka telepon lewat wartel di Ciboleger. Tadinya memang enggak kenal 
angkanya. Tetapi, disamakan saja antara gambar nomor di telepon dan di 
catatan saya," ungkap Jarmin.
ORANG Baduy sehari-hari berbahasa Sunda kasar. Bahasa yang dipakai mereka 
tidak mengenal tingkatan bahasa atau pemakaian bahasa berdasarkan status 
sosial. Rasa hormat pada orang lain tidak diperlihatkan lewat kata-kata 
khusus, tetapi lewat tingkah laku mereka.
Adat mengharuskan mereka berbahasa Sunda untuk mempertahankan kemurnian 
budaya masyarakat. Namun, tak sulit menemukan orang Baduy yang bisa 
berbahasa Indonesia, terutama di Baduy Luar. Mereka yang fasih berbahasa 
Indonesia biasanya orang-orang yang sering bepergian ke kota.
Selain berbahasa Indonesia, beberapa orang Baduy Dalam bisa pula 
menggunakan kata-kata berdialek Betawi, bahkan mengeluarkan kosakata bahasa 
Inggris. "Temen saya yang tinggal di Pondok Indah, Jakarta, punya istri 
orang Australia. Saya sering denger mereka ngomong bahasa Inggris," ujar 
Jakri menjelaskan dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang bahasa Inggris.
Orang Baduy juga senang bercanda, tetapi hanya dengan orang yang sudah 
dikenalnya. "Kalau belum kenal, saya diam saja," aku Sanif yang sering 
bercanda dan saling bertukar pengetahuan bahasa Indonesia dengan 
teman-temannya. Sanif juga bisa berdialek Betawi karena sering berdagang di 
Jakarta.
Berteman akrab dengan orang Baduy Dalam tidak sulit karena orang-orang 
Baduy bersikap terbuka terhadap orang asing. Ayatrohaedi membenarkan hal 
itu. Sewaktu ia datang ke Baduy tahun 1967 dan tidak memiliki tempat 
menginap, seorang warga Baduy dengan tulus menawari untuk menginap di 
rumahnya. (Y01/Y02/Y09/Y10/nas)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke