Ada tiga pulau kecil di seberang Teluk Napoli. Namun, kami lebih memilih Capri, 
pulau mungil dengan keindahannya sangat melegenda itu. Tak ada salahnya memang. 
Pulau yang penduduknya hanya sekitar 700 ribu, menawarkan sejuta pesona. Laut 
yang bening hijau kebiruan, pantai karang atau berpasir putih, gua bawah laut 
hingga reruntuhan rumah peninggalan kekaisaran Romawi. Pantas saja bila Capri 
dianggap sebagai salah satu tempat tetirah terbaik di dunia. Dan tak perlu 
heran bila selebritis internasional menjadikan Capri sebagai salah satu tempat 
favorit plesirannya.
Naomi Campbell kerap terlihat melenggang di pub Baraonda. Atau Dustin Hofmann 
asyik mengunyah pasta di resto Capaninna. Michael Douglas, Keanu Reeves, Omar 
Sharif juga salah satu pelanggan tetap pulau ini.
Jauh sebelum bintang-bintang Hollywood ini berkelebat di Capri, manusia-manusia 
superkaya dunia, sudah sering mengunjungi Capri. Tiberius, salah satu kaisar 
Roma, malah menjadikan Capri kantor sekaligus rumah pribadinya. Tiberius ogah 
tinggal di Roma, ibu kota Imperium Romawi. Dari Villa Jovis, rumah pribadinya 
di Capri, Tiberius memerintah Imperium Roma.
Ratu Elizabeth juga sempat memiliki rumah pribadi di pulau ini, meski saat ini 
bekas rumah salah satu elite Inggris itu sudah rata dengan tanah. Sementara 
seorang dokter Swedia, Axel Munthe, membangun kerajaan kecil di atas bukit 
pulau ini.
Jadi, jangan terlalu heran jika harga-harga di Capri selalu nangkring tinggi. 
Bahkan, kadang tak masuk akal. Kami menginap di sebuah villa yang fasilitasnya 
tak lebih dari sebuah losmen di Jakarta. Hanya sebuah kamar double dengan 
jendela kecil. Kamar mandinya hanya sebuah shower dan toilet sederhana. Namun 
untuk menginap semalam, kami mesti merobek dompet hingga sekitar Rp 900 ribu.
Harga makanan atau servis lainnya pun, juga cukup mahal. Tapi, itulah Capri. 
Meski mahal, saban hari, pulau ini dibanjiri 5.000- an pengunjung. Musim panas, 
kunjungan seharinya bisa melebihi jumlah penduduk lokalnya. Dan jangan kaget 
jika mesti ngantre untuk beberapa fasilitas umum di pulau mungil ini.
Beruntung, kami datang saat musim semi mulai tiba. Turis, meski terbilang 
banyak, tetap tidak terlalu padat. Cuaca juga tidak terlalu dingin, namun tak 
bisa dikatakan hangat. Saat macam itulah, memang paling ideal menikmati Capri.

Alam yang Indah
Apa sih yang membuat Capri begitu menarik? Sehingga kami terpaksa meniru gaya 
hidup selebritis dunia itu? Keindahan alamnya tentunya. Dan keindahan itu sudah 
menyambut kami, begitu ferry yang kami tumpangi dari Napoli mulai mendekati 
Capri.
Pulau Capri terlihat kukuh, meski kecil. Tebing karang terlihat memantulkan 
debur ombak, dan burung camar berseliweran mengincar ikan. Begitu Caremar, 
ferry kami, merapat di Marina Grande, dermaga utama pulau ini, aroma turisme 
begitu menyengat. Toko suvenir berjejeran, perahu-perahu – dari yang sederhana 
hingga termewah sekalipun – berjejalan di dermaga. Turis berseliweran di 
mana-mana.
Salah satu keindahan alam itu bernama Grotta Azzura. Saya agak kaget menemukan 
kalimat ini. Lho ini kan salah satu judul novel almarhum Sutan Takdir 
Alisyabanah (STA). Betul. Tapi di pulau ini, Grotta Azzura (goa biru) bukan 
sebuah judul novel. Namun sebuah gua di balik tebing karang pinggir laut yang 
begitu menakjubkan keindahannya. Memang ada banyak gua di sekitar tebing karang 
pulau ini. Namun Grotta Azzura paling mempesona.
Mulut gua itu berada di sebuah pantai terjal bertebing karang. Untuk 
mencapainya, tentu mesti menggunakan perahu. Jangan ditanya bagaimana keindahan 
di dalamnya. Laut bening biru kristal, langit-langit gua yang kekar, serta 
pantulan pasir putih di dalamnya, begitu menakjubkan. Kinclong deh pokoknya. 
Apakah STA terpanah dengan keindahan gua ini lalu menjadikannya sebuah judul 
novelnya? Siapa tahu.
Pulau ini kecil, jadi bisa sehari saja mengelilingi semua ujungnya. Namun, kami 
ternyata memerlukan 3 hari dua malam untuk menikmatinya. Bukan apa-apa, rasanya 
sayang melewatkan pulau yang begitu mempesona ini sehari saja. Apalagi, kami 
tak ingin seperti turis paketan: datang, lihat lalu pergi. Kami sempat 
menjelajah ke beberapa teluk kecil pulau ini. Baik dengan jalan kaki atau naik 
bus lokal.
Salah satu yang begitu mempesona adalah rumah dokter eksentrik asal Swedia, 
Axel Munthe. Munthe membangun vilanya dengan mencampurkan benda-benda kuno 
peninggalan kaisar Tiberius ke dalam rumah mewahnya itu. Taman-taman yang indah 
dengan hiasan patung-patung marmer Romawi di dalamnya, serta pemandangan ke 
laut lepas yang begitu mempesona, menjadikan vila ini sangat istimewa. Apalagi, 
hingga sekarang vila tersebut masih utuh dan terawat. Berbeda dengan vila bekas 
kaisar Tiberius yang tinggal puing belaka. Selain pemandangan laut yang indah, 
bekas vila kaisar Tiberius hanya berupa puing-puing lusuh.
Kami juga sempat berjalan mengelilingi tebing karang pulau ini. Wuih, batas 
antara laut dan pulau ini, terlihat begitu indah. Tak mengherankan, saban hari 
selalu ada kapal pesiar berlabuh. Sementara kota Capri sendiri, juga unik. 
Memang ada jalan utama, namun tak sedikit jalan kecil yang berliku-liku. 
Mungkin kalau di Jakarta hanya disebut gang, karena lebarnya tak lebih satu 
meter. Namun malah membuat jalanan ini makin unik. Hanya mobil mungil bertenaga 
baterei bisa masuk. Selebihnya, ya pejalan kaki. Jalan ke hotel kami juga 
begitu. Jadi, kami mesti menyeret dua koper besar itu begitu kami meninggalkan 
Capri. Tapi, itulah Capri. Saban hari, betapa pun mahalnya, turis terus 
membanjir.


 
____________________________________________________________________________________
Food fight? Enjoy some healthy debate 
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545367

Kirim email ke