Dear backpackers,

berikut ini sekilas pengalaman saya liburan februari awal kemarin. Semoga bisa 
dinikmati

Berlibur ke kampung Paniis di pinggiran ujungkulon
 
Ini perjalanan terberat selama karir jalan-jalan saya karena tepat sebelum 
berangkat saya kena penyakit mules! Panik karena sudah tidak mungkin bangun 
dari tempat tidur tanpa mules, akhirnya terpaksa menelpon teman seperjalanan 
untuk mengantar saya ke dokter. Sudah begitu antri dokter lama dan antri di 
apotik lama akhirnya keluar lah cairan bahagia itu dari mulut. Ah leganya. 
Mungkin selama sebulan saya tidak akan menampakkan diri dulu di apotik Prima 
Husada Cilegon karena muntah di depan kasir nya hehehe.
 
2 hal yg saya lakukan begitu tiba kembali di kos, minum obat anti mules dan 
minum antibiotic. Tidur terlelap dan dibangunkan oleh sms bertuliskan 
“Departure jam 10 malam”. Segera badan ini turun tangga dan menemani anak gadis 
ibu kos nonton TV halah. Jam 9 malam terdengar suara klakson disusul suara 
“siap, berangkat” okeh cabut kita… Namun apa daya karena dari 4 pria, 3 
diantaranya sudah menikah jadi kita spend some time dengna ngopi-ngopi dulu 
yah. Tepat jam 11 malam kita melakukan perjalanan panjang dari Cilegon ke 
ujungkulon semobil Xenia tercintaku.
 
Sesampai di sumu waktu menunjukkan pukul 2 malam dan rombongan satunya yang 
menggunakan angkot pinjaman tidak terlihat di satupun tempat tongkrongan yang 
mungkin bisa dipakai duduk. Wah jangan-jangan digiring ke kantor Polsek karena 
dianggap menyalahi trayek atau malah dikira garong nih. Panik karena HP mereka 
tidak bisa dihubungi akhirnya kita nekat menyusuri jalan langsung menuju 
sasaran kampung Paniis di kegelapan malam. 
 
Selepas Sumur jalanan berubah drastic. Entah kenapa saya mempercayai bualan 
teman saya kalau jalannya sudah mulus. Dua kali mentok di jembatan, begitu yang 
saya ingat dari jeritan Xenia ku tersayang. Eh tiba tiba ada sorotan balasan 
dari mobil di depan. Mungkinkah itu garong di tengah gelapnya malam? Eh 
ternyata cuma angkot salah trayek saja. Betapa senangya kami menemukan 
teman-teman kami memilih tempat yang aneh untuk menunggu.
 
Akhirnya tibalah kami di kampung Paniis. Sebuah desa kecil di pinggir pantai 
tepian Taman Nasional Ujungkulon. Sebuah desa binaan WWF untuk program 
pemberdayaan masyarakat pesisir. Sambutan yang kami terima memang sepi. Jelas 
karena kami sampai jam 3 pagi! Kami duduk melepas lelah di sebuah rumah dipan 
di pinggir pantai sambil berbincang-bincang dengan warga yang berhasil kami 
paksa bangun dan teman WWF kami. Ternyata telah datang mendahului kami 
rekan-rekan mahasiswa UNAS pagi harinya. Wah liburan yang ramai nih.
 
Pagi hari kami bersiap-siap berangkat. Hamparan pantai yang bersih menanti 
kami. Bersih disini berarti baik bersih dari sampah-sampah juga bersih dari 
gedung hotel Marbella ataupun Lippo Carita. Pokoknya bersih dari segala bentuk 
peradaban termasuk hey dimana perahunya?
 
Ternyata perahunya masih terparkir dengan rapi di daratan. Dengan senang hati 
kami berubah fungsi jadi kuli angkut perahu. Agak terheran-heran juga saya 
bagaimana caranya perahu ini bisa sampai sejauh ini ke daratan semantara kami 
dengan penuh perjuangan berasa sulit untuk menggesernya kembali ke where it 
belong: the sea. Masalah belum selesai disini. Rombongan kami jika digabung 
ternyata melebihi kapasitas perahu yang maksimum 15 orang termasuk awak kapal. 
Terpaksa kami mempersilahkan anak-anak UNAS duluan. Sejam kemudian perahu telah 
datang kembali dan langsung menuju ke sasaran kami sesungguhnya, sebuah pulau 
kecil berpasir putih nan cantik di tengah laut.
 
Alangkah indahnya perjalanan laut ini. Terlebih lagi jika diingat sebagian 
besar Jakarta sedang terendam banjir sedang di ujungkulon sini udara cerah 
bersinar kalau tidak mau dikatakan terik. Perjalanan berjalan lambat bukan saja 
kapasitas mesin cuma 15 pk tetapi juga karena kita melawan arus. Namun sedikti 
demi sedikit pulau pasir tak berpenghuni tersebut pun keliatan. Ah masih tetap 
indah seperti dulu.
 
Sepertinya kapal ini kesulitan untuk mendarat di pasir. Terpaksalah kami semua 
melaksanakan pendaratan ala marinir di Omaha Beach dengan cara nyemplung 
langsung ke laut.. Brr dinginnya air laut langsung menerjang tubuh. Dengan 
cekatan kami berhasil mendarat di pantai berpasir putih tersebut. Hey, setelah 
dipikir-pikir, kami kesini khan untuk snorkeling dan bukan untuk berjemur? Ah 
kami akhirnya kembali lagi ke habitat kami di laut hehehe.
 
Jernihnya air laut memperlihatkan kehidupan karang pantainya yang indah. 
Bekas-bekas pengeboman ikan di masa lalu memang masih terlihat. Tapi ditutupi 
dengan cepat tumbuhnya karang Acropora. Ikan-ikan hias berseliweran 
disana-sini. 
 
Hal menarik yang saya temukan disini adalah begitu banyaknya Trumpet fish yang 
saya ketemui. Ikan panjang langsing ini biasanya hidup bersembunyi dan diam 
serta soliter. Namun kali ini jumlahnya begitu mudah diketemukan. Warnanya 
setahu yg saya perhatikan berubah jadi merah jambu dari putih hitam strip 
kuning yang menimbulkan dugaan saya kalau mungkin saja memang ini saatnya musim 
kawin buat mereka. Wah memang bulan februari bulannya cinta yah?
 
Tak terasa hari sudah menjelang sore dan badan kami juga sudah mulai kelewat 
matang maka kamipun segera meninggalkan pulau ini dengan berat hati. Suatu hari 
nanti kami khan kembali. Jagalah dirimu baik-baik. Tetaplah bersolek agar tetap 
cantik dan menggairahkan kami saat kami nanti kembali untuk menyelami keindahan 
tubuhmu...


 
____________________________________________________________________________________
Sucker-punch spam with award-winning protection. 
Try the free Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke