Halo teman milis, berikut adalah lanjutan kisah perjalanan saya tahun 2006 
lalu. Kisah sebelumnya bisa
dibaca di Message Number  milis kita tercinta ini.  Beberapa gambar sebagai 
ilustrasi pelengkap dari
kisah-kisah perjalanan ini bisa dilihat juga di 
http://beha38b.multiply.com/photos/album/200


Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.


 


BAGIAN KEENAM : KE ISTANA VIMANMEK YANG CANTIK, CHECK OUT DARI SAWASDEE, 
SORENYA BERTEMU BIDADARI CANTIK
DI BITEC


 

Naik tuktuk dan macet! Tapi Vimanmek memang cantik..

Bangun pagi di hari keempat, tanggal 17 Februari, segar sekali. Mandi air 
dingin yang segar, saya bergegas
membereskan semua perlengkapan, jadi saat balik siang nanti untuk cek out sudah 
akan beres dan tinggal
angkat saja. Tadi malam saya juga sudah mengantar beberapa pakaian dalam untuk 
di laundry kiloan dan
diambil siang nanti. 

 

Pagi ini saya akan menikmati sarapan di hotel Sawasdee. Lalu nanti membeli 
kwetiauw goreng di jalan depan
Khaosan.

 

Anna juga ikut bergabung ke Vimanmek. Kita naik tuktuk dari KhaoSan melewati  
Chakrabongse lalu ke Thanon
Shri Ayutthaya. Nah, di jalan ini kita terjebak kemacetan yang lumayan padat 
walau sebenarnya masih lebih
parah Jakarta. 

 

Supir tuktuk kita ternyata cukup gesit mencari jalan-jalan tikus yang lengang 
sehingga waktu tempuh
perjalanan dari Khao San yang sekitar 20 menit, hanya menjadi 25 menit saja 
dengan kondisi jalan macet
begitu. Kalau nggak, wah, bisa sejam baru sampai Vimanmek.

 

Vimanmek adalah sebuah istana peristirahatan bagi raja Thailand. Seluruh istana 
dan bagian-bagiannya
terbuat dari kayu jati yang kuat, masif dan eksotis. Tidak ada satupun logam, 
semisal paku, yang dipakai
membangun istana ini. Ornamen dan struktur kayunya akan memberi atmosfir masa 
lalu yang terasa hangat
bagi keluarga raja yang tinggal di sini. Istana yang terdiri dari 3 lantai ini 
memiliki 81 ruang yang
terdiri dari kamar tidur, ruang perpustakaan, hall dan lain-lain. 

Vimanmek dibangun di pulau Srichang, di teluk Siam, lalu atas perintah 
Chulalongkorn (Rama V) dipindahkan
ke Dusit Palace, dan digunakan sebagai tempat tinggal keluarga raja. Keluarga 
Rama V sempat tinggal selama
5 tahun di sini.

 

Area istana ini menempati tanah luas belasan hektar yang sangat terawat. 
Bangunan-bangunannya terlihat
bersih, terang hingga ke sudut-sudut. Pohon-pohon besar menaungi dengan 
daun-daun hijaunya yang merimbun.
Dalam satu bangunan yang agak jauh terpisah terdapat koleksi Ratu Sirikit 
berupa barang seni kerajinan
yang cantik dan menarik.

 

Sayang, di dalam bangunan istananya kita tidak diperkenankan mengambil gambar. 
Jadi, hanya rekaman ingatan
saja. Padahal banyak sekali benda seni dari berbagai pelosok dunia yang menjadi 
koleksinya.

Oya, kita masuk dengan menggunakan karcis yang termasuk dalam pembelian karcis 
masuk Grand Palace 2 hari
lalu.

 

Sebetulnya ada satu istana lagi, namanya Chitralada, yang, kabarnya juga 
cantik, yang harus dikunjungi.
Letaknya di area Dusit yang tidak terlalu jauh dari Vimanmek ini. Tempat ini 
memang tidak bisa dimasuki
karena dipakai sebagai tempat tinggal sehari-hari  raja Thailand saat ini, 
Bhumibol Aduljadej. Sayang,
waktu yang sempit membuat saya harus menyisihkannya dalam wisata kali ini.

 

Dalam lingkungan istana ini juga tersimpan kereta kencana, mobil raja serta 
kendaraan khas Thailand,
Tuktuk kerajaan. Lalu ada istana kayu yang berada di atas air. Dengan ujung 
atap yang meruncing. Persis
seperti bangunan rumah adat Minang. Hanya atapnya tidak meruncing membentuk 
'curve', tetapi 'straight'
lurus ke atas.

 

Taman dan kolamnya sungguh asri, terawat dan bersih sekali. Di satu sudut 
terlihat bangunan seperti kantin
kecil dimana di depannya dijajakan kelapa muda yang sudah dikupas kulit luarnya 
sehingga hanya terlihat
kulit  dalamnya yang putih berbentuk/dibentuk kotak mengerucut ke atas. Wah, 
pasti sedap nih. 

Saya sempatkan minum kelapa ini di sini. Segar sekali. Sayang, si Anna masih di 
dalam, tadi dia asyik
lihat-lihat.

 

Akhirnya tiba jam 11 siang, saatnya kembali ke Sawasdee untuk cek out. 
Sementara itu saya  berpisah dengan
Anna, karena dia tidak ikut seminar, dan bertemu lagi tanggal 20 Februari hari 
Senin.

Cek out dari Sawasdee rasanya gimana gitu. Ada rasa sedih, takut kehilangan, 
kepingin tinggal dan
bergabung terus. Akan meninggalkan keramaian khas Khao San Road yang sangat 
cair, hiruk pikuknya, dan
orang-orang dari seluruh dunia yang  slengekan. Uhh..!

 

Sambil menunggu laundry yang sedang disiapkan saya mengobrol dengan beberapa 
tamu yang sedang bersantai di
lobi hotel. Kemudian si gadis resepsionis ikut bergabung dan menanyakan ini itu 
mengenai Indonesia. Ia
menceritakan keinginannya berkunjung ke Bali, terutama ke Ubud, yang disebutnya 
memiliki kesamaan dengan
daerah asalnya Chiang Rai. Ia tertawa lebar saat saya katakan bahwa saya pernah 
berkenalan dengan seorang
penari Thai Girl Show yang cantik berasal dari Chiang Rai saat saya berkunjung 
ke Chiang Mai tahun 2001
lalu.  Untuk diketahui bahwa, konon, gadis-gadis Thailand Utara seperti Chiang 
Rai ini memang
cantik-cantik. Kulitnya putih susu, rambutnya hitam tergerai panjang dan 
matanya agak sedikit sipit.
Senyumnya benar-benar menawan hati.

 

Obrolan yang akrab ini terputus karena pakaian saya yang telah di laundry telah 
disiapkan dalam satu tas
plastik. Tinggal memasukkannya ke dalam tas backpack saja dan saya segera 
menyelesaikan administrasi di
hotel Sawasdee ini.

 

Dengan naik taxi, saya sampai di Plaza Hotel jam 2 siang dan langsung cek in. 
Pak Wira, bos saya sekaligus
teman sekamar nanti, sudah cek in duluan, tapi saat itu beliau sedang keluar 
dengan rombongan, teman
kantor saya yang lain. Plaza hotel adalah tipe hotel yang besar-besar kamarnya, 
yang kalau mau bisa diisi
4 orang.  Meski kelihatannya seperti hotel lama tetapi bersih. 

 

Karena mengingat belum mengisi perut buat makan siang, dan keinginan makan 
siangnya di BITEC saya bergegas
turun lagi ke lobi dan langsung keluar hotel. 

 

 

 

Berfoto dengan gadis Thai yang cantik 

 

Banyak taksi yang lewat disini, sehingga dengan cepat juga saya sudah naik 
taksi menuju BITEC, tempat
seminar MDRT Experience. Tempat ini jauh sekali dari pusat kota Bangkok, dan 
melewati jalan-jalan yang
rawan macet panjang. Tetapi, alahamdulillah, jalan yang ditempuh cukup 
bersahabat dengan saya. Paha
Ramelan kata orang Jakarta. Artinya Tanpa Hambatan Rame Lancar. Hahahaha..

 

Bangkok is a megapolitan city. Jauh sekali Jakarta tertinggal. Jalan-jalan 
highwaynya panjang-panjang,
bersusun-susun di mana-mana. Kemajuan infrastrukturnya mencengangkan sekali. 
Saya sebenarnya sudah
merencanakan menumpang skytrain atau subway menuju ke BITEC ini, tetapi karena 
pertimbangan kondisi badan
yang sudah lelah dan efsiensi waktu yang membuat saya memutuskan menumpang 
taksi. Padahal fasilitas
skytrainnya sangat oke. Stasiun yang rapi, bersih dan jadwal train yang 
teratur. 

 

Tepat jam 3 sore saya sampai di BITEC. Suasananya ramai sekali, hiruk dan 
pikuk. Nantinya, peserta yang
hadir sekitar 10.000 orang dari berbagai negara Asia dan Eropa. Niatnya saya 
mau cari registration desk
untuk peserta dari Indonesia, tetapi yang pertama saya lakukan adalah mencari 
tempat makan. 

Di basement terletak foodcoourtnya yang panjang dan luas. Sore itu saya makan 
siang dengan Sayur Lodeh
Terong yang lezat dan Ayam Goreng Panir serta Salad Pepaya.

Setelah perut kenyang barulah saya melakukan registrasi peserta. Saya lalu 
melintasi hall utama menuju
Reception Hall di ujung gedung.  

Di depan Reception Hall para pengunjung banyak berkerumun di depan lobinya. Ada 
apa gerangan? Ternyata,
mereka mengantre berfoto dengan dua ekor gajah  Thailand yang besar. 

 

Di sisi satu lagi beberapa pria bergantian berfoto bersama sekelompok gadis 
Thai yang berpakaian
tradisionil. Nah, ini menarik. Saya pun melangkah ke sini dulu.

 

Gadis Thai ini cantik-cantik. Kerling matanya..alamaak! 'Nggak ku ku,... ' kata 
orang. Kulit tubuhnya
halus-halus. Dan kemudaannya membuat mata ini segar kembali.

 

Sambil berfoto saya sedikit-sedikit mengobrol dengan seorang dari mereka. 
Usianya sekitar 20-an dan masih
kuliah di sebuah institut. Selain itu juga bekerja serabutan, parttimer, 
sebagai SPG dalam
pameran-pameran. Gadis satu ini, selain suaranya yang tipis, tutur katanya 
halus dan selalu tersenyum
menampakkan gigi dan lidahnya yang bersih. Huhuyy!!

 

Obrolan terpotong dengan kosongnya antrian berfoto bersama gajah. Jadi, saya 
segera berfoto bersama sang
gajah. Tapi, saya tidak terlalu berani untuk terlalu dekat dengan 'si beliau' 
yang besar ini. Serem,
selain dari tubuh si gajah mengeluarkan bau yang kurang sedap. Hayyah!

Di dalam ruangannya sudah ramai, para peserta ini berkelompok-kelompok dan 
sebagian besar berkerumun di
depan panggung hiburannya. Makanan  berupa kue-kue yang lezat juga minuman 
ringan hingga bir hilir mudik
dibawa pelayan.

 

Tak beberapa lama kemudian rombongan teman-teman sudah bergabung bersama di 
dalam ruangan Reception Hall
BITEC ini. Dan kami semuanya bergembira bersama, sambil merencanakan kegiatan 
asyik setelah seharian
seminar besok. Beberapa teman dari Allianz Thailand menyarankan kita berkunjung 
ke beberapa tempat obyek
wisata seperti Damnoen Saduak dan Ayutthaya.

Hingga seluruhnya berakhir pada pukul  4 sore. Kita akan kembali ke hotel dulu. 
Ya, kita malam ini akan
menghadiri satu undangan dari Allianz Life Thailand yang mengadakan acara makan 
malam bagi seluruh
salesforcenya yang mengikuti seminar di Bangkok.  Undangan makan malam ini juga 
akan dihadiri oleh
salesforce  Allianz dari negara-negara lain. Jadi kita serombongan kembali ke 
Plaza Hotel dengan taxi
untuk mandi dan bersiap-siap.

Ternyata hotel Rama Garden tempat diadakannya acara Welcome Dinner ini sangat 
jauh. Dan beberapa kali
supir taxinya malah kesasar karena tidak tahu jalan. Huu.. Nasib!

Tapi, acara makan malamnya sendiri, sih, sangat meriah dan ramai sekali. 
Pertunjukan khas Thailand
memenuhi seluruh acaranya. Dan, banyak lagi gadis-gadis Thailand yang 
cantik-cantik yang sebagian besar
agen asuransi, salesforce, dari Allianz Thailand. Sekitar jam 9 malam,  sebelum 
acara selesai semuanya,
kami serombongan memilih mendahului keluar dan menumpang taxi menuju SuanLum 
Night Bazaar yang kemarin
malam kita sepakati untuk datangi. 

Tapi jalanan Bangkok malam-malam begini berbeda dengan tadi sore, sekarang 
bersahabat sekali. Dari hotel
Rama Garden yang luas tadi hanya menempuh 20 menit saja. Lancar. Hingga 
menjelang SuanLum di Lumpini agak
tersendat. Kelihatannya karena SuanLum yang lebih ramai dari kemarin. Taxi yang 
kita tumpangi malah
memutar dan masuk area SuanLum dari pintu belakangnya.

Saya dan pak Wira tidak langsung berjalan menuju kios-kios, tetapi duduk-duduk 
di Beer Garden yang sedang
mempertunjukkan hiburan di panggungnya. Sambil minum kopi, kami menikmati 
suasana saja sambil mengobrol
tentang Beer Garden yang sebagian besar  birnya sepertinya berasal dari Jerman. 
Setelah bosan barulah kami
berjalan mengitari zona-zona kios belanja di depan Beer Garden lalu muncul di 
belakangnya dimana banyak
sekali kafetaria, restoran dan tempat nongkrong.

Saya hanya membeli beberapa oleh-oleh kecil saja di sini. Saya pikir kesempatan 
itu masih ada lagi nanti.
Maklum malam itu belum siap dengan kostum belanja soalnya menenteng jas dan 
masih pakai hem. He he he. 

Saat bertemu dengan teman-teman lain sempat kaget juga karena belanjaannya yang 
sudah segunung. Saya
tertawa lebar. Pasti satu taxi tidak akan cukup untuk rombongan kita berlima. 
Berplastik-plastik bawaannya
berisi macam-macam. Sambil memesan makanan kami menarik meja lagi dan terus 
mengobrolkan serunya belanja
di sini.

Thai Ice Coffee yang dingin menggelontor rasa haus sebentar sebelum kita 
mencicipi ketan mangga yang enak,
manis dan gurih sekaligus. Di piring lain ada Salad Pepaya yang segar dicicipi 
beramai-ramai. Nikmat
rasanya. Sengaja kita tidak memilih makanan berat karena tadi sudah makan malam 
berat.

Sekitar setengah jam sebelum pukul 12 malam, datang serombongan teman lain dari 
Allianz Indonesia yang
baru selesai mengikuti Welcome Dinner dan langsung berhamburan menuju kios-kios 
setelah melihat barang
belanja kita. Takut kehabisan katanya..hehehe. Sementara kita hanya duduk-duduk 
saja tidak terpancing
untuk bergerak lagi karena kecapaian. 

Oya,..saat berbelanja di kios-kios tadi di sana sini terdengar banyak 
pengunjung yang berasal dari
Indonesia tampaknya. Ketahuan saat mereka berbicara satu dengan yang lainnya. 
Memang, banyak turis dari
Indonesia yang sudah tahu bahwa SuanLum menyediakan oleh-oleh yang lebih banyak 
macamnya dan lebih
terjangkau dan masuk akal harganya. Sepasang suami istri dari Surabaya 
mengatakan hal ini ketika sama-sama
menawar sarung bantal bermotif gajah di satu kios suvenir. Ini satu 
rekomendasi, bukan?

Akhirnya, jam satu malam baru kita bergerak keluar SuanLum. Panggung di dalam 
Beer Garden sudah dimatikan
lampunya. Dan banyak taxi yang  mengantri penumpang di sepanjang jalan 
seputaran SuanLum ini. Kami
sekarang pulang dalam kelompok  bersepuluh dan menaiki 3 taxi hijau merah 
menuju Surawong. Hati senang,
tetapi badan ini lelah sekali.

Sampai di hotel saya membersihkan badan dan segera tidur. Barang belanjaan 
dibiarkan tergeletak , besok
saja saya bereskan. Besok pagi seminar mulai jam 8, kita harus berangkat jam 7 
pagi.

 

Next : Pembukaan Seminar-Lalu Makan Besar di Surga Makanan Bangkok Sebelum Kena 
Tilang Polisi di Patpong

 

Salam,

BARENS HIDAYAT

            see my activities on   <http://beha38b.multiply.com> 
http://beha38b.multiply.com

                  YM ID : barenshidayat

             

                  people don't care how much you know

                  until they know how much you care...

                     

                  



          

                 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke