Halo Teman Milis, berikut adalah lanjutan kisah perjalanan saya tahun 2006
lalu. Kisah sebelumnya bisa
dibaca di Message Number 17527 milis kita tercinta ini. Beberapa gambar
sebagai ilustrasi pelengkap dari
kisah-kisah perjalanan ini bisa dilihat juga di
<http://beha38b.multiply.com/photos/album/188>
http://beha38b.multiply.com/photos/album/188
Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.
BAGIAN 5 : KE WAT ARUN YANG LEGENDARIS, KAPAL KERAJAAN THAILAND YANG CANTIK DAN
MAH BOON KRONG YANG
POPULER
Naik perahu lagi. Kali ini ke Royal Barge Museum lalu ke Wat Arun yang
legendaris
Bangun pagi di hari ini segar. Karena sudah pernah tidur semalam, jadi tidur
tadi malam nyenyak sekali.
Saya biasanya memang sering mengalami sulit tidur malam hari di suatu tempat
baru. Barulah pada malam
keduanya bisa tidur lebih enak dan nyenyak.
Sehabis mandi saya turun dan sarapan di restoran hotel Sawasdee. Dari sekitar
12 meja. 5 meja terisi tamu
hotel yang sedang sarapan. Pilihan sarapannya adalah roti bakar dengan selai
nenas atau strawberry,
ditambah telur mata sapi atau telur rebus. Selain itu ada ham, irisan daging
babi asin. Yang satu ini,
saya tidak makan. Minumnya bisa pilih teh manis panas atau kopi. Cukup untuk
hotel backpacker sederhana.
Jam masih menunjukkan angka 8 saat selesai sarapan. Saya janjian dengan Anna di
depan, di jalan Khao San.
Lalu saya menyempatkan diri bertanya ke resepsionis kemungkinan untuk mencuci
pakaian di sini. Resepsionis
ceweknya menunjukkan tempat laundry kiloan di belakang restoran. Laundry
kiloan dibandrol 40 Baht tanpa
setrika. Lumayan murah. Nanti malam saja saya akan kirim pakaian kotor ke sini.
Tadi malam jam 2, Lina sms bahwa mereka baru cek in di Hotel Asia. Dan mau ikut
jadwal saya sehari ini.
Jadi kita semua janjian ketemu di Tha Phra Atit.
Ketemu Anna yang sudah sarapan di hotelnya, kita langsung jalan kaki keluar
Khao San. Kemarin sore saya
lihat peta dan mengetahui ada jalan tembus yang singkat menuju dermaga Tha Phra
Atit. Lewat Soi
Rambuttri. Soi Rambuttri adalah jalan kecil terbuat dari batu paving di
seberang Khao San Road. Jalan
setengah melingkar ini memiliki satu ujung yang berada di Jalan Chakrabongse,
berseberangan dengan Khao
San Road, dan ujung lainnya tepat di bawah ujung jembatan Phra Pin Klao yang
masih di area Banglampoo.
Jalanannya dipenuhi toko cenderamata, Seven Eleven, warung dan café-café yang
mendominasi, serta
hotel-hotel backpacker. Pagi itu banyak sekali penjual makanan sarapan.
Bongkahan ayam bakar yang ditusuk
sate terlihat lezat dan menggugah selera, pad thai dan kweetiau goreng, juga
semacam tukang bakso. Lalu
sosis goreng, ikan mas goreng yang kriukk, juga kue-kue khas Thailand, serta
kolak pisang. Terlihat juga
Khao Tom atau bubur encer yang merupakan penganan popular di sini, karena
terkenal lezatnya. Bubur dari
nasi yang begitu pulen. Sedap! Saya punya niat akan makan ini semua.
Hehehe
Oya, juga ketan mangga yang
ngetop itu, masuk dalam rencana kuliner saya.
Di tikungan, samping sebuah hotel, kami masuk dan menyusuri jalan kecil. Di
kiri kanannya banyak sekali
hotel-hotel kecil. Jalan seperti ini mengingatkan saya pada jalan-jalan di
daerah Legian, Bali. Setelah
melewati sebuah hotel yang ramai dengan turis bule yang sedang bersiap-siap
akan berangkat tour, kami
sampai di jalan raya. Ini mestinya jalan (Thanon) Phra Atit. Kami tinggal
menyeberang untuk mencapai
dermaganya.
SMS Lina masuk beberapa menit setelah kami sampai di dermaga. Dia bingung
ngomong ke supir taxi, yang
tidak bisa berbahasa inggris, yang akan membawa mereka ke dermaga Tha Phra
Atit. Akhirnya, tahu nggak,
saya berbicara dengan si supir taxi itu dengan bahasa Thai yang patah-patah.
Dengan bekal kamus singkat
akhirnya si supir mengerti. Saya sempat bilang bai cha cha,..artinya? Jangan
ngebut!..Hahahahahaha..
Hanya setengah jam kemudian mereka sampai di dermaga Phra Atit. Lalu kita
mengobrol seru mengenai
keterlambatan cek in dan rencana jalan hari itu. Setelah menunggu sekitar 20
menit kami naik ke kapal
motor yang merapat. Tujuan kami dermaga Tha Phra Chan, untuk kemudian dengan
kapal motor yang lebih kecil
menyeberang ke Royal Barge Museum.
Air sungai Chao Phraya hari ini agak bersih kelihatannya. Banyak enceng gondok
yang kemarin terlihat
banyak mengambang, sekarang sudah tidak ada lagi. Selain itu suasana sungai
lebih ramai. Banyak jenis
perahu panjang, disebut traditional longtail boat, hilir mudik membawa
penumpang. Longtail boat yang
diberi untaian kembang diujungnya ini biasanya disewa turis selama beberapa jam
untuk menikmati
pemandangan sepanjang sungai Chao Phraya. Perahu yang cantik.
Royal Barge Museum adalah satu tempat parkir perahu-perahu kerajaan Thai. Barge
sendiri adalah jenis
perahu yang pada jaman dahulu biasa digunakan membawa karung-karung berisi
beras dari tanah pertanian
untuk dijual di pasar-pasar di kota besar. Museum ini melakukan perawatan pada
perahu-perahu kerajaan
sebelum digunakan di saat hari-hari besar kerajaan dirayakan. Perahunya
besar-besar dan cantik dengan
ukiran pada seluruh tubuh perahu. Ada beberapa lambang yang menandai pemakai
perahu. Misalnya perahu
khusus Raja dan permaisuri, lalu perahu para putra putri raja dan lainnya. Di
dalam museum kami disuguhkan
satu film video yang memutar kisah pembuatan dan perjalanan perahu-perahu
kerajaan ini dari waktu ke
waktu. Setelah itu berkeliling melihat asesoris perahu seperti tali temali dan
dayung.
Dari Royal Barge kami berencana ke Wat Arun. Karena lama menunggu perahu, kami
memutuskan naik taxi dari
jalan di belakang Royal Barge Museum. Dengan menyusuri jalan kecil yang
berkelok-kelok, di samping museum,
melewati kampung-kampung yang khas Bangkok, akhirnya kami sampai di jalan
besar lalu menyetop taxi.
Wat Arun adalah sebuah kuil yang dari namanya berarti Kuil Fajar Terbit. Konon
saat fajar terbit kuil ini
dipenuhi cahaya yang berpendar dari potongan porselen yang ditempel di seluruh
tubuh Phrangnya. Indah
sekali katanya.
Beberapa Phrang besar terlihat dari arah sungai Chao Phraya, lainnya yang
kecil-kecil berada di dalam area
Wat Arun. Ada sebuah kuil kecil tempat pemujaan dimana sebuah patung Buddha
kecil dilapis emas duduk. Di
sekelilingnya diletakkan semacam makanan sesajian. Pengunjung diperbolehkan
memotret disini. Setelah
berfoto-foto di sekeliling Phrang kami menuju ke depan, ke arah sungai. Banyak
lapak penjual suvenir
disini serta beberapa warung makanan. Kami juga berfoto bersama seorang wanita
berpakaian tradisionil
Thailand, mengikuti turis-turis lain.
Di lapak suvenir kami membeli beberapa suvenir kecil dan kaos-kaos bergambar
khas Thailand seperti Wat
Arun, Grand Palace atau Gajah. Mutu kaosnya bagus, terbuat dari bahan yang
menyerap keringat dengan sablon
gambar yang kuat dan baik. Rini, teman kami, seperti kerasukan memborong
kaos-kaos tadi. Harga per lembar
kaos disini 80 Baht, tidak sampai 20 ribu rupiah. Nantinya kami tahu harga ini
termasuk murah dibanding
dengan harga kaos-kaos serupa yang dijual di pusat perbelanjaan Mah Boon Krong.
Tapi proses belinya memang
alot, dengan tawar menawar yang penuh gelak tawa karena bahasa yang tidak
nyambung. Sambil menunggu
ibu-ibu itu menawar barang, saya makan rujak mangga yang segar sekali. Saya
juga mendapat sebotol air
mineral dingin gratis hasil ngegombal ke si nona penjual suvenir. Hehehe
Ke Siam Paragon, Mah Boon Krong lalu SuanLum Night Bazaar
Jam 12-an kami bergegas menuju dermaga dekat taman bunga Wat Arun. Kami akan
menuju Siam Paragon, pusat
perbelanjaan modern terbesar di Bangkok. Perahu yang kami naiki adalah Chao
Phraya Express Boat yang
kemarin sudah pernah saya tumpangi. Tujuannya adalah ke Tha Si Phraya lalu dari
situ menumpang taxi ke
Siam Paragon.
Express Boatnya tidak benar-benar ekspres, tetapi berjalan lambat. Di dalam
Express Boat, pemandu wisata
berkoar-koar memberi penjelasan mengenai daerah wisata sepanjang sungai Chao
Phraya. Angin menerpa kami
yang berdiri di pinggir perahu yang berjalan perlahan saja. Penumpangnya penuh
tetapi tidak melebihi
kapasitas. Mata agak mengantuk karena angin sepoi-sepoi, tapi kepala sudah
penuh dengan keindahan Bangkok.
Setengah hari ini sudah memberi kepuasan mengeksplorasi 2 tempat wisata di
Bangkok tadi. Sampai di dermaga
Tha Si Phraya kami langsung menaiki taxi menuju Siam Paragon.
Taxi meluncur tersendat di jalan yang ramai memberi kesempatan kami menikmati
jalan-jalan di Bangkok yang
ramai tetapi bersih. Kami melewati bangunan stasiun utama Hualampoong di
perempatan jalan Rama IV yang
ramai. Lalu kawasan Universitas Chulalongkorn sebelum terlihat pusat
perbelanjaan Mah Boon Krong atau yang
biasa disingkat MBK. Rencananya kami akan turun di Siam Paragon, makan siang di
foodcourtnya dan
keliling-keliling sebelum menyeberang ke MBK.
Siang itu Siam Paragon ramai sekali. Maklum, mungkin karena waktu makan siang.
Jadi banyak pegawai kantor
yang istirahat siang dan makan siang disini. Sebenarnya Siam Paragon adalah
area perbelanjaan yang menyatu
dengan Siam Center dan Siam Discovery Center. Jadi besar sekali. Di Siam
Paragon, di lantai dasar dan
bawah tanahnya terdapat Siam Ocean World. Jaringan Sea World dan atau
Underwater World yang, ini
istimewanya, berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Jadi kebayang kan
besarnya tempat ini.
Foodcourtnya luas sekali. Sepertinya semua jenis makanan ada disini. Stal-stal
makanan, meja makan yang
ramai terisi, orang-orang yang hilir mudik. Di ujung satunya ada Gourmet
Market, department store khusus
makanan. Ada counter khusus makanan kecil, cemilan atau snack. Lalu
booth-booth makanan yang dimasak di
tempat seperti Tom Yam Goong serta berbagai masakan Thailand lainnya yang
sangat mengundang selera makan.
Foodhallnya, tempat kita menyantap makanan dimuati ratusan meja berwarna putih
dan kursi ungu yang cantik,
terkesan mewah. Suasananya riuh dengan bunyi orang makan dan mengobrol.
Lantainya yang putih mengkilat
bersih sekali.
Sekali lagi Bangkok menciptakan diri sebagai pusat turis yang memenuhi syarat
dalam menyediakan tempat
wisata yang bersih. Keramaian suasana pengunjung yang makan atau mondar mandir
membawa makanan atau
menggigit roti atau penganan lainnya, bukan berarti kebersihan yang tidak bisa
dikontrol. Petugasnya sigap
membersihkan kotoran yang tumpah atau tisu yang terjatuh ke lantai. Tidak ada
piring kotor yang sempat
terlihat berada di meja makan. Kemewahannya otomatis terjaga pula dengan
kebersihan yang terjaga seperti
ini. Toiletnya? Bersih, bung. Tidak ada harum aneh yang menyeruak dari sana.
Bandrol makanan kelas mal disini termasuk sedang. Apa-apa di Thailand murah
kan. Makan siang kita
rata-rata hanya 200Baht, termasuk minumnya. Tidak sampai 50 ribu lah. Saya
makan ketan mangga yang dahsyat
disini. Ketannya pulen sekali, lengket tapi pera. Bagaimana, tuh,
menerangkannnya. Mangganya, boleh deh
dibilang mangga Bangkok, aduh
manis yang enak banget. Tidak terlalu berair,
sih,.. sepertinya jenis harum
manis kalau di Indonesia. Tapi bentuknya menyerupai dan lebih kecil sedikit
dari mangga golek di
Indonesia. Memanjang dan meruncing di satu sisinya. Ketannya bisa dipilih
sesuai warnanya yang assorted.
Ada kuning, hijau, putih, hitam dan merah muda. Sebenarnya disini ada juga
ketan durian, tetapi saya
tidak sempat menemukan stal penjualnya. Selain itu perut sudah keras benar.
Kekenyangan.
Sambil makan dan ngobrol sana sini, kita susun rencana jalan buat siang dan
sore hingga malam nanti. Kita
akan berputar-putar di Siam Square ini lalu menyeberang ke MBK. Nanti malamnya
kita akan meluncur ke
SuanLum Night Bazaar.
Selesai makan, kita semua kepingin melihat-lihat Gourmet Market, sambil
mungkin, membeli beberapa cemilan
khas Thailand. Saya sendiri punya bekal ketan mangga dan beberapa kue ketan
khas Thailand. Juga sebongkah
cheesecake tidak ketinggalan. Cheesecake ini kelihatan yummy sekali saat
dijejerkan dengan rapinya di atas
meja kaca displaynya. Tapi sebongkah begitu pasti habis dalam 2-3 gigitan saja.
Hehehe..
Di satu stal saya sempat melihat peragaan pembuatan teh tarik ala Malaysia yang
menarik itu. Sementara di
stal yang lain ada demonstrasi pembuatan kue-kue jajan pasar khas Thailand.
Satu stal menjual nasi korma
yang lezat sekali tampaknya. Nasi yang digoreng kecoklatan dengan butiran korma
di sana sini, pipilan
jagung manis serta taburan bawang goreng yang lebar-lebar. Aduh,..jadi mau
makan lagi nih..!
Glekss..gawat!
Sungguh sebuah foodcourt yang komplit dan menarik. Makanannya, semuanya, tampak
lezat dan sangat
mengundang selera kita, pembuatannya menarik dan tempat makannya yang nyaman
dan bersih. Setelah
berkelilingan di sana, kami sempat menukar uang di money changer di Siam
Center, saya juga mencoba
toiletnya yang colourful dengan flat TV di dalamnya. Toilet yang mewah.
Selesai berputar-putar di tempat nyaman ini kami menyeberang ke Mah Boon Krong
yang lebih dikenal dengan
MBK Shopping Center. Ini pusat perbelanjaan lama yang sangat ngetop bagi para
pembelanja dari Indonesia.
Selain Chatucak Market yang buka hanya saat weekend saja. Tapi,..maklumlah
cewek-cewek ini. Sebelum sampai
ke MBK kita malah berputar-putar dulu di toko-toko sebelah MBK. Sebelum
akhirnya masuk ke MBK, tas belanja
sudah memenuhi tangan mereka.
MBK yang bernuansa hijau ramai dengan pengunjung, tapi tidak padat sekali.
Shopping Center ini memang
tidak semewah Siam Paragon yang baru itu. Tapi legendarisnya, terutama di benak
ibu-ibu Indonesia.
Hihihi.. Rencana utama ke MBK ini adalah membeli kaos-kaos khas Thailand
serta,.ini cewek-cewek
lagi,..tas-tas lucu dan beragam modelnya. Tas itu semua rata-rata dibandrol
one nine nine, 199Baht. Itu
sekitar nyaris 50ribu perak. Murah banget kan? Kalau kaos dihargai 99Baht,
sekitar hampir 25ribu perak
saja. Selain membeli kaos buat dipakai di Bangkok sebagai pengganti, saya juga
membeli untuk oleh-oleh
disini. Selebihnya cuma melihat-lihat saja. Saya akan mencoba makanan disini,
nanti saja. Sekarang selera
belum mengumpul lagi. Nanti makanan yang disajikan akan terasa kurang nikmat.
Jam 5 lewat 40 menit sore kita keluar dari MBK. Berduyun-duyun menuju beberapa
tuktuk yang mangkal. Tapi,
lagi-lagi akhirnya kita memilih taxi untuk transportasi ke Suan Lum. Taxi pun
segera menembus keramaian
jalanan Bangkok yang padat.
Suan Lum Night Bazaar terletak di pinggir jalan Rama IV yang ramai dan masih
dalam distrik Pathumwan.
Letaknya berseberangan dengan taman kota yang asri Lumphini Park. Suan Lum
bahkan sudah ramai sebelum
malam benar-benar turun. Sore masih cerah sekali, kemeriahan dan keramaian
suatu bazaar sudah terlihat.
Mobil parkir berderet-deret.
Di tengah-tengah antara deretan kios restoran ( food vendors ) dan kios-kios
penjual suvenir ada satu
panggung tinggi dan besar. Sepertinya digunakan untuk pertunjukan hiburan. Di
depan panggung bersusun
seratusan meja yang dikelilingi kursi-kursi. Tempat pengunjung menikmati makan
dan minum. Biasa disebut
Beer Garden, karena memang sponsor utama tempat ini adalah perusahaan bir.
Iklan minuman bir bertebaran
seantero tempat ini. Hmm,..konsepnya jelas. Setelah berputar-putar berbelanja
suvenir, pengunjung akan
makan atau minum-minum bir di sini sambil dihibur para artis di atas panggung
terbuka. Tagnya pun
jelas
popular after work venue for office staff.
Areanya luas sekali. Mencakup beberapa zona. Ada zona eksibisi, zona belanja
suvenir khas Thai, clothing,
accessories, handicraft Thai, juga elektronik dan lain-lain lagi. Terus ke
belakang juga ada beberapa
restoran dan coffee corner. Wah, nggak akan cukup mengeksplorasi semalaman nih.
Tapi yang pertama saya lakukan adalah mencoba makanannya. Sambil melihat-lihat
kios penjual masakan saya
menyusuri selasar di depan kios-kios ini. Berbagai makanan dan masakan yang
lezat-lezat berjejer panjang,
dari ujung ke ujung. Minuman, berbagai macam es, selain bir, juga mengundang
decap lidah. Saya mencoba
yang ringan-ringan dulu saja, deh. Salad Mangga dan Tom Yam ala Chiang Mai. Tom
Yam ini mirip dengan yang
saya lihat kemarin malam di Silom, hanya udangnya agak lebih kecil. Bisa
memilih udang sendiri nggak ya?
Hehehe
Salad mangganya tophh
karena segar dan asamnya yang membuka saluran pori-pori
liur dalam rongga mulut
kita, sehingga memeras seluruh air liur untuk keluar. Huahh..Rasa letih akibat
jalan-jalan tadi berubah
oleh segarnya raut muka yang dialiri darah karena rangsangan liur yang keluar.
Udangnya kering sekali dan
terasa harum, seperti dibumbui dulu. Ini meningkahi rasa asam irisan mangganya,
membuat sehabis selesai
mengunyah ingin langsung menyuap lagi dan lagi. Kalau gitu kayaknya makannya
harus pelan-pelan
ya..sedikit-sedikit. Sepertinya kalau disandingkan ( pairing ) dengan bir enak
kali ya, kata saya dalam
hati, sambil melihat peragaan penuangan bir dari beer sprinkler di meja
seberang saya. Tapi ah, nanti
eksperimen itu bisa mengganggu kenikmatan dan kelezatan asli salad mangga ini.
Sup Tom Yam yang magtig, yang dihidangkan kemudian di hadapan saya ini sungguh
sangat luarbiasa. Belum
pernah melihatnya soalnya. Kuahnya bersantan dengan warna merah oranye,
pedasnya juga asam hhuhhhhhh..
hhaaaaahh..! Jamurnya, kok bisanya, agak kresss gitu. Hangat serehnya terasa
sekali, selain gurih
santannya. Aromanya mengundang selera makan sekali. Daging udangnya menyerap
bumbu dengan baik menandakan
udang yang segar. Selain itu ada sedikit potongan daging ikan dan cumi serta
jamur tadi. Di atasnya
ditaburi sedikit irisan daun bawang dan daun ketumbar (cilantro). Tarikan asam
dan pedas yang cair di
dalam mulut merupakan kombinasi rasa yang rampak dan sinergis. Seluruh indra
pengecap saya masih mampu
mendeteksi dan merasakan jejak asam dari perasan jeruk dan daun jeruk serta
cabai giling merah yang
mentah. Dan karena kuahnya juga panas saya menghirup dan menyeruputnya perlahan
tapi terus, seakan tidak
ingin memutus alunan rasa nikmat dalam kerongkongan. Hingga musik mulai
dimainkan di panggung pun tak
terdengar sampai orang-orang bertepuktangan. Benar-benar kenikmatan tiada tara.
Dalam hati saya berkata,
nanti, di Indonesia, saya akan coba bikin Tom Yam seperti ini. Ditambahi
sedikit santan supaya ada rasa
gurihnya.
Sambil sesekali menikmati pertunjukan saya menghabiskan hidangan. Sementara jam
sudah menunjuk ke angka 7
malam lebih. Sambil merokok saya bersantai. Teman-teman lain entah kemana deh,
tuh. Mungkin mereka
blusukan ke dalam kios-kios di sana itu sambil menawar habis-habisan. Kita
sepakat akan berkumpul di
tengah susunan meja kursi ini jam 9 nanti. Tapi kalau ramai sekali bagaimana
ya? Setelah hilang pegal dan
rasanya makanan telah turun semua ke dalam usus, barulah saya bergerak ke arah
kios-kios penjual suvenir.
Cukuplah waktu satu setengah jam, sebelum berkumpul, untuk mengeksplorasi
tempat ini. Dan saya langsung
menuju bagian belakang dulu, nanti berjalan bergerak ke arah depan, arah Beer
Garden ini.
Zona A dan B terlihat ramai bahkan padat pengunjung. Di sini terletak
barang-barang kerajinan khas Thai
yang populer seperti manik-manik gajah yang ditempel di kain, gajah-gajahan
dari kayu, ukiran gajah dan
ular, tempat tissue juga kaos-kaos yang gambarnya Grand Palace, Wat Arun,
Damnoen Saduak, hingga Tuk Tuk
yang lucu. Keinginan hati, sih, membeli beberapa oleh-oleh sekarang ini. Tapi
malas menenteng-nenteng ini
yang selalu menahan hati untuk menawar. Lagipula masih banyak waktulah untuk
kembali lagi ke sini. So,
saya hanya memuaskan mata saja menikmati ramainya suasana di sini.
Tepat jam 9 saya balik ke tengah Beer Garden lagi dan melihat teman-teman sudah
berkumpul di situ. Mereka
ternyata juga sudah memesan makanan dan minuman. Dan,
tentengannya sudah
segunung! Kelihatan sekali banyak
barang yang menarik di SuanLum ini yang membuat teman-teman saya ini terpaksa
menenteng segitu banyak
kantong plastik.
Lalu sambil makan dan menikmati hiburan dari penyanyi di atas panggung kami
bertukar cerita seru sambil
memperlihatkan barang belanjaan. Hingga jam menunjukkan pukul 11 dan mata
kelelahan menahan kantuk dan
letih, berjalan seharian. Kami memutuskan kembali ke penginapan masing-masing
untuk beristirahat. Besok
pagi acara masing-masing, saya, mau ke Vimanmek, istana dari kayu jati yang
tradisionil, lalu siangnya cek
out dari Sawasdee terus cek in ke Plaza Hotel di Surawong. Sorenya, sekitar jam
3, harus sudah meluncur ke
BITEC untuk registrasi peserta seminar MDRT dan welcoming party bagi para
attendee yang ikut hadir.
Next : Ke Istana Vimanmek yang cantik, sorenya ke BITEC dan foto bareng gadis
Thai yang
cuanntikk-cuanntikk
Salam,
BARENS HIDAYAT
see my activities on <http://beha38b.multiply.com>
http://beha38b.multiply.com
YM ID : barenshidayat
people don't care how much you know
until they know how much you care...
[Non-text portions of this message have been removed]