Halo Teman Milis, berikut adalah lanjutan kisah perjalanan saya tahun 2006 
lalu. Kisah sebelumnya bisa
dibaca di Message Number 17527 milis kita tercinta ini.  Beberapa gambar 
sebagai ilustrasi pelengkap dari
kisah-kisah perjalanan ini bisa dilihat juga di    
<http://beha38b.multiply.com/photos/album/188>
http://beha38b.multiply.com/photos/album/188


Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.


 


BAGIAN 5 : KE WAT ARUN YANG LEGENDARIS, KAPAL KERAJAAN THAILAND YANG CANTIK DAN 
MAH BOON KRONG YANG
POPULER


 


Naik perahu lagi. Kali ini ke Royal Barge Museum lalu ke Wat Arun yang 
legendaris


Bangun pagi di hari ini segar. Karena sudah pernah tidur semalam, jadi tidur 
tadi malam nyenyak sekali.
Saya biasanya memang sering mengalami sulit tidur malam hari di suatu tempat 
baru. Barulah pada malam
keduanya bisa tidur lebih enak dan nyenyak.

 

Sehabis mandi saya turun dan sarapan di restoran hotel Sawasdee. Dari sekitar 
12 meja. 5 meja terisi tamu
hotel yang sedang sarapan. Pilihan sarapannya adalah roti bakar dengan selai 
nenas atau strawberry,
ditambah telur mata sapi atau telur rebus. Selain itu ada ham, irisan daging 
babi asin. Yang satu ini,
saya tidak makan. Minumnya bisa pilih teh manis panas atau kopi. Cukup untuk 
hotel backpacker sederhana.

Jam masih menunjukkan angka 8 saat selesai sarapan. Saya janjian dengan Anna di 
depan, di jalan Khao San.
Lalu saya menyempatkan diri bertanya ke resepsionis kemungkinan untuk mencuci 
pakaian di sini. Resepsionis
ceweknya menunjukkan tempat ‘laundry kiloan’ di belakang restoran. Laundry 
kiloan dibandrol 40 Baht tanpa
setrika. Lumayan murah. Nanti malam saja saya akan kirim pakaian kotor ke sini. 

Tadi malam jam 2, Lina sms bahwa mereka baru cek in di Hotel Asia. Dan mau ikut 
jadwal saya sehari ini.
Jadi kita semua janjian ketemu di Tha Phra Atit.

Ketemu Anna yang sudah sarapan di hotelnya, kita langsung jalan kaki keluar 
Khao San. Kemarin sore saya
lihat peta dan mengetahui ada jalan tembus yang singkat menuju dermaga Tha Phra 
Atit. Lewat  Soi
Rambuttri. Soi Rambuttri adalah jalan kecil terbuat dari batu paving di 
seberang Khao San Road. Jalan
setengah melingkar ini memiliki satu ujung yang berada di Jalan Chakrabongse, 
berseberangan dengan Khao
San Road, dan ujung lainnya tepat di bawah ujung jembatan Phra Pin Klao yang 
masih di area Banglampoo.
Jalanannya dipenuhi toko cenderamata, Seven Eleven, warung dan café-café yang 
mendominasi, serta
hotel-hotel backpacker. Pagi itu banyak sekali penjual makanan sarapan.  
Bongkahan ayam bakar yang ditusuk
sate terlihat lezat dan menggugah selera, pad thai dan kweetiau goreng, juga 
semacam tukang bakso. Lalu
sosis goreng, ikan mas goreng yang kriukk, juga kue-kue khas Thailand, serta 
kolak pisang. Terlihat juga
Khao Tom atau bubur encer yang merupakan penganan popular di sini, karena 
terkenal lezatnya. Bubur dari
nasi yang begitu pulen. Sedap! Saya punya niat akan makan ini semua. 
Hehehe…Oya, juga ketan mangga yang
ngetop itu, masuk dalam rencana kuliner saya.

Di tikungan, samping sebuah hotel, kami masuk dan menyusuri jalan kecil. Di 
kiri kanannya banyak sekali
hotel-hotel kecil. Jalan seperti ini mengingatkan saya pada jalan-jalan di 
daerah Legian, Bali. Setelah
melewati sebuah hotel yang ramai dengan turis bule yang sedang bersiap-siap 
akan berangkat tour, kami
sampai di jalan raya. Ini mestinya jalan (Thanon) Phra Atit. Kami tinggal 
menyeberang untuk mencapai
dermaganya. 

SMS Lina masuk beberapa menit setelah kami sampai di dermaga. Dia bingung 
ngomong ke supir taxi, yang
tidak bisa berbahasa inggris, yang akan membawa mereka ke dermaga Tha Phra 
Atit. Akhirnya, tahu nggak,
saya  berbicara dengan si supir taxi itu dengan bahasa Thai yang patah-patah. 
Dengan bekal kamus singkat
akhirnya si supir mengerti. Saya sempat bilang ‘bai cha cha’,..artinya? Jangan 
ngebut!..Hahahahahaha..

Hanya setengah jam kemudian mereka sampai di dermaga Phra Atit. Lalu kita 
mengobrol seru mengenai
keterlambatan cek in dan rencana jalan hari itu. Setelah menunggu sekitar 20 
menit kami naik ke kapal
motor yang merapat. Tujuan kami dermaga Tha Phra Chan, untuk kemudian dengan 
kapal motor yang lebih kecil
menyeberang ke Royal Barge Museum.

Air sungai Chao Phraya hari ini agak bersih kelihatannya. Banyak enceng gondok 
yang kemarin terlihat
banyak mengambang, sekarang sudah tidak ada lagi. Selain itu suasana sungai 
lebih ramai. Banyak jenis
perahu panjang, disebut ‘traditional longtail boat’, hilir mudik membawa 
penumpang. Longtail boat yang
diberi untaian kembang diujungnya ini biasanya disewa turis selama beberapa jam 
untuk menikmati
pemandangan sepanjang sungai Chao Phraya. Perahu yang cantik.

Royal Barge Museum adalah satu tempat parkir perahu-perahu kerajaan Thai. Barge 
sendiri adalah jenis
perahu yang pada jaman dahulu biasa digunakan membawa karung-karung berisi 
beras dari tanah pertanian
untuk dijual di pasar-pasar di kota besar. Museum ini melakukan perawatan pada 
perahu-perahu kerajaan
sebelum digunakan di saat hari-hari besar kerajaan dirayakan. Perahunya 
besar-besar dan cantik dengan
ukiran pada seluruh tubuh perahu. Ada beberapa lambang yang menandai pemakai 
perahu. Misalnya  perahu
khusus Raja dan permaisuri, lalu perahu para putra putri raja dan lainnya. Di 
dalam museum kami disuguhkan
satu film video yang memutar kisah pembuatan dan perjalanan perahu-perahu 
kerajaan ini dari waktu ke
waktu. Setelah itu berkeliling melihat asesoris perahu seperti tali temali dan 
dayung.

Dari Royal Barge kami berencana ke Wat Arun. Karena lama menunggu perahu, kami 
memutuskan naik taxi dari
jalan di belakang Royal Barge Museum. Dengan menyusuri jalan kecil yang 
berkelok-kelok, di samping museum,
melewati kampung-kampung yang  khas Bangkok, akhirnya kami sampai di jalan 
besar lalu menyetop taxi.

Wat Arun adalah sebuah kuil yang dari namanya berarti Kuil Fajar Terbit. Konon 
saat fajar terbit kuil ini
dipenuhi cahaya yang berpendar dari potongan porselen yang ditempel di seluruh 
tubuh Phrangnya. Indah
sekali katanya. 

Beberapa Phrang besar terlihat dari arah sungai Chao Phraya, lainnya yang 
kecil-kecil berada di dalam area
Wat Arun. Ada sebuah kuil kecil tempat pemujaan dimana sebuah patung Buddha 
kecil dilapis emas duduk. Di
sekelilingnya diletakkan semacam makanan sesajian. Pengunjung diperbolehkan 
memotret disini. Setelah
berfoto-foto di sekeliling Phrang kami menuju ke depan, ke arah sungai. Banyak 
lapak penjual suvenir
disini serta beberapa warung makanan. Kami juga berfoto bersama seorang wanita 
berpakaian tradisionil
Thailand, mengikuti turis-turis lain.

Di lapak suvenir kami membeli beberapa suvenir kecil dan kaos-kaos bergambar 
khas Thailand seperti Wat
Arun, Grand Palace atau Gajah. Mutu kaosnya bagus, terbuat dari bahan yang 
menyerap keringat dengan sablon
gambar yang kuat dan baik. Rini, teman kami, seperti kerasukan memborong 
kaos-kaos tadi. Harga per lembar
kaos disini 80 Baht, tidak sampai 20 ribu rupiah. Nantinya kami tahu harga ini 
termasuk murah dibanding
dengan harga kaos-kaos serupa yang dijual di pusat perbelanjaan Mah Boon Krong. 
Tapi proses belinya memang
alot, dengan tawar menawar yang penuh gelak tawa karena bahasa yang tidak 
nyambung. Sambil menunggu
ibu-ibu itu menawar barang, saya makan rujak mangga yang segar sekali. Saya 
juga mendapat sebotol air
mineral dingin gratis hasil ngegombal ke si nona penjual suvenir. Hehehe…

 


Ke Siam Paragon, Mah Boon Krong lalu SuanLum Night Bazaar


Jam 12-an kami bergegas menuju dermaga dekat taman bunga Wat Arun. Kami akan 
menuju Siam Paragon, pusat
perbelanjaan modern terbesar di Bangkok. Perahu yang kami naiki adalah Chao 
Phraya Express Boat yang
kemarin sudah pernah saya tumpangi. Tujuannya adalah ke Tha Si Phraya lalu dari 
situ menumpang  taxi ke
Siam Paragon. 

Express Boatnya tidak  benar-benar ekspres, tetapi berjalan lambat. Di dalam 
Express Boat, pemandu wisata
berkoar-koar memberi penjelasan mengenai daerah wisata sepanjang sungai Chao 
Phraya. Angin menerpa kami
yang berdiri di pinggir perahu yang berjalan perlahan saja. Penumpangnya penuh 
tetapi tidak melebihi
kapasitas. Mata agak mengantuk karena angin sepoi-sepoi, tapi kepala sudah 
penuh dengan keindahan Bangkok.
Setengah hari ini sudah memberi kepuasan mengeksplorasi 2 tempat wisata di 
Bangkok tadi. Sampai di dermaga
Tha Si Phraya kami langsung menaiki taxi menuju Siam Paragon.

Taxi meluncur tersendat di jalan yang ramai memberi kesempatan kami menikmati 
jalan-jalan di Bangkok yang
ramai tetapi bersih. Kami melewati bangunan stasiun utama Hualampoong di 
perempatan jalan Rama IV yang
ramai. Lalu kawasan Universitas Chulalongkorn sebelum terlihat pusat 
perbelanjaan Mah Boon Krong atau yang
biasa disingkat MBK. Rencananya kami akan turun di Siam Paragon, makan siang di 
foodcourtnya dan
keliling-keliling sebelum menyeberang ke MBK.

Siang itu Siam Paragon ramai sekali. Maklum, mungkin karena waktu makan siang. 
Jadi banyak pegawai kantor
yang istirahat siang dan makan siang disini. Sebenarnya Siam Paragon adalah 
area perbelanjaan yang menyatu
dengan Siam Center dan Siam Discovery Center. Jadi besar sekali. Di Siam 
Paragon, di lantai dasar dan
bawah tanahnya terdapat Siam Ocean World. Jaringan Sea World dan atau 
Underwater World yang, ini
istimewanya, berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan.  Jadi kebayang kan 
besarnya tempat ini.

Foodcourtnya luas sekali. Sepertinya semua jenis makanan ada disini. Stal-stal 
makanan, meja makan yang
ramai terisi, orang-orang yang hilir mudik. Di ujung satunya ada Gourmet 
Market, department store khusus
makanan. Ada counter  khusus makanan kecil, cemilan atau snack. Lalu 
booth-booth makanan yang dimasak di
tempat seperti Tom Yam Goong serta berbagai masakan Thailand lainnya yang 
sangat mengundang selera makan.
Foodhallnya, tempat kita menyantap makanan dimuati ratusan meja berwarna putih 
dan kursi ungu yang cantik,
terkesan mewah. Suasananya riuh dengan bunyi orang makan dan mengobrol. 
Lantainya yang putih mengkilat
bersih sekali.

Sekali lagi Bangkok menciptakan diri sebagai pusat turis yang memenuhi syarat 
dalam menyediakan tempat
wisata yang bersih. Keramaian suasana pengunjung yang makan atau mondar mandir 
membawa makanan atau
menggigit roti atau penganan lainnya, bukan berarti kebersihan yang tidak bisa 
dikontrol. Petugasnya sigap
membersihkan kotoran yang tumpah atau tisu yang terjatuh ke lantai. Tidak ada 
piring kotor yang sempat
terlihat berada di meja makan. Kemewahannya otomatis terjaga pula dengan 
kebersihan yang terjaga seperti
ini. Toiletnya? Bersih, bung. Tidak ada harum aneh yang menyeruak dari sana. 

Bandrol makanan kelas mal disini termasuk sedang. Apa-apa di Thailand murah 
kan. Makan siang kita
rata-rata hanya 200Baht, termasuk minumnya. Tidak sampai 50 ribu lah. Saya 
makan ketan mangga yang dahsyat
disini. Ketannya pulen sekali, lengket tapi pera’. Bagaimana, tuh, 
menerangkannnya. Mangganya, boleh deh
dibilang mangga Bangkok, aduh… manis yang enak banget. Tidak terlalu berair, 
sih,.. sepertinya jenis harum
manis kalau di Indonesia. Tapi bentuknya menyerupai dan lebih kecil sedikit 
dari mangga golek di
Indonesia. Memanjang dan meruncing di satu sisinya. Ketannya bisa dipilih 
sesuai warnanya yang assorted.
Ada kuning, hijau, putih, hitam dan merah muda.  Sebenarnya disini ada juga 
ketan durian, tetapi saya
tidak sempat menemukan  stal penjualnya. Selain itu perut sudah keras benar. 
Kekenyangan.

Sambil  makan dan ngobrol sana sini, kita susun rencana jalan buat siang dan 
sore hingga malam nanti. Kita
akan berputar-putar di Siam Square ini lalu menyeberang ke MBK. Nanti malamnya 
kita akan meluncur ke
SuanLum Night Bazaar. 

Selesai makan, kita semua kepingin melihat-lihat  Gourmet Market, sambil 
mungkin, membeli beberapa cemilan
khas Thailand. Saya sendiri punya bekal ketan mangga dan beberapa kue ketan 
khas Thailand. Juga sebongkah
cheesecake tidak ketinggalan. Cheesecake ini kelihatan yummy sekali saat 
dijejerkan dengan rapinya di atas
meja kaca displaynya. Tapi sebongkah begitu pasti habis dalam 2-3 gigitan saja. 
Hehehe..

Di satu stal saya sempat melihat peragaan pembuatan teh tarik ala Malaysia yang 
menarik itu. Sementara di
stal yang lain ada demonstrasi pembuatan kue-kue jajan pasar khas Thailand. 
Satu stal menjual nasi korma
yang lezat sekali tampaknya. Nasi yang digoreng kecoklatan dengan butiran korma 
di sana sini, pipilan
jagung manis serta taburan bawang goreng yang lebar-lebar. Aduh,..jadi mau 
makan lagi nih..!
Glekss..gawat! 

Sungguh sebuah foodcourt yang komplit dan menarik. Makanannya, semuanya, tampak 
lezat dan sangat
mengundang selera kita, pembuatannya menarik dan tempat makannya yang nyaman 
dan bersih. Setelah
berkelilingan di sana, kami sempat menukar uang di money changer di Siam 
Center, saya juga mencoba
toiletnya yang colourful dengan flat TV di dalamnya. Toilet yang mewah. 

Selesai berputar-putar di tempat nyaman ini kami menyeberang ke Mah Boon Krong 
yang lebih dikenal dengan
MBK Shopping Center. Ini pusat perbelanjaan lama yang sangat ngetop bagi para 
pembelanja dari Indonesia.
Selain Chatucak Market yang buka hanya saat weekend saja. Tapi,..maklumlah 
cewek-cewek ini. Sebelum sampai
ke MBK kita malah berputar-putar dulu di toko-toko sebelah MBK. Sebelum 
akhirnya masuk ke MBK, tas belanja
sudah memenuhi tangan mereka. 

MBK yang bernuansa hijau ramai dengan pengunjung, tapi tidak padat sekali. 
Shopping Center ini memang
tidak semewah Siam Paragon yang baru itu. Tapi legendarisnya, terutama di benak 
ibu-ibu Indonesia.
Hihihi.. Rencana utama ke MBK ini adalah membeli kaos-kaos khas Thailand 
serta,.ini cewek-cewek
lagi,..tas-tas lucu  dan beragam modelnya. Tas itu semua rata-rata dibandrol 
one nine nine, 199Baht. Itu
sekitar nyaris 50ribu perak. Murah banget kan? Kalau kaos dihargai 99Baht, 
sekitar hampir 25ribu perak
saja. Selain membeli kaos buat dipakai di Bangkok sebagai pengganti, saya juga 
membeli untuk oleh-oleh
disini. Selebihnya cuma melihat-lihat saja. Saya akan mencoba makanan disini, 
nanti saja. Sekarang selera
belum mengumpul lagi. Nanti makanan yang disajikan akan terasa kurang nikmat.

Jam 5 lewat 40 menit sore kita keluar dari MBK. Berduyun-duyun menuju beberapa 
tuktuk yang mangkal. Tapi,
lagi-lagi akhirnya kita memilih taxi untuk transportasi ke Suan Lum. Taxi pun 
segera menembus keramaian
jalanan Bangkok yang padat.

Suan Lum Night Bazaar terletak di pinggir jalan Rama IV yang ramai dan masih 
dalam distrik Pathumwan.
Letaknya berseberangan dengan taman kota yang asri Lumphini Park. Suan Lum 
bahkan sudah ramai sebelum
malam benar-benar turun. Sore masih cerah sekali, kemeriahan dan keramaian 
suatu bazaar sudah terlihat.
Mobil parkir berderet-deret.

Di tengah-tengah antara deretan kios restoran ( food vendors  ) dan kios-kios 
penjual suvenir ada satu
panggung tinggi dan besar. Sepertinya digunakan untuk pertunjukan hiburan. Di 
depan panggung bersusun
seratusan meja yang dikelilingi kursi-kursi. Tempat pengunjung menikmati makan 
dan minum. Biasa disebut
Beer Garden, karena memang sponsor utama tempat ini adalah perusahaan bir. 
Iklan minuman bir bertebaran
seantero tempat ini. Hmm,..konsepnya jelas. Setelah berputar-putar berbelanja 
suvenir, pengunjung akan
makan atau minum-minum bir di sini sambil dihibur para artis di atas panggung 
terbuka. Tagnya pun
jelas…’popular after work venue for office staff’.

Areanya luas sekali. Mencakup beberapa zona. Ada zona eksibisi, zona belanja 
suvenir khas Thai, clothing,
accessories, handicraft Thai, juga elektronik dan lain-lain lagi. Terus ke 
belakang juga ada beberapa
restoran dan coffee corner. Wah, nggak akan cukup mengeksplorasi semalaman nih. 
  

Tapi yang pertama saya lakukan adalah mencoba makanannya. Sambil melihat-lihat 
kios penjual masakan saya
menyusuri selasar di depan kios-kios ini. Berbagai makanan dan masakan yang 
lezat-lezat berjejer panjang,
dari ujung ke ujung. Minuman, berbagai macam es, selain bir, juga mengundang 
decap lidah. Saya mencoba
yang ringan-ringan dulu saja, deh. Salad Mangga dan Tom Yam ala Chiang Mai. Tom 
Yam ini mirip dengan yang
saya lihat kemarin malam di Silom, hanya udangnya agak lebih kecil. Bisa 
memilih udang sendiri nggak ya?
Hehehe…

Salad mangganya tophh…karena segar dan asamnya yang membuka saluran pori-pori 
liur dalam rongga mulut
kita, sehingga memeras seluruh air liur untuk keluar. Huahh..Rasa letih akibat 
jalan-jalan tadi berubah
oleh segarnya raut muka yang dialiri darah karena rangsangan liur yang keluar. 
Udangnya kering sekali dan
terasa harum, seperti dibumbui dulu. Ini meningkahi rasa asam irisan mangganya, 
membuat sehabis selesai
mengunyah ingin langsung menyuap lagi dan lagi. Kalau gitu kayaknya makannya 
harus pelan-pelan
ya..sedikit-sedikit. Sepertinya kalau disandingkan ( pairing ) dengan bir enak 
kali ya, kata saya dalam
hati, sambil melihat peragaan penuangan bir dari beer sprinkler di meja 
seberang saya. Tapi ah, nanti
eksperimen itu bisa mengganggu kenikmatan dan kelezatan asli salad mangga ini.

Sup Tom Yam yang magtig, yang dihidangkan kemudian di hadapan saya ini sungguh 
sangat luarbiasa. Belum
pernah melihatnya soalnya. Kuahnya bersantan dengan warna merah oranye, 
pedasnya juga asam hhuhhhhhh..
hhaaaaahh..! Jamurnya, kok bisanya, agak kresss gitu. Hangat serehnya terasa 
sekali, selain gurih
santannya. Aromanya mengundang selera makan sekali. Daging udangnya menyerap 
bumbu dengan baik menandakan
udang yang segar. Selain itu ada sedikit potongan daging ikan dan cumi serta 
jamur tadi. Di atasnya
ditaburi sedikit irisan daun bawang dan daun ketumbar (cilantro). Tarikan asam 
dan pedas yang cair di
dalam mulut merupakan kombinasi rasa yang rampak dan sinergis. Seluruh indra 
pengecap saya masih mampu
mendeteksi dan merasakan jejak asam dari perasan jeruk dan daun jeruk serta 
cabai giling merah yang
mentah. Dan karena kuahnya juga panas saya menghirup dan menyeruputnya perlahan 
tapi terus, seakan tidak
ingin memutus alunan rasa nikmat dalam kerongkongan. Hingga musik mulai 
dimainkan di panggung pun tak
terdengar sampai orang-orang bertepuktangan. Benar-benar kenikmatan tiada tara. 
Dalam hati saya berkata,
nanti, di Indonesia, saya akan coba bikin Tom Yam seperti ini. Ditambahi 
sedikit santan supaya ada rasa
gurihnya.

Sambil sesekali menikmati pertunjukan saya menghabiskan hidangan. Sementara jam 
sudah menunjuk ke angka 7
malam lebih. Sambil merokok saya bersantai. Teman-teman lain entah kemana deh, 
tuh. Mungkin mereka
blusukan  ke dalam kios-kios di sana itu sambil menawar habis-habisan. Kita 
sepakat akan berkumpul di
tengah susunan meja kursi ini jam 9 nanti. Tapi kalau ramai sekali bagaimana 
ya? Setelah hilang pegal dan
rasanya makanan telah turun semua ke dalam usus, barulah saya bergerak ke arah 
kios-kios penjual suvenir.
Cukuplah waktu satu setengah jam, sebelum berkumpul, untuk mengeksplorasi 
tempat ini. Dan saya langsung
menuju bagian belakang dulu, nanti berjalan bergerak ke arah depan, arah Beer  
Garden ini. 

Zona A dan B terlihat ramai bahkan padat pengunjung. Di sini terletak 
barang-barang kerajinan khas Thai
yang populer seperti manik-manik gajah yang ditempel di kain, gajah-gajahan 
dari kayu, ukiran gajah dan
ular, tempat tissue juga kaos-kaos yang gambarnya Grand Palace, Wat Arun, 
Damnoen Saduak, hingga Tuk Tuk
yang lucu. Keinginan hati, sih, membeli beberapa oleh-oleh sekarang ini. Tapi 
malas menenteng-nenteng ini
yang selalu menahan hati untuk menawar. Lagipula masih banyak waktulah untuk 
kembali lagi ke sini. So,
saya hanya memuaskan mata saja menikmati ramainya suasana di sini.

Tepat jam 9 saya balik ke tengah Beer Garden lagi dan melihat teman-teman sudah 
berkumpul di situ. Mereka
ternyata juga sudah memesan makanan dan minuman. Dan,…tentengannya sudah 
segunung! Kelihatan sekali banyak
barang yang menarik di SuanLum ini yang membuat  teman-teman saya ini terpaksa 
menenteng segitu banyak
kantong plastik.

Lalu sambil makan dan menikmati hiburan dari penyanyi di atas panggung kami 
bertukar cerita seru sambil
memperlihatkan barang belanjaan. Hingga jam menunjukkan pukul 11 dan mata 
kelelahan menahan kantuk dan
letih, berjalan seharian. Kami memutuskan kembali ke penginapan masing-masing 
untuk beristirahat. Besok
pagi acara masing-masing, saya, mau ke Vimanmek, istana dari kayu jati yang 
tradisionil, lalu siangnya cek
out dari Sawasdee terus cek in ke Plaza Hotel di Surawong. Sorenya, sekitar jam 
3, harus sudah meluncur ke
BITEC untuk registrasi peserta seminar MDRT dan welcoming party bagi para 
attendee yang ikut hadir.

 

Next : Ke Istana Vimanmek yang cantik, sorenya ke BITEC dan foto bareng gadis 
Thai yang
cuanntikk-cuanntikk…

 

 

Salam,

BARENS HIDAYAT

            see my activities on   <http://beha38b.multiply.com> 
http://beha38b.multiply.com

                  YM ID : barenshidayat

             

                  people don't care how much you know

                  until they know how much you care...

                     

                  

 

 



 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke