Di Nias Selatan masih banyak terdapat desa-desa adat. Yang menonjol dari desa-desa adat ini adalah penataan arsitekurnya, baik lanskap maupun bangunannya. Dulunya setiap desa di pimpin oleh seorang raja. Desa-desa ini terletak di daerah yang sulit di jangkau seperti di perbukitan terjal atau lembah-lembah yang ada di baliknya. Tujuannya adalah untuk membentengi diri dari serangan desa lain. Pada masa lalu perang antar desa kerap kali terjadi. Peyerbuan sebuah desa oleh desa yang lainnya kerap terjadi. Biasanya disertai dengan penculikan penduduk yang nantinya akan di jadikan budak. Maka struktur masyarakat Nias masa lalu terdiri dari kelas raja, cendikia dan bangsawan, rakyat biasa dan budak. Dan pola pemukiman pun terbentuk dari struktur masyarakat ini. Di mana rumah tinggal raja yang disebut ,Omo Sebua, yang artinya rumah besar terletak di poros pola jalan yang berbentuk tegak lurus, tepat di tusak satenya. Rumah raja, Omo Sebua, diapit oleh rumah-rumah adat yang lebih kecil lainnya yang disebut juga Omo Hada. Rumah-rumah adat atau Omo Hada ini kuat menahan gempa, pada gempa dua tahun lalu banyak menyelamatkan nyawa manusia. Dari 850 lebih korban jiwa hanya satu korban yang tinggal dalam rumah adat, tepatnya di desa Hilimondregeraya, Teluk Dalam. Sebagian besar yang tewas adalah yang tinggal di rumah berkontruksi modern.
Dari kebiasaan berperang antar desa ini kemudian timbul kesenian Tari Perang dan lompat batu, Fahombe. Acara lompat batu ini dahulu dikhususkan untuk persiapan perang. Karena biasanya setiap desa membentengi dirinya dengan pagar bambu setinggi dua meteran, maka para pria desa di latih untuk bisa melompati pagar itu dengan cara melompati batu. Acara lompat batu ini juga sebagai sarana uji keberanian dan kedewasaan seorang anak laki-laki. Sedikitnya ada 14 desa adat yang bisa dikunjungi yaitu desa Bawodobara, Bawagosali, Bawomataluo, Hiliamaetaliha, Hilifalago, Hilimondregeraya, Hiliganowo, Hilinamauzau'a, Hilinawalo Fau, Hilinawalo Mazino, Hilinamaetano, Hilizalo'otano, Lagundri, Lahusa Fau, Onohondro, dan Orahili. Keempat belas desa adat inilah masih banyak memiliki rumah adat. Tapi tidak semua desa memiliki Omo Sebua, rumah besar atau rumah raja. Tercatat hanya empat desa yang masih memiliki Omo sebua, yaitu desa Hilinawalo Fau, Ono Hondro, Bawomataluo dan Hilinawalo Mazino. Bagi yang senang berpetualang dan jalan-jalan di pedesaan atau hutan untuk mengunjungi empat desa yang masih memliki Omo Sebua ini bisa mengikuti rute yang memakan waktu tempuh 2 hari perjalanan. Sambil melewati empat desa ini juga rute akan melewati desa-desa lainnya. Rute terbaik desa pertama yang di singgahi adalah Desa Hilinawalo Mazino. Bisa dicapai dari Simpang Auge terus menaiki wilayah perbukitan melewati desa Bawolahusa dan desa Hilizalo'otano. Waktu tempuhnya sekitar 2-3 jam jalan kaki. Kalau hendak naik kendaraan roda empat hanya bisa sampai desa Hilizalo'otano selebihnya berjalan kaki. Sebelum mencapai desa Hilawalo Mazino kita akan melewati area persawahan yang cantik dan berbasah-basah menyeberangi beberapa anak sungai. Sampai di desa ini berkunjunglah ke Omo Sebua dan bertemu dengan ketua adat yang merupakan keturunan raja, namanya Ama Seniwati Bulolo. Orangnya ramah dan menyenangkan,d engan sukarela ia akan mengantarkan kita berkeliling desa melihat kehidupan desa itu. Kita bisa menginap di Omo Sebua ini. Untuk keperluan mandi bisa bergabung dengan penduduk desa di sungai yang berair jernih di belakang desa. Kalau hendak melanjutkan perjalanan bisa berjalan kaki ke desa Hilinawalo Fau. Karena untuk ke desa ini melewati hutan ada baiknya didampingi penduduk setempat sebagai petunjuk jalan. Lamanya perjalanan sekitar 2-3 jam. Sampai di desa ini juga bisa meminta ijin menginap di rumah penduduk. Esok paginya bisa dilanjutkan perjalanan ke desa Ono Hondro sekitar 1 jam perjalanan. Sayangnya Omo Sebua di desa ini tak terawat dan nyaris rusak berat karena ditingal pemiliknya. Dari desa ini berjalan kaki lagi sekitar 1 jam ke desa Bawomataluo melewati desa Siwalawa. Desa Siwalawa pernah mengalami kebakaran hebat sehingga banyak rumah adatnya musnah, hanya ada beberapa saja rumah adat yang tersisa. Api memang menjadi musuh utama bagi rumah adat Nias. Banyak rumah adat yang musnah karena terbakar. Api juga dulunya dipakai sebagai senjata ampuh oleh desa yang berperang. Karena rumah adat terbuat dari kayu maka dengan cepat api akan merambat dan memusnahkan seluruh isi desa. Kalau kita menginap di desa adat setiap beberapa saat akan terdengar teriakan yang mengingatkan agar menjaga api yang ada di dalam rumah. Teriakan ini berasal penduduk desa yang ronda menjaga kampung siang-malam. Setelah melewati desa Siwalawa maka sampailah di desa Bawomataluo. Inilah desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan. Di desa ini terdapat Omo Sebua yang paling megah di Nias. Di desa ini terdapat 230 rumah adat atau Omo Hada, atau yang terbanyak dari desa adat manapun di Nias Selatan. Di desa ini pemukimannya paling padat. Akses untuk memasuki desa ini bisa melalui pintu belakangnya atau lewat gerbang desa. Karena desa ini terletak di atas puncak bukit untuk mencapai gerbangnya harus menaiki 88 anak tangga dengan sudut 45 derajat. Dari gerbang desa ini kita bisa melihat samudera Hindia dan jika hari menjelang sore matahari senja terlihat tenggelam di samudera itu. Itulah mengapa desa ini di namakan Bawomataluo yang artinya Bukit Matahari. Di desa ini seperti juga di desa lainnya biasa dipertunjukan tarian perang dan atraksi lompat batu yang dalam bahasa Nias disebut Fahombe. Tarian ini berakar pada tradisi perang antar desa yang melambangkan kepahlawanan penduduk desa yang menjaga desanya. Dari gerbang desa Bawomataluo sekitar satu kilometer di bawahnya akan terlihat desa Orahili Fau. Jika masih kuat berjalan bisa berkunjung dengan waktu tempuh setengah jam. Selain keempat desa yang memiliki Omo Sebua itu juga ada desa lain yang tak kalah menariknya untuk wisata budaya, namun sayangnya rutenya berlawanan. Jika sempat bermalam di pantai Sorake ada empat desa lain di sekitarnya yang bisa dikunjungi dalam satu kali perjalanan yaitu desa Hilisimaetano, Bawogosali, Botohilitano dan Hiliamataniha. Banyak pengrajin ukiran kayu, batu dan anyaman tikar di desa-desa adat itu dan semuanya diperdagangkan. Kalau berniat membeli oleh- oleh yang paling tepat adalah hasil kerajinan itu. Tak ada oleh-oleh berbentuk makanan karena budaya kuliner Nias belum berkembang seperti daerah lain di pulau Sumatera. Pilihan makanan di Nias terbatas. Kecuali kalau musim buah durian tiba, banyak orang memproduksi dodol durian untuk oleh-oleh. Harga buah durian pun menjadi murah bisa mencapai seribu rupiah sebutir. Berkunjung ke Nias Selatan serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti. Di tengah samudera Hindia yang luas ada jejak budaya megalit yang masih hidup sampai saat ini.
