Selama berada di Nias saya sempat mengabadikan upacara pemakaman salah seorang warga desa Bawonohono yang meninggal dunia. Pemakaman dilakukan menurut ritual agama Kristen. Tapi tetap saja budaya Nias asli yang melekat dalam upacara pemakamam itu. Dahulu sebelum agama semit (kristen dan islam) masuk orang yang meninggal mayatnya hanya diletakan begitu saja tidak dikubur. Jika yang meninggal raja maka mayat akan dimasukan ke dalam peti khusus raja dan bangsawan. Sedang untuk rakyat biasa mayat cukup diletakan pada sebuah kursi bambu dan digantung di tengah hutan. Perlahan tapi pasti kebiasaan meletakan mayat di hutan ini hilang.
Ada legenda yang menceritakan tentang seorang pejuang suku Nias yang terluka parah ketika melawan penjajah Belanda. Karena luka-luka yang di deritanya cukup parah dan ia tidak sadarkan diri maka penduduk desa menganggap pejuang itu telah mati. Maka upacara pemakaman pun digelar, mayat sang pejuang diletakkan di tengah hutan. Tapi beberapa hari kemudian pejuang yang disangka telah mati itu ternyata masih hidup. Ia bangkit dari mati surinya dan dengan sekuat tenaga kembali ke desa tempat ia tinggal semula. Betapa gemparnya penduduk desa itu, penduduk tunggang langgang menyangkanya sebagai hantu. Tapi kemudian orang-orang sadar bahwa memang ia masih hidup. Untungnya jaman dahulu mayat orang Nias tidak di kubur, coba kalau dikubur pejuang itu pasti bisa mati betulan... Ketika seseorang meninggal maka berita akan cepat tersebar dari mulut ke mulut, karena memang di Nias sistim kekerabatannya cukup kental. Seperti juga di tanah Batak nama marga atau keluarga banyak dijumpai. Walaupun berbeda marga tapi kalau diurut garis keturunannya masih ada hubungan keluarga. Berita kematian cepat menyebar dari hubungan kekekuargaan ini. Para kerabat dan handai tolan dari desa lain akan berdatangan untuk melayat. Ketika mereka datang akan disambut oleh tuan rumah atau yang mewakilinya. Dalam acara penyambutan ini ada satu dua patah kata dari para pelayat dan juga tuan rumah. Saling lempar perkataan ini dalam tradisi Nias di sebut Orahu. Seperti berbalas pantun gitu lho....Teknisnya ketika seseorang menyampaikan kata-kata dalam bahasa Nias akan di amini oleh yang lain. Mengamini ini sebagi tanda ucapannya diterima. Cara mengamininya dengan meneriakan kata Ya Ya Hoooo...! Arti harfiahnya kira-kira: Setuju! Tapi kalau masih ada pernyataan yang mengganjal atau berpotensi beda pendapat/berselisih ucapan akan dibalas dengan kata "eee.....eeee''. Semua ucapan dan jawaban di sebutkan dengan cukup keras. Kalau orang tidak biasa mendengarnya akan mengira ada perkelahian padahal mah nggak ada apa-apa....ketipu coi... cuman kebiasan mereka saja bersuara keras. Tradisi Orahu (bertukar kata) ini bukan hanya dipakai dalam setiap upacara adat, dan sampai sekarang sangat efektif dipakai sebagai alat kesepakatan warga desa. Tanpa Orahu bisa dikatakan ucapan seseorang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Untuk menjamu tamu yang banyak berdatangan dari berbagai desa dipotonglah hewan peliharaan favorit mereka yaitu babi. Jumlahnya tergantung tingkat atau status sosial keluarga yang sedang berduka. Semakin tinggi status sosialnya maka babi yang dipotong semakin banyak. Setiap orang yang datang melayat akan mendapat jatah nasi dan daging babi. Pembagian dagingnya juga harus melihat status yang diberi, untuk kalangan bangsawan biasanya menerima daging bagian kepala dan dada. Semakin rendah statusnya maka yang id dapat cuman ekor dan kaki...kacian deh lu....Daging-daging itu sudah direbus dan matang, tinggal makan saja. Untuk memudahkan distribusi daging babi yang mencapai puluhan ekor maka dibuat posko-posko disribusi di rumah-rumah tetangga yang meninggal. Setiap rumah melayani distribusi daging untuk desa tertentu. Kalau yang datang tamu dari 10 desa maka diperlukan 10 rumah untuk posko distribusi daging itu. Pulang dari upacara penguburan para tamu akan membawa pulang daging dan nasi. Tradisi bagi-bagi daging babi dan nasi ini bukan hanya dalam upacara pemakaman banyak upacara-upacara adat yang mengharuskan tuan rumah menyediakan daging babi dan nasi untuk bekal para tamu. Misalnya upacara pernikahan, pembangunan rumah baru dan lain-lain. Karena itulah tingkat konsumsi daging babi di Nias tinggi banget, maka untuk menyediakan kebutuhan akan daging babi itu setiap rumah atau kepala keluarga di Nias memelihara babi sendiri. Hampir di setiap rumah di Nias Selatan selalu ada kandang babi di halaman belakang rumahnya. Memelihara babi bagi orang Nias sama seperti penduduk pulau Jawa memelihara ayam. Memelihara babi ini sudah menjadi bagian hidup dan tradisi mereka. Karena itulah hampir di seluruh pelosok Nias akan mudah kita temukan tanaman ubi jalar. Hampir tidak ada tanah kosong di Nias tanpa tanaman ubi jalar di atasnya. Ubi jalar ini mereka perlukan untuk makanan babi, yang diambil adalah daun dan akar umbinya. Tanaman ubi jalar ini merajalela di mana-mana, dari pinggir pantai sampai pinggir jalan raya, tidak ada tempat tersisa. Selain ubi tanaman pohon kelapa juga dibudidayakan di Nias. Buah kelapa dan dedak dibutuhkan untuk campuran makanan babi selain ubi. Selera makan babi-babi di Nias memang rada tinggi...kalau hanya diberi daun ubi babi-babi iyu tidak akan memakannya, tapi kalau sudah dicampur santan dan ampas kelapa serta dedak maka makanan itu baru disantap. Dan itu pun harus dimasak terlebih dahulu kalau tidak babinya tidak mau makan....repot ya....? Dasar babi lu! Nah, karena kebiasaan memelihara babi inilah mesin pemarut kelapa laku keras di Nias. Kalau kita menginap di desa tradisional Nias jangan kaget ya kalau pagi-pagi kita sudah dikagetkan dengan bunyi mesin parut kelapa yang sedang bekerja untuk membuat makanan babi ...maklum babi nggak boleh telat sarapan...bisa ngambek dia. Saya pernah melihat babi yang ngambek...diapa-apakan oleh pemiliknya dia diam aja lho...cuek bener tuh...disuruh jalan nggak mau, sampai di dorong-dorong baru mau jalan. Kalau dipaksa terus dia akan tambah ngambek sambil mengeluarkan suara keras ..."Nguikk.....Nguik...!" pokoknya nyebelin deh. Tapi babi ini binatang pintar lho, karakternya seperti anjing. Sempat saya beberapa kali berurusan dengan babi-babi ini dan rasanya seperti berurusan dengan anjing, cuman dia lebih berat, malas, cuek, dan ngambekan aja.... Jangan kaget ya kalau ke Nias melihat babi berkeliaran di perkampungan, pokoknya kayak ayam di pulau Jawa. Tapi kalau kita di pulau Jawa melihat babi berkeliaran di perkampungan pasti dikira babi jadi-jadian alias babi ngepet! .....Wuua...kak...kak...kak....jadi ingat artis Muni Cader, si pemeran film babi Ngepet! (Muni Cader, Farok Afero, Barry Prima dan Advent Bangun memang nggak ada matinye...) Karena faktor memelihara babi di halaman belakang rumah inilah menyebabkan orang Nias suka menjemur cuciannya di depan rumah. Maklum halaman belakangnya bau dan kotor, mereka menghindari menjemur di sana. Kalau kita jalan-jalan di perkampungan Nias maka di mana-mana akan berkibar jemuran warna-warni di halaman rumah mereka. Susah mau mendapat foto rumah adat yang "clear" tanpa jemuran. Tapi kalau ada kunjungan pejabat negara jemuran-jemuran itu lenyap tanpa bekas di ungsikan aparat desa setempat. Makanya kalau mau memotret perkampungan adat Nias yang "clear" harus beserta rombongan pejabat biar jemuran-jemuran di depan rumah pada diangkatin..... Babi juga melambangkan status pemilik rumah. Pada Omo Sebua (rumah adat besar) hiasan dinding rumahnya memakai tengkorak babi. Semakin banyak tengkorak babi yang di pajang berarti semakin tinggi status pemilik rumah. Karena tradisi babi inilah misi agama Kristen dan Khatolik bisa diterima di Nias. Berbeda dengan misi agama Islam yang kurang berkembang di Nias, maklum orang Nias tidak bisa dipisahkan dengan babi. Seperti juga di Papua, Kristen dan Khatolik lebih mudah diterima. Ada satu hal yang saya lihat betapa seriusnya misi-misi agama semit ini di Nias, mereka menciptakan kisah-kisah agama dengan muatan lokal yang kuat. Contohnya gambar Yesus di salib lengkap dengan peti mati khusus raja-raja Nias ini untuk mengaitkan doktrin bahwa Yesus itu raja. Atau gambar-gambar pasukan romawi yang menangkap Yesus digambarkan adalah pasukan perang tradisional Nias. Tombak dan pedang yang digunakan juga pedang dan tombak khas Nias. Dengan begitu penduduk Nias merasa ada kaitannya dan memiliki kisah-kisah Yesus. Hal-hal yang bermuatan lokal ini pernah dilakukan juga oleh Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang ketika menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Mereka memasukan unsur gamelan dan wayang dalam penyebaran agama. Cukup efektif bukan? (bersambung)
