Ya betul Mas Vincent, di Sumba, seperti juga di NTT secara umum, enak kok kalo 
mau jalan2 krn orang di sana helpful banget, seneng ada tamu datang, dan seneng 
juga anterin kita jalan. Kebetulan Maret kemaren saya ke Sumba Timur juga tidak 
di hotel tapi nginep di rumah teman di Waingapu. 
Kemaren rute saya adl ke Sumba Barat dulu, jadi naik pesawat dr Jakarta ke 
Tambolaka. Setelah 2,5 hari di Sumba Barat, sore jam 4-an saya dan teman2 serta 
seorang wisman amerika patungan nyarter mobil ke Sumba Timur, sampe Waingapu 
sekitar jam 8 malam. Kami nyarter mobil krn alasan keterbatasan waktu saja 
(juga udah sore). Kalo mau murah bisa naik bis, atau travel (sekitar Rp 40 rb). 
Sepanjang perjalanan memang banyak hal yang bisa dinikmati,  diantaranya ya 
seperti kata Mas Vincent, kuda2 sandalwood yg berkeliaran di padang2 savana, 
pemandangan yg gak mungkin kita lihat di Jawa:-) Juga kampung2 tradisional dan 
penduduk setempat yang ramah. Belum lagi ratusan ternak sapi di padang rumput. 
Para photo hunter dijamin gak akan betah duduk manis saja di kendaraan selama 
perjalanan. 

Menjawab pertanyaan Mas Makki mengenai harga tiket, saya kemaren Jkt-Dps dg 
Lion dan Dps-Jkt dg Air Asia, total sekitar Rp 450rb (lupa tepatnya). Tiket 
Merpati Dps-Waikabubak dan Waingapu-Dps masing2 sekitar Rp 575 ribu-an. Ini 
saya beli dr travel agent di Jkt. Ternyata harga tiket kalo beli di Waingapu 
utk Wgp-Dps sekitar Rp 450rb krn saat itu ada promo Merpati.
Saya kemaren agak dadakan perginya jadi udah gak dapet tiket yg murah2 banget. 
Kalo mau direncanakan jauh2 hari, mungkin bisa dpt tiket lebih murah lagi, 
seperti Air Asia Jkt-Dps pp, juga booking tiket Merpati dr kantornya di 
Waingapu/Waikabubak.     
 
salam,
vietha -



----- Original Message ----
From: Vincent Pramono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, May 10, 2007 4:42:50 AM
Subject: Re: [indobackpacker] SUMBA TIMUR DAN BARAT



Hallo Makki,
Sekedar tambahan aja. Di Sumba orangnya ramah-2, daripada nginap di Hotel, 
mendingan nginap di kampung adat aja, jauh lebih menarik.
Pengalaman saya dulu, kita langsung aja ketemu dg kepala adat / kampung, 
bayarnya juga murah (terserah kita, saran saya bawa oleh-2 terutama kain batik 
Jawa). Status kita disana dianggap tamu, mereka juga senang dapat tamu dr luar 
daerah. Makan pasti banyak yg nawarin. Satu kampung pada pengin kenalan. Kalo 
pas ada yg pesta adat (kawin, meninggal, dll) kita pasti juga diundang. Jalan-2 
diantar gratis, malah kita bisa akses ke banyak kampung terpencil krn diantar 
orang lokal. BTW kampung adat sana letaknya terpisah jauh satu ama yg lain 
(mirip kampung Galia di cerita Asterix). Yg pasti cara ini lebih aman, terutama 
utk cewek krn dulu di Sumba masih ada adat kawin lari & katanya ada juga cewek 
pendatang yg di bawa lari, he..he..
Tapi kalau Anda ikut cara saya ini, siap-2 aja belajar makan sirih (nginang) 
krn disana tiap kali kita bertamu suguhan pertamanya pasti sirih & pinang + 
harus dimakan / diambil bawa pulang, awas jangan ditolak mereka bisa 
tersinggung.
Jalan-2 di Sumba cukup aman, tapi saran saya hindari jalan malam kecuali di 
kota. Dari Sumba Timur ke Barat cukup jauh, saran saya berangkat pagi-2 & pake 
mobil carter / travel aja krn di jalan antara Timur & Barat banyak padang 
rumput dimana kuda-2 liar masih banyak berkeliaran, wah asyik kayak di iklan 
Marlboro Country aja.
Kalau naik bis umum gak bisa berhenti seenaknya. Sampai di Waikabubak (Sumba 
Barat) sekitar sore. Yg pasti jangan sampai kemalaman di jalan, jalan antara 
Timur & Barat (terutama Sumba Tengah) masih rawan perampok, krn banyak 
hutan-2nya juga.
Di Waikabubak, banyak hotel utk nginap. Besoknya seharian bisa keliling kota & 
bbrp kampung adat disana. Besoknya lagi pagi-2 bisa ke Wanokaka, pantai & 
kampung adatnya buanyak & indah sekali (bln Feb / Maret ada pasola & upacara 
Nyale). Dulu saya kesana numpang truk yg ngangkut hasil bumi dr desa ke kota, 
caranya pagi-2 nongkrong di Terminak Waikabubak, tanya jadwal truk yg mau ke 
Wanokaka (cukup banyak) trus bilang aja sama supirnya kalo mau numpang bayar 
berapa (dulu sih gratis) tapi duduknya di bak belakang lho...(asyik malah bisa 
foto-2).
Di Wanokaka gak ada hotel jadi numpang aja nginap di rumah kepala kampung spt 
saran saya diatas. Transportasi susah, tapi biasanya kepala desa punya motor, 
dulu saya dipinjami, tapi utk ke kampung adat yg bener-2 kuno harus jalan kaki 
krn letaknya di bukit-2, kecuali Anda terampil berkuda, nah orang sono punya 
banyak kuda & boleh dipinjam (tapi kudanya gak pake pelana kayak di sini lho, 
jadi duduknya susah).
BTW selamat menikmati, pasti jadi pengalaman tak terlupakan.

Salam,
Vincent



[Non-text portions of this message have been removed]




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke