ini catatan ringan ketika di babel dua bulan lalu, yang praktis praktis bisa japri aja.
TIDAK banyak yang saya tahu tentang Babel (Bangka dan Belitung). Lonely Planet malah sama sekali tidak menyinggung Pulau Belitung. Ia hanya menulis Pulau Bangka, dengan data yang sangat out of date (naik angkot di Bangka masih ditulis Rp 300, sekarang sudah dipatok harga Rp 2000). Jika pun ada keterangan tentang Belitung, itu pun saya petik dari catatan perjalanan orang lain, dari blog blog pribadi yang juga tak melimpah. Situs www.belitungisland.com juga kurang memadai. Tampaknya tidak terlalu sering di-updated. Pertanyaan yang saya tembakkan ke blog blog itu, tiada pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Babel, khususnya Belitung, yang terbayang adalah pantai nan indah dan khas. Istimewa karena berkuasanya batu batu raksasa di pinggiran pantainya. Bahkan, ada pulau kecil yang hanya terdiri dari onggokan batu batu sebesar supermarket, tanpa tumbuhan apa pun. Beberapa menyebut batu batu itu bekas meteor yang pernah menghujani Babel. Legenda lokal mengisahkan kapal anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibu kandungnya. Batavia Air yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara Belitung, meskipun sebelumnya, seorang kawan dari Jakarta, mengisahkan kerap gemetarnya pilot pilot nasional jika mendarat di bandara mungil ini. Konon, angin dari laut bisa tiba tiba berhembus kencang. Tapi, itu tadi, tak ada turbulence, tak muncul guncangan yang mendebarkan hati. Selama dalam perjalanan di kasih permen, bukan tasbih, aku sih masih bisa tenang, kataku saat itu. Jika Anda terbang dan pramugari mengangsurkan tasbih atau perangkat sejenisnya, itu artinya Anda harus berdoa panjang, minimal bertobat, karena pesawat kurang stabil, bahkan dalam bahaya. Hanya kisah lucu bohong-bohongan, jadi jangan terlalu diambil hati. Kami belum reservasi hotel, meski sudah menginjak Tanjung Pandan, Belitung. Hotel Bukit Berahu di Tanjung Binga, yang berkali kali saya telepon dari Swiss dan Jakarta, tidak pernah sambung (sampai akhirnya saya tahu, ketika kami makan siang di restonya, bahwa telepon hotel itu rusak). Pilihan akhirnya dijatuhkan ke Lor In Seaside, sebuah hotel lain di Tanjung Tinggi. Dengan perjuangan tawar menawar, akhirnya kami mendapatkan harga rp 300 semalam untuk sepekan, dengan bonus satu malam dan antar jemput ke bandara gratis. Sebuah keputusan yang akhirnya agak saya sesali, karena memang terlalu lama berada di hanya di satu hotel di Belitung. Paling tidak, akhirnya muncul persoalan memamah biak bagi kami bertiga. Makanan di Lor In cukup lumayan, namun harganya bagi kantong kami kurang bersahabat. Seporsi nasi goreng, misalnya, dipatok harga sekitar Rp 40 ribu. Kalau sesekali makan di hotel tersebut, tidak menjadi masalah. Namun jika mesti makan tiap hari, agak berat bagi kantong kami. Bukan kami tak mampu, namun dengan hanya standard rasa dan porsi yang tidak generous, seporsi nasi goreng itu kurang layak. Harga serupa juga diterapkan untuk seporsi cap cay yang hanya bisa mengisi pojok lambung. Di luar Jawa memang rata rata makanan agak mahal, kata seorang teman mengingatkan. Susahnya kami tak ada pilihan lain, kecuali warung warung tradisional di pinggir pantai, yang juga tak banyak dan cukup jauh, jawabku. Jika tiap hari mesti makan ikan dan gerombolannya, rasanya lidah ini juga akan kaku. Kami bukan orang Belitung, yang kalau tak makan ikan bisa lemas seluruh tulang belulangnya. Syukurlah tidak mengalami masalah perut usai menyantap di warung-warung beratap rumbiah itu. Suatu hari kami menyewa motor, merambah kampung dan mencapai Tanjung Pandan, ibu kota Belitung Barat. Di kota inilah kami bisa makan masakan Padang sepuas-puasnya. Juga, saya sampai membungkusnya untuk dipakai sebagai makan malam. Resor-resor di Belitung umumnya jauh dari keramaian. Tanjung Tinggi, Tanjung Binga dan Tajung Kelayang hanya memiliki masing masing satu hotel dan restoran yang menyajikan makanan tidak hanya khas Belitung. Selebihnya, terutama Tanjung Kelayang, hanya bisa mengisi perut jika rela bersantap di warung warung tradisional. Itu artinya, harus makan tiap hari sea food. Biasanya ada tumis kangkung atau genjer. Sementara ikan bakar bisa bumbu kecap atau kuning.Enak dan sedap, namun kalau tiap hari, akan terasa lain. Tidak eksotis lagi. Hotel kami berbentuk bungalow dengan kamar mandi tanpa atap. Dengan harga segitu, saya kira cukup layak, meski terlihat beberapa bagian kurang terpelihara. Keramahan pegawainyalah, yang membuat kami masih bisa merasa nyaman tinggal di hotel ini, meskipun airnya kadang kadang berwarna agak kekuning-kuningan. Kami kerap duduk di beranda, mendengar gemuruh ombak dan jeritan elang laut, menyaksikan nyiur nan tinggi melambai lambai tertiup angin. Atau menelusuri pasir putih pantai Tanjung Tinggi, sambil memunguti rumah keong yang mati. Perairan Belitung cukup kaya ikan. Tapi entah sampai kapan. Saat ini, banyak perairan internasional yang mulai kehilangan ikan ikannya, karena peralatan penangkapan ikan semakin modern, semakin efisien. Saya tidak pernah berharap, masuknya industri perikanan modern di perairan ini. Biarlah nelayan-nelayan tradisional saja yang menikmatinya. Tapi impian itu pasti sulit terwujud, ditengah tuntutan ekonomi yang begitu tinggi, tidak terkecuali di Belitung, setelah industri Timah mulai surut. Legenda berkisah, Belitung berasal dari Balitong atawa Bali yang Terpotong. Dulu, karena murka, seorang raja mengusir anaknya ke sebuah pulau satelit di dekat pulau Bali. Lambat laun pulau itu hanyut dan akhirnya menjadi Pulau Belitung. Tapi keberadaan ratusan keluarga di Kampung Bali, tak lain adalah akibat politik transmigrasi pemerintah orde baru. Saya harus memutar ingatan kembali agar bisa berbicara bahasa Bali di kampung itu. Rupanya, mereka masih tetap menjaga kebudayaanya. Ketika saya berkunjung ke sebuah keluarga, mereka tengah membuat banten, sejenis sesajen untuk persembahan kepada Dewa yang diyakininya. Bahasa yang digunakan, juga bahasa Bali, bukan bahasa Melayu, sebagaimana penduduk asli Belitung. Seperti Dabo Singkep dan Bangka, pulau ini juga dikeruk mineralnya, khususnya timah. Tak hanya di daratan, namun juga digerus hingga ke dasar laut. Dulu, Pantai Tanjung Pendam di pinggir kota Tanjung Pandan, kerap menelan korban. Sebab, pasirnya bisa tiba tiba melesak kedalam akibat bekas kerukan tambang timah. Sekarang, konon, lubang lubang raksasa itu sudah direklamasi. Syukurlah kalau betul. Keraguan ini muncul mengingat di daratannya, bekas bekas kerukan tambang timah ini tetap dibiarkan terbuka, bahkan menjadi danau danau buatan. Ada kabar, air danau danau bekas tambang timah ini, akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga uap. Strom yang mengalir di pulau ini memang berasal dari diesel, yang boros bahan bakar dan kerap byar pet. Urusan strom memang belum mencukupi untuk Belitung. Ribuan rumah masih antri untuk bisa mendapatkan strom listrik di pulau ini. Sayang sekali, salah satu tokoh Belitung, Ahok, bekas bupati Belitung Timur, gagal menjadi Gubernur Bangka Belitung. Padahal, tokoh ini terbilang bersih dan sangat merakyat, sebuah karakter yang diharapkan bisa mempercepat peradaban Belitung. Setelah sepekan kami akhirnya harus meninggalkan Belitung. Bangka adalah tujuan berikutnya. Dan kapal cepat Ekpress Bahari mengantarkan kami ke pulau penghasil lada, timah dan sarang burung walet itu. --- Ridhania Hutagalung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > koreksi nih...untuk pesawat ke belitung cuma ada 2 > yaitu sriwijaya dan Batavia. Masing2 hanya 1x sehari > saja terbangnya. > ____________________________________________________________________________________ TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. http://tv.yahoo.com/
