Meski pulaunya, terutama jika dipandang dari langit,
seperti pernah hujan meteor, namun pantai- pantai di
Pulau Bangka, masih sangat indah. Sepotong keindahan
itu ada di desa Matras, Sungai Liat. Dari Desa Matras,
jalan saja satu kilometer ke arah laut, maka akan
ditemukan pantai berpasir putih yang kini dikangkangi
sepenuhnya oleh El John Management, melalui Parai
Resort.

Tidak sulit untuk mencapai kawasan ini. Kami yang
memilih berkendaraan umum dari Pangkal Pinang, tetap
bisa mencapainya, meskipun harus bertanya kesana
kemari. Dari depan hotel Bumi Asih, kami meloncat ke
angkot warna biru muda ke arah pinggiran kota, yang
maaf, saya harus mengumpulkan kembali memori untuk
mengingat namanya. Tapi kalau rajin bertanya, pasti
akan ditunjukkan tempat ini. 

Dari situ kami beralih ke angkutan antar kota jurusan
Sungai Liat, yang kondisinya tidak menentramkan hati.
Maklum, moda angkutannya berupa L 300 Mitsubishi yang
keropos sana sini. „Ini mah lumayan, dulu masih pakai
mobil Holden,“ kata salah seorang penumpang.

Begitu turun di Terminal Bus Sungai Liat, kami agak
kebingungan akan memilih angkutan yang mana lagi. Tapi
becak motor (becak yang menggunakan mesin sepeda
motor) segera menghampiri kami. Karena tawarannya
terlampau tinggi, kami akhirnya berjalan terus menuju
pasar umum. “Ada kok angkot, tapi cuma sampai Desa
Matras saja. Kalian bisa jalan kaki satu kilometer,
tapi biasanya tambah beberapa ribuan, mereka akan
mengantarnya sampai pantai,” ujar penduduk setempat.

Tapi kami akhirnya mencharter becak motor karena
harganya juga pantas, hanya Rp 20 ribu hingga pantai.
Sebagai perbandingan, angkot yang sampai ke Desa
Matras hanya Rp 2000 per penumpang. Tapi dengan becak
bermesin itu, kami bisa menikmati pemandangan di
jalanan, dimana banyak gedung gedung tinggi berjendela
kecil. “Itu gedung untuk sarang burung wallet,” kata
pak sopir becak motor.

Kami agak kebingungan untuk kembali ke Pangkal Pinang.
Maklum, memang tak terlihat kendaraan umum di Parai
Resort. Akhirnya kami jalan kaki saja menuju Desa
Matras, sambil di tengah perjalanan selalu mencoba
mencegat kendaraan pribadi yang, siapa tahu, berbaik
hati untuk menepi. Kiat ini ternyata hanya mujur
selama kami di Belitung, di Bangka ternyata tidak,
atau memang belum. Maklum, jarak antara pantai dan
Desa Matras hanya satu kilometer. 

Ketika terlihat ada mobil pribadi, kami berdua
melambaikan tangan, meminta belas kasihan untuk bisa
menumpang. Mobil pertama itu lewat, sambil tertawa
tawa mengejek, entah apa maksudnya. Mobil kedua,
sebuah mobil besar sejenis truk, yang kami lambaikan
tangan memperlambat jalannya. Keneknya minta dipahami
tak bisa memberik kami tumpangan, karena bak belakang
penuh kayu. 

Sampai di Desa Matras, tak ada lagi mobil pribadi yang
lewat searah tujuan kami. Namun di desa inilah, kami
mendapatkan angkot yang membawa kami ke Terminal Bus
Sungai Liat. Ada ibu – ibu yang dengan antusias
mengajak kami ngobrol sepanjang perjalanan Matras ke
Sungai Liat. Juga, di sebuah gardu jaga Sungai Liat,
seorang satpam wanita berbicara banyak dengan Angela
dan Hannah, sementara saya sibuk mencari ATM untuk
keperluan belanja. 





 
____________________________________________________________________________________
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
http://mobile.yahoo.com/mail 

Kirim email ke