Cuaca, terutama angin, kurang bersahabat ketika kami berada di Tanjung Tinggi, Belitung, akhir Februari lalu. Sejak dari pesan tiket pesawat di Wana Wisata Tour Jakarta pun, petugasnya sudah wanti wanti tentang cuaca buruk. Anginnya lagi besar, mas. Apa gak nyari hari lain, katanya. Tinggi ombak, hingga minggu minggu terakhir kami di Belitung ini, tetap mengkhawatirkan, tetap bisa menjungkalkan perahu motor, jika kami memaksa menyeberang ke Pulau Lengkuas, pulau terluar di kawasan itu.
Tapi penantian panjang itu akhirnya berakhir. Begitu angin pergi, entah kemana, kami pun segera memulai pelayaran ke Pulau Lengkuas. Jangan pernah bilang ke Belitung, jika belum naik ke Mercusuar Pulau Lengkuas, sapa penjaga mercusuar bertampang bak Osama Bin Laden itu. Saya pun bergegas naik ke menara suar hasil karya arsitek Belanda itu, sementara Hannah yang lain memilih - milih rumah keong di pesisir pantai berpasir indah itu. Perjalanan ke Pulau Lengkuas, boleh dikata, merupakan petualangan paling indah di Belitung. Inilah yang kami cari : laut dan gerombolannya. Kami, manusia manusia Swiss yang merindukan desis camar dan angin laut, gelisah kaki menginjak gerigi pasir dan segar kelapa muda. Saya tersenyum terus membayangkan Patrick, Salome, Lia, Peter, Rene dan Pia Kaufmann yang membeku di Goldau, Swiss Tengah. Sementara kami bermandi matahari, bahkan kalau perlu, harus berselimut kain agar tidak terpanggang. Tapi diam diam juga meneteskan air mata melihat keindahan ini. Syukurlah, saya masih sempat kemari sebelum keindahan ini tercabik-cabik, entah kapan. Sebagaimana umumnya resor yang belum terkenal, fasilitas juga masih seadanya. Begitu pula perahu motor yang kami tumpangi menjelajah pulau pulau indah ini. Tak jadi soal benar agaknya, karena kami sebenarnya, juga sempat setahun berdiam di Pulau Daik Lingga, Kepulauan Riau. Aku malah pernah naik perahu lebih kecil, ombak lebih besar, kenangnya. Kami cuma memikirkan Hannah, bagaimana reaksinya, jika ia, terayun ombak dalam perahu nelayan yang bising ini. Mulanya agak takut takut, tapi lama lama ia terpingkal-pingkal saban melihat burung camar yang mendekat. "Burung...burung...," teriak Hannah. Burung memang kata Indonesia yang sudah dihapalnya, selain "makan, kodok dan ikan". Kami berangkat dari depan Hotel Lor In, menyisir pantai putih menuju Tanjung Kelayang, dimana ada Pulau Burung dan reruntuhan hotel yang tak jadi. Hanya penginapan ala kadarnya milik Eddie Sopyan, yang dulu beken sebagai komentator sepak bola masih terlihat dari lautan. Sayang kurang terurus, sayang sekali, guman kami. Maklum, kawasan ini menguasai pasir putih dan maybe this is the best attraction ada pulau kecil di depannya. Tak akan banyak kami ceritakan bagaimana keindahan perjalanan menuju Pulau Lengkuas ini. Foto foto ini akan berbicara lebih banyak. Selebihnya adalah kisah pendaratan kami di Pulau Lengkuas. Anda mau telur penyu, kebetulan kami memasaknya, kata Pak Osama Bin Laden. Kami menolaknya. Saya tak makan binatang yang dilindungi, katanya, enteng. Untuk mentralisir suasana, saya jelaskan bahwa Pak Osama ini tak mengambil semua telur penyu itu. Ya, kami menyisahkan sebagian, tetap di pasir itu, katanya seraya menunjukkan daratan yang biasanya Si Sisik menitipkan telornya. Ada dua orang penjaga pulau mungil ini. Dua pria kesepian ini enak diajak ngobrol : dari tenggelamnya Levina I di Jakarta, hingga kehidupan kami dan mereka di dunia yang tampaknya berbeda. nb. tulisan ini akan terus mengalami editan, karena memang ingatan masih tercerai berai. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
