Mungkin La Paz akan jadi kota yang saya singgahi paling lama dalam jalan santai
kali ini. Total 4 malam alias punya 3 hari penuh. 3 full day ini seperti
rencana awal tapi isinya agak berbeda. Hari pertama putar-putar kota, ke
ciudad vieja (kota lama), dan ke beberapa museum. Di sini saya dapat hadiah
tak terduga yakni melihat langsung wajah Evo Morales Ayma saat ke luar dari
istana. Seumur-umur saya belum pernah melihat langsung wajah presiden maupun
mantan presiden negeri sendiri.
Hari ke-2 mestinya saya ke Tiwanakau. Apa boleh buat, karnaval menunda maksud
saya. Ini adalah axara karnaval tahunan terbesar. Radius 3km dari Plaza San
Fransisco (pusat kota) ditutup. Orang dari pelosok berondong membanjiri
ibukota. Acaranya sehari penuh, dari jam 8 pagi hingga 10 malam.
Tiwanaku yang batal terlunasi di hari ke-3. Terpaksa menggeser jadual asli
yang mestinya ke Coroico dengan melewati ´the most dangerous road in the
world´. Disebut paling bahaya lantaran setiap tahun 26 kendaraan ditelan
ngarai yang dalamnya lebih dari 1400m. Lebar jalannya sendiri ada yang hanya
3.2m. Rencananya saya ingin ikut tur dengan sepeda. Rute ini turun dari
ketinggian 4200m ke sekitar 1100m hanya dalam jarak 35km. Bersepeda dan
medannya mungkin saya punya nyali. Setelah berpikir suhu di ketinggian 4200m
sementara konsentrasi mesti ke kemudi, saya mesti tahu diri. Banyak agen-agen
di La Paz memasang promosi sensasional. Salah satunya ´Safe company on the
deadly road´. Yang lainnya, ´I am the deadly road survivors ...´
Setelah La Paz saya ke Uyuni. Paduan yang saya pekai terbitan 7 tahun lalu.
Info Uyuni kurang jelas. Makanya target saya pun sederhana. Sehari lihat
Salar (salt flat), besoknya cari bis ke Calama. Kata panduan, Uyuni - Calama
sekitar 15jam. Di terminal bis La Paz, bis Uyuni - Calama tak ada lagi. Apa
boleh buat, saya nekad ikut tur 3.hari.
Nekad? Iya. Bagi orang Bolivia, yang biasa hidup di ketinggian di atas 300m,
Uyuni identik harto frio, ekstrem dingin. Melihat bekal orang yang ke Uyuni
saat naik bis di La Paz, saya juga agak minder. Jaketnya tebal-tebal layaknya
orang yang akan berselanjar di padang es. Belum lagi matras dan sleeping bag
yang mesti dipaksa agar muat di bagasi di atas kursi. Layaknya mereka akan ke
Gulag Archipelago saja. Sementara bekal saya cuma 1 jaket biasa, 1 wind
stooper, 2 kaos lengan panjang, 1 pasang kaos kaki, 1 pasang sarung tangan, 1
chaman (tutup kepala orang Quechua) dan sleeping bag milik anak saya.
Begitu tiba di Uyuni, syukurlan masih ada 2 kursi sisa. Satu untuk saya, 1
untuk teman dari Perancis. Rombongan kami bertujuh. 3 Perancis, 1 Basque, 1
Slovenia, 1 Inggris. Saya katakan team ini lumayan berisi (he .. he). Si Slov
barusan rampung PhD. Si Basque lancar cas-cis.cus dalam
Inggris-Perancis-Spanish-Basque. Sisanya minimal bisa 2 bahasa. Di perjalanan
terbukti mereka punya jam terbang tinggi. Perlu dictata, tur di Uyuni itu sama
dengan tur ke taman nasional di mana tidak ada kendaraan umum.
Hari pertama kami melewati padang garam Uyuni. Padang ini ujung ke ujung lebih
dari 2jam bermobil. Uyuni di masa purba merupakan lautan. Karena proses
geologis dan klimatologis, laut itu membeku dan menyisakan padang garam di
permukaannya. Berjalan di atas salar layaknya berjalan di atas awan.
Kanan-kiri serba putih menyilaukan. Ada orang menambang garam, ada hotel yang
seluruh bangunan dan perabotnya dari garam, ada pula museum di mana
pernak-perniknya dibuat dari garam! Yang di atas memang Maha Adil. Untuk
negara miskin seperti Bolivia yang tak punya laut, disediakan padang garam.
Jika kita takjub mengetahui Sahara itu dulu dasar laut, jika kita setengah tak
percaya Himalaya itu dulu di dasar lautan, katakjuban dan ketidak-percayaan itu
juga saya rasakan di Salar de Uyuni!
Salam dari San Pedro de Atacama
Jueves, 7-Junio-2007, hora 21.19
____________________________________________________
Yahoo! Singapore Answers
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at
http://answers.yahoo.com.sg
[Non-text portions of this message have been removed]