Malam pertama kami menginap di tepian utara Salar. Di penginapan yang tak jauh
dari komunitas Indian Chuvica. Hari ke-2 kami melintas lembah-lembah antar
gunung, singgah di 5-6 laguna yang terbentuk karena ceruk-ceruk menampung air
hujan. Sebagian dari air tampungan itu mengering. Ada yang jadi garam, ada
juga yang jadi boraks. Malam ke-2 kami menginap di pinggiran Laguna Colorada.
Kami tiba sekitar pukul 16.50, matahari masih sangar, tapi suhu menunjukkan 4
derajad Celsius. Laguna Colorada ada di ketinggian 4260m. Semalam untuk
pertama kalinya saya merasakan gigitan udara di bawah 0. Tadi pagi saat terang
tanah, nyaris di setiap ceruk bukit terlihat salju segar. Untuk kawasan
setinggi itu di mana sumbar air segar teramat langka, Yang Maha Adil
menghadirkan salju.
Tadi sekitar jam 10.00 kami diantar sampai perbatasan. Saya masuk ke
imigraciones, menyerahkan berkas yang telah di cap di Uyuni. Petugas yang
menerima ketawa. ¨Amigo Indonesiano, por favor si firma,¨ katanya menyilakan
tanda tangan. Di atas bis yang akan ke Chile, sopir memberi tahu aturan khusus
yang melarang produk buah dan sayuran. Bentuk turunannya, dalam bentuk
biskuit, jus, atau kemasan lain boleh. ¨Senor, es prohibido?¨ saya tanya
seraya menunjukkan permen koka yang saya beli dari Peru. ¨Tienes tiempo,¨
katanya setelah melihat dan mencicipi. Maksud yang saya tangkap, ada waktu
untuk menghabiskan sebelum imigrasi Chile.
Dari perbatasan Bolivia bis membelah kegersangan gurun. Ada papan petunjuk di
kiri jalan, San Pedro 47km, Calama 147m. Di ujung jalan tanah, saat bertemu
jalan aspal, sopir bercanda, ¨Izquerida es la calle para Salta, Argentina,
derecha es la calle para San Pedro, a donde vamos?¨ Kami ber-9 tertawa lepas.
Dapat barang 10km, tepat di punggungan bukit bis berhenti. Sopir menerangkan
bahwa di depan ada desierto (gurun) Atacama, San Pedro adalah oasisnya. Di
kiri ada salar walau tak sebesar di Uyuni. ¨San Pedro es muy turistico, muy
chico, muy frio, y muy caro tambien,¨ katanya yang lagi-lagi kami sambut dengan
tawa lepas.
Menuruni lembah, membelah gurun, mata saya menerawang ke kejadian barang 30
tahun silam. Saat itu saya masih tinggal bersama nenek. Tetangga sebelah ada
yang melanggan Kompas. Setiap kali koran datang, saya pasti diberi tahu. Apa
yang saya cari? Pertama-tama adalah cergamnya yang punya tokoh utama Garth.
Salah satu episodenya berjudul ´Topeng Atacama´. Berpuluh tahun nama itu
melekat di benak, baru pagi tadi saya mengerti apa Atacama di situ.
Pemeriksaan di frontera berjalan ringkas. Petugas mencoba mencocokkan antara
bawaan imigran dengan yang dia deklarasikan di formulir. Meski resmi, petugas
melakukannya dengan santai. Di depan saya persis, yang dari Columbia, agak
kaget tahu saya Indonesia. ¨Ah .. setengah bola bumi dari sini,¨ ungkapnya.
Etape pertama, menyusur sisi selatan Peru telah usai. Etape kedua, mengiris
sisi barat Bolivia, baru saja saya lewati. Kini etape ketiga ada di depan
mata, menyisir sisi utara Chile. Etape ketiga ini etape pendek. Saya cuma
punya 6 hari penuh lantaran tanggal 13-Juni mesti terbang dari Santiago ke
Buenos Aires. Tadi di tourist office saya dapat keterangan bahwa San Pedro -
Santiago perlu 24 jam perjalanan darat.
Oke .. ada beberapa rencana (ke Valparaiso dan Vina del Mar) yang agaknya perlu
dicoret. Namun saya berat hati melepas La Serena dan Chuquicamata (Chuqui).
Untuk Chuqui, saya malah telah minta tolong dibookingkan. Untuk apa?
Chuquicamata adalah tambang tembaga terbesar di dunia. Letaknya 12km dari
Calama. Calama sendiri hanya 1,5 jam dari San Pedro. Setiap Senin sampai
Jumát Chuqui mengadakan mining tour antara jam 2-3. Kali ini saya yang
berkerja di tambang akan mengunjungi tambang lain. Bukan dalam bisnis trip
tapi dalam jalan-jalan santai.
Salam dari San Pedro de Atacama
Jueves, 7-Junio-2007, hora 21.26
____________________________________________________
Yahoo! Singapore Answers
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at
http://answers.yahoo.com.sg
[Non-text portions of this message have been removed]