cerita yang menarik Mba, saya jadi nggak pengen ke everest, selalin
dengkul dah karatan, dananya.. gile eudan...  USD220.000,-  golek ning
endi....

everest, memang menjadi impian hampir semua pendaki, saya kadang terharu
dengan beberapa filem everest yg saya tonton...

Belum lama pendaki jepang 71 tahun, katanya sukses ke puncak everest!  
gilee... 71 tahun masih kuat mendaki, saya pun terkagum...

lalu, saya mikir.. kembali, di indonesia ongkos trekking sebenernya
termasuk murah, Porter kalau di semeru narik kita ke puncak, cukup bayar
tambahan Rp. 30rb - Rp. 50.000,-  kalau  saya lihat di packkage nya
asian-trekking, Summit  dengan porter tambah USD800,-  uedann....

ya namanya juga lewat organize!   lho kok jadi mahal?     boleh tau
mahalnya dimana?
untuk everest Basecamp, di paket sekitar USD500  kok saya jadi pengen...hehe
apakah ini sudah termasuk Meal,  Porter, Guide Plus trekking
equipment?...  maksudnya Saya tinggal Jalan / trekking
dengan Bawa Badan Aja Plus daypack kecil?


salam
ARIS

Ambar Briastuti wrote:
> Catatan : Kisah ini saya crossposting-kan, semog diambil manfaatnya.
> Kebetulan di Discovery Channel mulai ditayangkan Everest Beyond The
> Limit tiap Selasa malem. Salah satu refleksi saya tentang Gunung
> tertinggi di dunia.
>
> ================================================
>
>
> Ketika kedua kawan saya terbaring di kamar tidur sebelah setelah trek
> panjang menuju Pheriche (4200m), saya memilih menuju ruang makan di
> lodge. Alasannya karena ngg bisa tidur dan kepala mulai senut2 akibat
> penyakit ketinggian. Minum teh mungkin bisa menyembuhkan sedikit,
> pikir saya.
>
> Ruang makan adalah berukuran sekitar 5x6m dengan dinding kaca dan kayu
> yang cukup menahan dinginnya hujan salju yang menerpa kami ketika
> mencapai penginapan ini. Dinding dilengkapi bangku mengitari ruang
> yang dirancang sebagai tempat duduk dan sekaligus tempat tidur. Karpet
> buatan para suku nomaden di Himalaya terlihat indah dengan pola
> warna-warni. Poster bertebaran disana-sini berisi ekspedisi2 Everest
> atau deretan pegunungan sekitarnya. Dilengkapi foto gunung dan foto
> pendaki legendaris seperti Messner atau David Breashers.
>
> Dingin menusuk tulang membuat saya memutuskan mendekatkan diri didepan
> chimni (penghangat seperti tungku dari besi dengan cerobong diarahkan
> ke atap). Bau tajam dari kotoran binatang yak yang menjadi bahan
> bakarnya menyesakkan dada. Tapi semua terkalahkan oleh kebutuhan akan
> kehangatan (uh ah uh...jangan ngeres yah..).
>
>   

Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke