wah thanks bgt infonya..... btw, saya pernah naik ke mahameru,...sampai atas udah serasa setengah pingsan,..berkunang2 dan ngga kuat ngapa2in,..setelah beberapa saat dipaksa akhirnya bisa turun dg selamat,....
tapi yg aneh, setelah di rumah,...kok malah bila say abersin or menghembuskan nafas terlalu kencang hidung mimisan, mengeluarkan darah, ini berlangsung hingga 1-2 minggu..... blum sempet ke dokter tapi udah baikan lagi,.....itu beberapa taun yg lalu... setelah itu utk mendaki lagi gpp...rinjani dan cartenz dlsb jg gpp... just sharing... Ambar Briastuti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ini pengalaman saja ketika trekking hingga 5600m di Himalaya. Menurut teorinya AMS (Acute Mountain Sickness) mulai terasa pada batas magic 3500m tapi ada yang udah ngalamain sejak 2000m. Para peneliti tentang AMS juga masih berspekulasi tentang penyebab dan bagaimana mengatasinya. Secara umum, AMS diakibatkan karena terlalu cepat mendaki ketinggian yang tidak disesuaikan dengan daya aklimatisasi tubuh. Kalau di ilmu Fisika gini : makin tinggi, makin sedikit oksigen, makin rendah tekanan udara (ini yang dipakai untuk menghitung altitute berdasar atmospher). Efeknya ke tubuh bisa diterangkan disini : http://en.wikipedia.org/wiki/Altitude_sickness Sewaktu di Namche (sekitar 3440m) gejala awal sih pusing (tapi ini sering ketipu dengan dehidrasi), nafas berat, cepet lelah, nafsu makan turun. Biasanya dengan aspirin, paracetamol atau ibuprofen udah cukup mampu mengatasi. Kawan saya karena udah merasa batuk sejak di Kathmandu, begitu nyampe Namche mengaku ada darah kering di batuknya. Sejauh itu sih ngg masalah. Kalau bisa tetep makan malah lebih bagus.
