Barang 12-20 tahun lalu saat on traveling saya selalu merasakan keharuan 
serupa.  Setiap kali berada di atas kapal PELNI, di kepala saya langsung 
terputar lagu-lagu wajib, lagu yang semasa Sekolah Dasar dinyanyikan setiap 
upacara Senin pagi.  2 dasa warsa silam, satu-satunya saluran televisi hanya 
TVRI.  Hiburan itu sering dinikmati hingga akhir siaran menjelang dinihari.  
Penutup siarannya 'video clip' lagu-lagu wajib dengan latar panorama 'mooi 
Indie'.  Manakala terdengar 'Tanah airku tidak kulupakan, kan kukenang selama 
hidupku ..' atau 'Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta, tnnah tumpah 
darahku yang mulia .. " yang tergambar hanya satu: betapa indah persada 
nusantara tercinta.

Diakui atau tidak, lagu punya sejenis daya sihir yang membuat pendengarnya 
terlempar ke satu titik di masa lalu.  Ada eeorang teman yang menghabiskan masa 
remajanya di pedalaman kira-kira 100km utara Sangatta.  Pernah saya tanyakan 
apa yang terbayang jika ia mendengar lagu wajib di atas.  Jawabnya, "Mas .. 
saya terkenang saat-saat naik kapal ketika diajak bapak mudik .. sawah-ladang 
yang tergambar
mengingatkan pada kampung halaman di Jawa sana."  Saya pun kurang lebih serupa. 
 Sampai kali ke-3 naik ke gardu pandang di seberang air terjun Lembah Anai, 
rujukan saya atas panorama (berlatar depan jembatan kereta api) yang terlihat 
masih saja penutup acara TVRI.

Barang 2 bulan lalu, di sebuah Minggu siang yang terik, saya terdampar di 
alun-alun Nazca.  Saat itu sedang ada peringatan hari kelahiran kota Nazca.  
Upacara yang digelar disertai pengibaran 2 bendera, bendera Peru dan bendera 
Nazca.  Saat bendera nasional hendak dikibarkan semua pengunjung berdiri tegak 
dengan telapak tangan kanan di dada.  Musik memainkan intro dan tak berapa lama 
hymno nacional pun mengalun.  Ah .. miris rasanya di hati, padahal itu bukan 
Indonesia Raya.  Di wajah-wajah
orang Quecha yang berpeluh bisa saya merasakan kebanggaan pada negeri yang 
telah menafkahi mereka.

Bisa jadi indoktrinasi yang dicekokkan TVRI itu sulit dilawan.  Itu sebabnya 
sebelum berani ke manca negara saya sempat bersikeras untuk melihat seluruh 
sudut-sudut tanah air lebih dulu.  Sayangnya cita-cita itu tidak kesampaian. 
Paling banter saya menghibur diri bahwa jumlah negara yang telah saya kunjungi 
masih kalah dibanding jumlah propinsi yang saya datangi.  Kalau pun keinginan 
saya untuk mendatangi pusat-pusat peradaban tua dunia sebagian besar terlunasi, 
saya tetap merasa lebih bahagia bia menginjakkan kaki di Bawomataluo (Nias), 
Bondokodi (Sumba Barat), Boti (Timor), Wanetat (Buru), Soa Nuku (Tidore).

Tentu banyak teman-teman di sini yang tak seide dengan saya.  Saya mengerti dan 
bisa nenahani bahwa setiap generasi punya medianya sendiri.

Salam dari Sangatta



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of endrocn
Sent: Tuesday, July 24, 2007 12:46 PM
To: [email protected]
Subject: [indobackpacker] Siapa yang nggak tersentuh?

Dear BPers,

Nggak biasanya saya ninggalin teve nyala selagi kerja. Menjelang
closing, Trans TV muter lagu Ibu Soed yang judulnya Tanah Airku.

Seketika saya lompat dari kursi trus nongkrongin teve. Memori
langung dibawa ke dua puluh tahun lalu. Trus lompat lagi ke beberapa
tahun silam sampai dengan beberapa bulan lalu. Apalagi beberapa
pemandangan di teve sama persis dengan yang di memori saya. Gak
sengaja air mata jatuh deh.

Kirim email ke