Pengalaman saya sendiri tanggal 12 September 2007 kemarin ketika datang ke
acara tradisi "Potang Balimau" di desa Pangkalan Kec. Limapuluh Kota, Sumatera
Barat, sungguh mengecewakan. Padahal acara ini digembor-gemborkan oleh kepala
daerahnya untuk dijual kepada turis domestik dan manca Negara sebagai tradisi
yang unik di Sumbar. Sekali lagi : Dijual!
Sungguh menyedihkan, acara yang tadinya mengandung makna spiritual serta
berbasic pada komunitasnya kemudian di komersialkan. Berita di sebar, penduduk
lain desa dan lain kota berdatangan. Umbul-umbul dan spanduk sponsor
berjajar-jajar sepanjang jalan. Panggung musik didirikan di pinggir sungai yang
berair jernih. Penyanyi melengkingan suaranya sepanjang hari. Hingar bingar
suara musik dangdut, minang, dan pop menyeruak di desa Pangkalan yang sangat
natural dan asri itu.
Hanya beberapa meter dari sungai Masjid Raya Pangkalan seolah terlupakan.
Halamannya hanya menjadi tempat parkir motor pengunjung. Seperti lelaki tua
yang datang ke dalam perjamuan yang salah, termangu tak berdaya di tengah
pesta besar. Ditenggelamkan oleh hiruk pikuk acara dan seremonial jadi-jadian.
Yang malah menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai seharus yang dapat di petik
dalam tradisi itu. Di waktu salat hanya sedikit orang saja yang berjamaah di
sana sementara ribuan orang, tua muda, muda-mudi, anak-anak, asyik berendam
diri di sungai sambil bersendau gurau.
Tradisi Potang Balimau sejatinya untuk menyambut Ramadhan suci. Penduduk desa
Pangkalan turun ke sungai menjelang maghrib dengan membawa ramuan khusus dari
air jeruk limau di campur dengan bunga rampai. Serta tak lupa membawa sejenis
pupur dari tepung beras yang di ramu dengan beberapa tumbuhan. Dengan khusyuk
mereka turun ke sungai membedaki wajah mereka dengan pupur tepung beras dan
membilasnya dengan air jeruk limau bercampur bunga rampai. Lalu mereka mandi
berkeramas di sungai. Itu sebagai simbol membersihkan wajah, rupa diri manusia
sebelum bertemu Tuhan di bulan Ramadhan.
Lihatlah panggung megah dan permanen yang didirikan pemda setempat untuk pada
petinggi nagari yang datang diundang. Amat bertolak belakang dengan semangat
merendahkan diri dihadapan Tuhan. Dan yang menyebalkan Tradisi Balimaunya
sendiri beberapa tahun belakangan ini dipaksa disingkirkan dengan alasan karena
itu mengandung ajaran Hindu, tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Bayangkan acara yang disebut tradisi Potang Balimau tersebut bahkan tanpa
tradisi Balimau sama sekali. Seharusnya kalau itu untuk menjalan tradisi Bupati
dan petinggi nagari melakukan Balimau tersebut dan diikuti beramai-ramai oleh
pengunjung. Namun sayangnya tak ada pejabat melakukan itu. Tapi anehnya
acaranya disebut tradisi Balimau. Mereka menggunakan nama Balimau itu tapi tak
melaksanakannya. Aneh betul
.
Yang ada hanya ribuan manusia yang berpesta sambil berenang-renang di
sungai sambil sekali diselilingi perkelahian antar pemuda. Padahal kata Bupati
dilestarikan tradisi ini untuk menjalin silaturahmi antar penduduk lain desa.
Melihat Potang Balimau versi pemerintah di desa Pangkalan ini seperti kita
melihat pantai Ancol di hari lebaran atau sehari sesudahnya. Ribuan orang
datang ke Ancol hanya untuk bersenang-senang. Lho, greget tradisinya mana?
Tradisi Potang Balimau itu telah dirampas dan digagahi. Sungguh kecewa saya
jauh-jauh datang ke sana hanya untuk melihat pantai Ancol di hari lebaran versi
desa Pangkalan. Kebetulan saya datang ke sana sebagai assiten fotografer yang
meliput tentang tradisi ini. Sang fotografer memotret untuk majalah National
Geographic yang akan diedarkan ke seluruh dunia.
Sang fotografer, James Nachtwey, kecewa berat melihat hal itu. Ia tidak
menemukan spirit yang bagus untuk di foto. Tradisi Balimaunya mana? Mana
orang yang mandi dengan pupur di wajah dan mana bilasan air balimaunya? Ia
tidak menemukan spiritual thing di acara yang digembar-gemborkan bias dijual
untuk wisata tersebut. Saya jadi malu hati, soalnya sayalah yang meriset dan
merekomendasikan ia datang ke sana.
Untungnya kami tetap bertahan di sana sampai maghrib tiba. Ketika para
peserta pesta kembali ke desa dan kotanya masing-masing, ketika sungai menjadi
hening dan kembali jernih, ketika hari berangsur gelap dan senyap, beberapa
penduduk desa setempat mendatangi tepi sungai. Seorang nenek menenteng ember
kecil yang ternyata beris air balimau dan bunga rampai. Di tangan satunya lagi
berisi pupur dari tepung beras. Melihat hal itu saya bilang kepada
fotografernya, This the real Mandi Balimau. Dengan sigap sang fotografer
masuk ke sungai meminta ijin memotret dan mulai melakukan tugasnya.
Di hari yang mulai senja itu beberapa penduduk desa melakuan hal serupa. Di
sebelah agak ke hulu untuk para pria, sedang agak ke bawah untuk para wanita.
Di tengah sungai yang mengalir tenang, si sela-sela azan magrib yang
berkumandang, di tengah kesunyian alam mereka mulai melakukan tradisi Balimau
dengan khusyuknya. Pupur disapukan ke wajah mereka dengan perlahan, lalu
dibilas dengan air jeruk limau berserta bunga rampai.
Dan sang fotografer pun menemukan spirit yang sesungguhnya dari tradisi ini,
sesuatu yang jujur dan asli. Bukan di tengah hangar bingar musik, bukan dari
pidato-pidato petinggi nagari, bukan dari spanduk-spanduk para sponsor. Bukan
dari stand-stand produk komersial yang tiba-tiba bermunculan di sana. Bukan
dari ribuan orang yang berenang-renang dengan perut kekenyangan, bukan dari
perahu-perahu hias yang berlintasan. Bukan dari ratusan pedagang yang
bertebaran, bukan dari seremonial jadi-jadian tapi malah dari kesederhanaan dan
hidup penduduk desa Pangkalan keseharian.
Ah, betapa senangnya menemukan tradisi ini masih berlangsung di keseharian
dan di hati penduduk desa. Walaupun ia hilang dari panggung seremonial para
petinggi nagari.
Rupanya orang minang sendiri sudah lupa pepatah mereka, Dimana bumi dipijak
di situ langit dijunjung. Mungkin pepatah ini harus diganti menjadi,Dimana
bumi kita pijak langitpun harus dibawah pijakan kita.
Salam Balimau
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]