> Sedih sekali membaca email Mas Feri...
> 
> Otonomi daerah membuat tiap daerah berusaha mendapat
> income dari berbagai sumber, termasuk dari dunia
> pariwisata. Banyak daerah kemudian membuat event
> pariwisata. Yg tidak ada lalu di create jadi ada. Yg
> sudah ada lalu di blow up, diberi sentuhan sana-sini
> yg justru menghilangkan originalitasnya yg
> sebenarnya
> adalah nilai jualnya itu sendiri, krn dicari-cari
> penikmat & pemerhati budaya. 
> 
> Baru saja saya pulang dari Kesodho di Bromo bulan
> lalu. Sudah beberapa tahun ini penanggalannya selalu
> menuruti penanggalan pemerintah, bukan penangggalan
> yg
> seharusnya. Ini membuat keresahan sendiri di
> masyarakat, karena dipercaya pelaksanaan ritual yg
> tdk
> tepat justru adalah bencana. 
> 
> Puncaknya adalah ketika 8 orang kerauhan (kesurupan)
> di Ds. Ngadisari, dan ini blm pernah terjadi. Info
> ini
> sy dapat dari warga di Penanjakan. 
> 
> Yg "datang" adalah yg mbaurekso semua gunung di
> kawasan bromo (G. Bromo, G. Batok. G. Widodaren, G.
> Ider-ider, juga G.Semeru). Secara ringkas pesannya
> adalah : 
> 
> ".....dulu kami sudah lempari batu (G.Bromo
> meletus),
> tp kalian msh saja melaksanakan kesodho bukan hari
> H.
> Lalu kami tutup jalan (Di Ngadisari jalan tertutup
> krn
> jip macet) tp kalian masih juga. Lalu kami beri
> kebakaran utk menutup jalan. Apakah (tahun dpn)
> harus
> Saya sendiri yg menyapu? (Saya = kemungkinan Mbah
> Tejosari, penguasa Bromo, "Menyapu" = G. Bromo
> meletus
> thn depan). 
> 
> Kami turun dr Penanjakan menuju Bromo dengan
> tertegun.
> Kesodho ini menurut penduduk adalah kesodho paling
> sepi. Ds Ngadas sendiri tidak merayakannya krn
> selain
> bersikukuh dgn penanggalan yg tepat, di ds. Ngadas
> dlm
> bulan ini ada yang meninggal shingga menurut tradisi
> tidak perlu melemparkan sajen ke kawah Bromo. 
> 
> TIba2 awan memerah di kejauhan, hutan di jalan di
> depan terbakar! Kami segera memacu gas jeep, untung
> saja.....krn tdk berapa jauh dibelakang api sudah
> mencapai jalan dan percikannya membakar ilalang di
> tepi jalan di seberangnya. Jalan ke arah Bromo
> segera
> ditutup polisi. 
> 
> Apakah ini bukti ancaman Mbah Tejosari? Wallahu
> alam....
> 
> Di Puri di Ponten, asap belerang sangat terasa.
> Makin
> malam makin pekat. Kami bertahan utk melihat
> pelantikan dukun jam 3-4 pagi. Jam 2 pagi, tiba2
> udara
> amat sangat pekat dgn uap H2S. saya tidak bisa
> bernafas lagi dan membuka mata. H2S asam kuat, dan
> konsentrasinya saat itu mungkin dibawah pH 4! (makin
> kuat asam, pH makin kecil). 
> 
> Kami tidak sanggup lagi berada disitu lebih lama.
> Dengan mata tertutup tak bisa bernafas  kami lari ke
> mobil dan pergi.....
> 
> Mungkin ini peringatan Mbah Tejosari yg akan menyapu
> Kesodho tahun depan? Entahlah. Apakah ada
> hubungannya
> bencana dgn Kesodho,  Wallahu Alam......yang jelas
> seharusnya dinas pariwisata menghargai kepercayaan
> lokal dlm kebijakan2nya. Jangan sampai atas nama
> pariwisata, masyarakat lokal justru menjadi merasa
> resah. 
> 
> Kesodho sebenarnya adalah ritual yg biasa2 saja.
> Masyarakat melempar sajen ke kawah, dan selesai. Tp
> karena tuntutan pariwisata, maka sekarang mulai
> komersil. Buah2 di jual dlm plastik yg bs dibeli
> pengunjung utk dibuang ke kawah supaya ditangkap
> dibawah oelh masyarkat, utk keperluan snap shot
> fotografi turis! 
> 
> Ini hanya salah satu contoh, banyak sekali perayaan
> yang dibuat-buat dlm ritual kebudayan di berbagai
> daerah yg justru akan menghilangkan kesakralan dan
> nilai jual bagi wisatawan. 
> 
> Salam,
> 
> Tari
> 
> 
> 
> 
> 
> --- Janji Joni <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> >  
> >   Pengalaman saya sendiri tanggal 12 September
> 2007
> > kemarin ketika datang ke acara tradisi "Potang
> > Balimau" di desa Pangkalan Kec. Limapuluh Kota,
> > Sumatera Barat, sungguh mengecewakan. Padahal
> acara
> > ini  digembor-gemborkan oleh kepala daerahnya
> untuk
> > dijual kepada turis domestik dan manca Negara
> > sebagai tradisi yang unik di Sumbar. Sekali lagi :
> 
> > Dijual!
> >    

Kirim email ke