dear pak dokter Resa,

jadi inget pengalaman saya dulu banget tahun 1998 pas jaman kejatuhan
Suharto. bukan ke Flores sih sebenarnya, tapi ke pulau Timor keliling mulai
dari Kupang sampai Atambua. Waktu itu ikutan tante saya yg konsultan Ausaid
bidang kesejahteraan ibu dan anak.
Dulu rasanya kondisi masih ketinggalan jaman. cari restoran, depot di kota2
kecil yang dapet malah depot masakan padang. Depot masakan khas malah susah.
Ngomong2 apa sih masakan khas di NTT? sampai hari ini saya nggak tahu.
cari koran di atambua susah dapat koran terkini. koran hari ini baru dapet
besoknya.
saya bersyukur bisa kesana, dengan segala keterbatasan modernisasi, budaya
yang masih kental, alam yang perawan.

Oh ya apakah budaya panggang masih ada? pasti tahu kan, ibu2 yang baru
melahirkan dibaringkan di dipan yang bawahnya ada anglo panas. katanya sih
buat menutup luka2 habis melahirkan dan supaya si ibu cepat sembuh dan si
bayi merasa hangat. tapi itu malah bikin bayi sesak nafas karena asap,
kepanasan lalu meninggal. sama juga dengan si ibu. benar begitu?

tahun 1998 angka kematian ibu dan anak disana sangat tinggi, dan fator
budaya panggang merupakan faktor tebesar


regards
Flory

On 9/12/07, resa_anasto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Halo guys... saya kebetulan tugas di flores selama setahun terakhir,
> tepatnya di kabupaten baru Nagekeo dan kecamatan yang juga baru Keo
> Tengah. Saya sarankan...bukan bernaksud apa2 hanya benar2 untuk
> membantu sesama petualang yang mau ke flores.As me first.
> Saya kebetulan kerja tapi juga tidak lupa berpetualang, karena tidak
> selaman saya ada di flores. Saya sudah menjelajahi dengan motor yamaha
> YT 125 cc mulai dari Pulau Komodo,Labuan Bajo sampai Lembata, beberapa
> kali dalam setahun ini, meliputi:
> Labuhan Bajo-dan seluruh daerah yang dilewati oleh jalur TRANS FLORES
> sampai ke LARANTUKA. Serta daerah2 utara seperti
> Reo-Pota-Buntal-Riung-Bekek-Mbay-Kaburea-Maukaro-Maurole-Kotabaru. Di
> timur ada Larantuka-Tanjung Bunga (Waiklibang)-Adonara
> (Wure-Wailengga)-Lembata. Sikka di Moni, Nita, Daratpante, dsb2.
>
> Betul kata teman, Flores itu INDAH SEKALI, kadang saya bersyukur
> sekali tuhan kasi kesempatan kerja di flores, kadang hidup membawa
> kita ke hal2 yg tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Yang kedua
> memang secara umum floresian memang welcome tapi tidak juga, saya yang
> sudah 1 thn lebih hidup bersama mereka bisa merasakan kok mana yang
> baik-picik-suka mencuri. Dibandingkan dengan jakarta yang memang
> sangat aman di flores tapi bukan berarti kita jadi tidak wasapda kalau
> trip begitu. Saya biasa kalau trip dng YT jalan sampai malam, tidur di
> rumah penduduk juga mereka welcome, tapi jangan ngerepotin, mereka
> secara ekonomi lemah pada umumnya, jadi jangan kelaperan minta makan
> lho.
> Satu yang saya suka adalah flores itu masih perawan, ada daerah2 yang
> mrk mungkin baru sekali ini lihat org dari jawa datang (ya saya itu),
> kalau mau cross2an ala grass track atau rally paris-dakkar ada, TAPI
> hampir semuanya ACCESSABLE dengan motor (terutama kalau
> berpetualangnya dengan motor trail yang mumpuni ya, ,minimal YAMAHA
> YT), saya harus terus terang bilang YT karena motor ini memang bandel
> kok.
>
> Saya lagi cuti sebulan di bogor, udah setahun lebih nggak pulang2 dari
> flores. Nanti saya sambung lagi, tapi terus terang, pengalaman saya
> setahun terakhir di flores is the best time in my life. Kemarin ada
> juga Indonesia Sail 2007 di Maurole lalu ke Riung (tapi batal) jadi
> langsung ke Labuhan Bajo.
>
> Sharing2 lagi teman, btw rencana saya selanjutnya adalah bermotor ke
> maluku tenggara (Tual, Tanimbar). Ada yang bisa berbagi pengalaman?
>
> Resa B. Anasto
> Dokter di Puskesmas Maunori
> Kecamatan Keotengah, Kabupaten Nagekeo
> NTT
>
>  
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke