Dulu saya beranggapan bahwa yang bisa plesir pastilah orang kaya
Dulu saya beranggapan bahwa berlibur itu vacation, bersenang-senang
penghargaan atas 'kerja banting tulang' berbulan-bulan
Dulu saya pikir berlibur itu prei, kosong, ndak ada pekerjaan

Dulu saya pikir plesir itu jalan-jalan; jalan artinya dengan kaki 
Dulu saya mengira plesir itu harus dengan klas satu. Tidur di hotel,
disediakan guide dan makan di restoran
saya salah besar

Konsep jalan-jalan itu luas sekali. Saya sempat kaget ketika tahu
bahwa hanya dibawah 10% orang Amerika itu punya passpor. Berarti
mereka enggak pernah meninggalkan united states, seperti kasusnya
George Bush sebelum terpilih jadi presiden. Karena itu jika orang US
plesir artinya memang 'wah' sekali. 

Fenomena Jepang itu luarbiasa menarik. Mereka ini dikenal suka sekali
keluar negaranya. Saya ingat statistik akhir tahun 90an (mungkin perlu
diupdates lagi). Turis manakah yang tercatat paling banyak mengunjungi
Indonesia? Jepang. Sekarang turis manakah paling banyak mengunjungi
Singapura? Indonesia. WOW!

Argumen tentang fiskal itu lemah sekali. Sudah ketinggalan jaman
maksud saya. Kalau hanya untuk menjaring orang Indonesia yang ke
Singapura saja rasanya enggak adil. Toh sekarang banyak budget flight
yang mempunyai akses langsung ke negeri itu. Dan mereka itu hanya
sepersekian persen. Trus yang sebagian besar Indonesia-nya mana? ngga
dihitung? dianggap enggak mampu. Protes! 

Kalaupun ketakutan akan membanjirnya orang Indonesia ke LN itu juga
sangat mentah. Menunjukkan ketidakpercayaan pada potensi pariwisata
Indoensia itu sendiri. Tinggal kita ini yang seharusnya mendengungkan
bahwa Indonesia itu ngga kalah sama Thailand dan Malaysia. Menanamkan
nilai bahwa Indonesia itu bisa lebih baik. Ngga hanya nimpukin negara
tetangga karena kelemahan marketing pariwisata kita (ie kasus rasa
sayange itu). Emang sakit bener ditunjukin kelemahan kita, tapi
darisini seharusnya makin semangat menggarap sungguh2.

How? yah membuka mata pada orang Indonesia kalau di dalam negeri itu
juga keren koq. Anggapan bahwa plesir keluar negeri pastilah orang
kaya juga udah ngga jaman lagi. Kecuali kalau parameter 'keberhasilan'
hidup diukur dengan rumah, mobil, gadgets, dan atribut lifestyle
seperti travelling.

Siapa sih yang mo ngaku kalau plesir di Singapura tapi nginepnya di
Lucky Plaza?  he he he....

Salam,
Ambar




 --- In [email protected], krisna diantha
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ekonomi lebih menentukan
> 
> lihat saja negara yang penghasilan perkapitanya besar, makin banyak
penduduknya yang plesiran ke luar negeri. bahkan mulai banyak yang
backpacking, seperti jepang dan korsel sekarang.
> 
> kalau gaji cukup, fiskal yang akan terbayar mestinya kan
> 
> 

Kirim email ke