Salam kenal mas Johannes.... masalah penyu atau pangumbahan (daerahnya) terhadap masyarakat memang sudah pelik sejak lama...
detail masalah sudah ada di website come.to/genteng di bagian news / berita lalu soal tukik memang sekarang2 ini tukik ditetaskan didalam gentong kecil didalam kantor... itu antisipasi mereka supaya saat malam atau siang tidak dicuri oleh org yg tidak bertanggung jawab... soal pelepasan saya sendiri suka bingung... kadang tamu bisa ikut melepas tukik dengan tarif tertentu... kadang gak dikasih sama sekali karena sedang dikumpulkan & akan dilepas oleh pejabat tertentu diikuti oleh para wartawan.... kalo menurut saya sih itu hanya kamuflase CV Daya Bakti saja utk menutup bisnis dia jual telur penyu... Masyarakat sekitar ( kampung cibuaya ) saya banyak kenal dengan mereka2... tapi menurut omongan mereka2 dari pemuda sampai yg tua2... mereka sama sekali belum pernah mendapat bantuan dana atau sumbangan dari CV Daya Bakti... bahkan masyarakat situ sudah tidak mau bekerja sebagai pegawai harian mereka maklum hanya di bayar Rp 7.500,- / malam kebayang gak sih...... kata mereka... buat beli rokok aja udah habis... tukik dari penyu hijau memang warnanya hitam dof gitu... kemaren pas libur lebaran ada juga yg ke UG dia diantar oleh ojek utk lihat penyu... tapi setelah 1,5 jam gak nongol penyunya... akhirnya pulang dengan kekecewaan... dan parahnya lagi si ojek yg malam ngantar dia liat penyu, paginya nawarin telur penyu.. kontak di omelin tuh tukang ojek... :D saya dikasih ciri2nya & pas weekend kemaren saya kesana ketemu sama itu ojek... saya omelin juga & disaranin supaya gak jual telur penyu supaya nama dia gak cemar di tamu2 yg lain... :-) dan ternyata memang ojek yg 1 ini rada2 culas terhadap teman ojek lain dan parahnya lagi dia itu ojek dadakan yg hanya ngojek saat tamu ramai saja... duh... parah juga orangnya... untungan dia bisa ngerti juga & mudah2an gak terulang lagi... -- salam... petrus suryadi ym: petrussuryadi http://picasaweb.google.com/petrussuryadi http://petrussuryadi.multiply.com http://petrus.fotografer.or.id http://come.to/genteng "Paradise Beach" On 10/18/07, Johannes Keioranto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > All, > libur lebaran kemarin kita bebrapa genk anak IBP berhasil kabur dari > pengapnya jakarta dan mendarat di Galunggung dan Ujung Genteng. > > Sebelum sampai pada cerita penyu, wanti-wanti kalau pulang dari UG dan > naik angkot jurusan lembursitu ke arah terminal sukabumi atas, kalau > kemalaman say jam 7-an gitu, don't bother pergi ke stasiun deh. Mending pas > dipertigaan bank mandiri turun dan nunggu elf jurusan bogor. Capwk deh > ngadepin calo2 terminal. Penduduk kota sukabumi sendiri ramah2 dan memang > menyarankan naik angkot. Kalau calo terminal yah dimana2 sama sajah. > > Anyway balik lagi ke cerita penyu. Siang-siang kita iseng pake angkot > mengunjungi pos pangumbahan tempat penangkaran penyu berada. Kemudian > ternyata pos itu sepi sekali. Tidak ada petugas yg ada. Kemudian daku iseng > melihat kolam-kolam penampungan. Kalau di P Seribu kita akan melihat tukik > berbagai macam ukuran berenang di kolam2 yg telah disediakan, di Pangumbahan > I see Nothing! Bahkan gue malah lihat ikan emas di salah satu kolam. Agak > bingung daku melihat hal ini. Mungkinkah mereka melepas tukik langsung ke > laut setelah menetas? > > Malamnya daku ketika berkunjung ke pos yg sama utk bayar duit buat melihat > penyu bertelur, iseng2 daku bertanya berapa harga yg harus aku bayar untuk > melepas tukik ke laut dan jawabannya menggembirakan. 5000 rupiah utk 1 ekor > tukik. Ya lumayan lah gue bisa melepas 1-2 ekor ke laut. Kemudian dia > berkata lagi "eh tidak bisa, tukik yg menetas kemarin sudah dihitung dan > dilaporkan ke DKP. Orangnya besok datang jadi gak bisa dilepas". Yah sedih > lah daku. Si petugas kemudian memperlihatkan tukik yg baru sehari menetas di > dalam tong. Jenis penyu hijau walau dari warnanya sih lebih bisa dibilang > penyu hitam. Masih menjadi pertanyaan hingga sekarang, dimana mereka > menangkar tukik nan mini tersebut? apakah langsung dilepas ke laut setelah > dilaporkan? > > Iseng juga gue bertanya ke tukang ojek yg mengantar kami. Dia bilang > hubungan antara pos penyu dan masyarakat kurang baik. Gue pikir sih ini > karena masyarakat dilarang mengambil telur penyu lagi. Namun harusnya > community development bisa terus dimatangkan. Karena masyarakat walau > bagaimanapun adalah garda terdepan dalam melestarikan lingkungan. toh mereka > bisa mengambil untung lebih banyak krn sekali antar ojek itu kita bayar 30 > ribu dibanding biaya masuk pos yg cuma 5 ribu. Banyak kecurigaan dan > pertanyaan muncul sih dari keberadaan Pos yg juga merupakan CV ini. Ada yg > bisa menjelaskan? > > Joe > [Non-text portions of this message have been removed]
