Kawans, 

Biar bagaimana pun, merokok di tempat umum yang
langsung mempengaruhi kesehatan publik adalah tidak
benar. Sama seperti halnya buang sampah sembarangan
walaupun hanya bungkus permen. 

Sopir bis tidak harus merokok utk tidak mengantuk, dan
layak dilaporkan ke managemen bis. Apakah sopir bis
langsung nggak ngerokok? Tentu nggak, ada
proses.....tp setidaknya proses yg terjadi menuju yg
benar. Bukan di cuekin aja dan dianggap wajar.... 

Kenapa masyarakat kita punya values yang "aneh",
hingga red tape (korupsi?) dianggap menjadi budaya?
Karena mayoritas masyarakat Indonesia sangat baik,
toleran. Sayangnya, juga kebablasan utk toleran thd
nilai2 yang gak benar. Nah, karena agreement bersama,
semua menganggap itu biasa, maka masyarakat mengadopsi
kebiasan jelek sbg budayanya. Akibatnya jadilah
nilai/budaya kumulatif krn byk orang yg anggap itu
biasa. 

Pernah saya menegur seorang gadis cantik di bis AC utk
jangan buang sampah sembarangan. Rasanya saya sudah
bilang dengan baik, tapi dia meradang, dan bilang
dengan ketus, "Ambil aja sendiri kalo mau!" Wah, saya
disuruh mungut sampah dia di kakinya? Ini siapa yang
kebablasan? Koq saya yang jadi malu ya negur, padahal
dia yg salah? 

Yah, ini terjadi karena gadis itu bingung, gak pny
benchmark nilai sosial yg jelas, buang sampah
sembarangan itu biasa atau jelek, karena toh semua
orang juga buang sampah sembarangan, dia pikir....sama
seperti halnya sopir bis merokok. Dari dulu dia jg
ngerokok...

So, next time ada orang di sebelah saya buang sampah
di bis, saya langsung ambil sampah dia dan baru bilang
bahwa sebaiknya gak buang sampah di bis. Sebagian dari
mereka berterima kasih ditegus spt itu, sebagian lain
buang muka. Uh, karena nilai masyarakat udah
kebablasan, jadi segitu berat effort-nya utk
memperbaiki values masyarakat... 

Yuk, kembalikan semua ke nilai yang benar dengan cara
yang halus. 

Salam, 

Tari

YM ID : [EMAIL PROTECTED]
http://kuntarini.multiply.com. 
--- joko santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Memang serba salah jadinya.  Banyak orang memilih
> naik bis AC karena ingin medapat udara yang lebih
> bersih.  Begitu di atas bis praksisnya sangat beda. 
> Kalau sopir ngotot merokok agar tidak ngantuk, terus
> penumpang bisa apa?  Pilihannya serba tidak enak. 
> Pertama, kita terganggu tapi sopir menjamin dirinya
> melek.  Padahal jaminan melek tidak berarti jaminan
> tak akan terjadi celaka.  Kedua, kita sedikit nyaman
> tapi sopir ada kemungkinan mengantuk.  Ini sama
> artinya dengan bertaruh nyawa.
> 
> Bagaimana kira-kira mengatasi masalah ini?  Berikut
> beberapa hal yang saya pungut dari jalanan.  Jauh
> atau dekat, semua terkait dengan mengelola rasa
> kantuk sopir dan awak bis.
> 
> 1. Membawa sopir cadangan.  Tiap bis saat bertolak
> dari pangkalan sebaiknya membawa serta 2 sopir. 
> Mereka bergantian di belakang kemudi setiap 3 jam. 
> Pertimbangannya, mengemudi menuntut konsentrasi
> tinggi.  Orang sering kali menyepelekan bahwa
> konsentrasi tinggi menyebabkan kelelahan fisik. 
> Membawa 2 sopir biasa dilakukan oleh bis-bis
> misalnya di Turki, Chile, Afrika Selatan.  Pada saat
> tak bertugas, sopir 'serep' istirahat di belakang. 
> Di bagian ekor bis dibuatkan semacam kamar mini
> untuk berbaring.
> 
> 2. Berhenti (break) setiap 3 jam.  Perhentian ini
> menguntungkan bagi semua pihak.  Sopir bisa meregang
> otot, penumpang punya kesempatan ke kamar kecil atau
> merokok, mesin pun dapat beristirahat.  Perhentian
> bisa dilakukan di rumah makan atau kantor-terminal
> bis.  Di Turki setiap kali berhenti bis juga dicuci!
>  Makanya tak aneh jika di otogar (terminal) semua
> bis terlihat kinclong.  Di Chile, selain di terminal
> de buses, bis-bis punya kantor yang merangkap
> pangkalan (terminal mini).  Pangkalan itu dilengkapi
> kedai, ruang tunggu, tempat penitipan barang dan
> toilet.  Yang agak mengganggu barangkali di Afrika
> Selatan, utamanya jika naik bis malam.  Di setiap
> perhentian ada pemberitahuan lewat pengeras suara! 
> Yang tak berniat turun pun terganggu.
> 
> 3. Dengan makin banyak perhentian, jumlah pemasukan
> rumah makan dari setiap bis pasti turun.  Apa ini
> sepadan dengan servis yang mereka berikan kepada
> awak bis?  Untuk Turki adat 'berhenti tiap 3 jam'
> memang sejalan dengan orang-orangnya yang hobi makan
> .. he-he-he.  Apakah jika memakai cara ini
> rumah-rumah makan akan melipatkan harga jualnya?  
> Sudah saatnya armada bis mengintegrasikan usahanya
> dari hulu hingga hilir.  Sebagai contoh, sebuah
> perusahaan travel-bis-pengiriman yang bermarkas di
> Solo bahkan punya pompa bensin sendiri.  Pompa
> bensinnya bersebelahan dengan kandang merangkap
> garasi.
> 
> 4. Di ranah politik, merokok dikaitkan dengan partai
> tertentu-:).  Di luar politik yang namanya sopir
> baru sah jika merokok.  Semestinya
> perusahaan bis mulai memperhatian sopir yang mereka
> pekerjakan.  Untuk bis-bis AC sopir memang
> semestinya tidak merokok.  Boleh merokok asal tidak
> di dalam bis atau pada saat break.  Sopir nekad
> merokok juga lantaran adat kita yang lebih suka
> nggerundel ketimbang langsung menegur.  Sopir
> biasanya langsung 'keder' jika yang menegur turis
> (bule).
> 
> 5. Jika sopir merokok itu harga mati (siapa tahu
> genotype perokok hanya bisa diubah lewat evolusi
> berabad-abad .. he-he-he), perlu dipikirkan desain
> bis yang cocok.  Bis mesti memisahkan ruang sopir
> dan penumpang semisal bis-bis di Latin.  Semua bis
> jarak jauh, baik itu bis ekonomi, semi-cama, maupun
> cama (kursi bisa diluruskan untuk tempat tidur)
> dirancang demikian.  Pemisah ruangnya diberi pintu
> yang hanya dibuka jika ada penumpang lewat.  Pintu
> ke luarnya hanya satu di depan sebelah kanan.  Kalau
> ingin ideal, pintu bis dibuat 2.  1 langsung ke
> ruang kemudi, 1 ke tempat penumpang.
> 
> 6. Kalau no. 5 dianggap mustahil, kita perlu menagih
> komitmen pengelola bis sesering mungkin.  Kita
> manfaatkan kotak sarannya, tapi tetap berusaha adil.
>  Kita adukan hal-hal tidak enak yang kita alami,
> namun jangan pelit pujian pada hal-hal yang sudah
> baik.  Fokus pengaduan ada pada safety, jadi titik
> berat aduan ada di perilaku (apa) bukan pengemudinya
> (siapa).  Tujuan kita adalah agar pengelola bis bisa
> mengubah kebiasaan buruk sopirnya, bukan memecatnya.
> 
> Salam dari Sangatta
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> ewing_eyo
> Sent: Sunday, October 21, 2007 10:08 PM
> To: [email protected]
> Subject: [indobackpacker] Re: Bus Lorena
> 
> Seingat saya, hampir semua supir bis ngerokok Pak !
> kalo gak ngerokok bisa ngantuk, malah bahaya....jadi
> biarin aja jgn
> dilarang, krn taruhannya nyawa :)
> resiko duduk depan emang begitu
> 
> salam,
> erwin
> 
> 
>      
>
__________________________________________________________________
> 
> Yahoo! Singapore Answers 
> Real people. Real questions. Real answers. Share
> what you know at http://answers.yahoo.com.sg
> 
> 
> "No SPAMMING or forwarding unrelated messages, you
> will be banned immediately"
> 
> Indonesian Backpacker Communities
> visit our website at www.indobackpacker.com
> backpacking trip visit
> http://backpacking.indobackpacker.com
> Photogallery visit
> http://photogallery.indobackpacker.com
> 
> "Sebelum membalas email, Mohon potong bagian yang
> tidak Perlu dan kkutip bagian yang perlu saja"
> 
> Milis tidak bisa menerima ATTACHMENT, untuk
> menghindari Virus dan Menghemat Bandwidth.
> 
> - Satu email perhari:
> [EMAIL PROTECTED]
> - No-email/web only:
> [EMAIL PROTECTED]
> - menerima email:
> [EMAIL PROTECTED]
> - berhenti dari milist kirim email kosong :
> [EMAIL PROTECTED]
> - Begabung kembali ke milist kirim email kosong :
> [EMAIL PROTECTED] 
> Yahoo! Groups Links
> 
>     (Yahoo! ID required)
> 
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 


Salam, 

Tari

YM ID : [EMAIL PROTECTED]
http://kuntarini.multiply.com
http://profiles.friendster.com/kuntarini

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke