Memang serba salah jadinya.  Banyak orang memilih naik bis AC karena ingin 
medapat udara yang lebih bersih.  Begitu di atas bis praksisnya sangat beda.  
Kalau sopir ngotot merokok agar tidak ngantuk, terus penumpang bisa apa?  
Pilihannya serba tidak enak.  Pertama, kita terganggu tapi sopir menjamin 
dirinya melek.  Padahal jaminan melek tidak berarti jaminan tak akan terjadi 
celaka.  Kedua, kita sedikit nyaman tapi sopir ada kemungkinan mengantuk.  Ini 
sama artinya dengan bertaruh nyawa.

Bagaimana kira-kira mengatasi masalah ini?  Berikut beberapa hal yang saya 
pungut dari jalanan.  Jauh atau dekat, semua terkait dengan mengelola rasa 
kantuk sopir dan awak bis.

1. Membawa sopir cadangan.  Tiap bis saat bertolak dari pangkalan sebaiknya 
membawa serta 2 sopir.  Mereka bergantian di belakang kemudi setiap 3 jam.  
Pertimbangannya, mengemudi menuntut konsentrasi tinggi.  Orang sering kali 
menyepelekan bahwa konsentrasi tinggi menyebabkan kelelahan fisik.  Membawa 2 
sopir biasa dilakukan oleh bis-bis misalnya di Turki, Chile, Afrika Selatan.  
Pada saat tak bertugas, sopir 'serep' istirahat di belakang.  Di bagian ekor 
bis dibuatkan semacam kamar mini untuk berbaring.

2. Berhenti (break) setiap 3 jam.  Perhentian ini menguntungkan bagi semua 
pihak.  Sopir bisa meregang otot, penumpang punya kesempatan ke kamar kecil 
atau merokok, mesin pun dapat beristirahat.  Perhentian bisa dilakukan di rumah 
makan atau kantor-terminal bis.  Di Turki setiap kali berhenti bis juga dicuci! 
 Makanya tak aneh jika di otogar (terminal) semua bis terlihat kinclong.  Di 
Chile, selain di terminal de buses, bis-bis punya kantor yang merangkap 
pangkalan (terminal mini).  Pangkalan itu dilengkapi kedai, ruang tunggu, 
tempat penitipan barang dan toilet.  Yang agak mengganggu barangkali di Afrika 
Selatan, utamanya jika naik bis malam.  Di setiap perhentian ada pemberitahuan 
lewat pengeras suara!  Yang tak berniat turun pun terganggu.

3. Dengan makin banyak perhentian, jumlah pemasukan rumah makan dari setiap bis 
pasti turun.  Apa ini sepadan dengan servis yang mereka berikan kepada awak 
bis?  Untuk Turki adat 'berhenti tiap 3 jam' memang sejalan dengan 
orang-orangnya yang hobi makan .. he-he-he.  Apakah jika memakai cara ini 
rumah-rumah makan akan melipatkan harga jualnya?   Sudah saatnya armada bis 
mengintegrasikan usahanya dari hulu hingga hilir.  Sebagai contoh, sebuah 
perusahaan travel-bis-pengiriman yang bermarkas di Solo bahkan punya pompa 
bensin sendiri.  Pompa bensinnya bersebelahan dengan kandang merangkap garasi.

4. Di ranah politik, merokok dikaitkan dengan partai tertentu-:).  Di luar 
politik yang namanya sopir baru sah jika merokok.  Semestinya
perusahaan bis mulai memperhatian sopir yang mereka pekerjakan.  Untuk bis-bis 
AC sopir memang semestinya tidak merokok.  Boleh merokok asal tidak di dalam 
bis atau pada saat break.  Sopir nekad merokok juga lantaran adat kita yang 
lebih suka nggerundel ketimbang langsung menegur.  Sopir biasanya langsung 
'keder' jika yang menegur turis (bule).

5. Jika sopir merokok itu harga mati (siapa tahu genotype perokok hanya bisa 
diubah lewat evolusi berabad-abad .. he-he-he), perlu dipikirkan desain bis 
yang cocok.  Bis mesti memisahkan ruang sopir dan penumpang semisal bis-bis di 
Latin.  Semua bis jarak jauh, baik itu bis ekonomi, semi-cama, maupun cama 
(kursi bisa diluruskan untuk tempat tidur) dirancang demikian.  Pemisah 
ruangnya diberi pintu yang hanya dibuka jika ada penumpang lewat.  Pintu ke 
luarnya hanya satu di depan sebelah kanan.  Kalau ingin ideal, pintu bis dibuat 
2.  1 langsung ke ruang kemudi, 1 ke tempat penumpang.

6. Kalau no. 5 dianggap mustahil, kita perlu menagih komitmen pengelola bis 
sesering mungkin.  Kita manfaatkan kotak sarannya, tapi tetap berusaha adil.  
Kita adukan hal-hal tidak enak yang kita alami, namun jangan pelit pujian pada 
hal-hal yang sudah baik.  Fokus pengaduan ada pada safety, jadi titik berat 
aduan ada di perilaku (apa) bukan pengemudinya (siapa).  Tujuan kita adalah 
agar pengelola bis bisa mengubah kebiasaan buruk sopirnya, bukan memecatnya.

Salam dari Sangatta



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ewing_eyo
Sent: Sunday, October 21, 2007 10:08 PM
To: [email protected]
Subject: [indobackpacker] Re: Bus Lorena

Seingat saya, hampir semua supir bis ngerokok Pak !
kalo gak ngerokok bisa ngantuk, malah bahaya....jadi biarin aja jgn
dilarang, krn taruhannya nyawa :)
resiko duduk depan emang begitu

salam,
erwin


      __________________________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

Kirim email ke