Kenalkan Mas Ken saya ini juga mantan tekawe (dan insyaallah masih). Soal cap paspor itu memang petugas imigrasi Indonesia yang sangat kita cintai itu suka pura2 lalai cethok2. Kalau ngga diingetin bisa bengong ajah. Atau mungkin terpesosa liat penampilan saya yang kere ini ya...
Ada bukti tambahan yang sebenarnya bisa dipakai, yakni kertu departure/ arrival yang biasanya diselipkan sebelum keluar imigrasi. Biasanya saya isi sekalian dan membuat nota catatan sekaligus lembar "bebas fiskal atau tax exempt". Kebetulan sebagai tekawe saya boleh ngga bayar fiskal sampe 4x dalam setahun kalender. Dua hal ini ngga boleh ilang kalau mau mudik. Ngalamat saya bakal kena palak 50-100rebu di bandara2 Indonesia. Saya memergoki praktek itu di Soekarno Hatta, Adisucipto, Adisumarmo (Lombok dan Medan saya malah ngerasa petugasnya lebih bagus -tolong dikoreksi kalau saya salah). Mbak2 seperti mbak Bunga itu, udah kerja keras masih dikuya-kuya di negeri sendiri. Ohya di Singapura, para tekawe Philippine (non white collar alias jadi maid) kalau wawancara pekerjaan melalui video conference di skype loh. Bahasa inggrisnya juga manteb sekali. Nah... Salam, Ambar Cerita Ambar http://ambarbriastuti.blogspot.com http://www.flickr.com/photos/ambarbriastuti/ Adventures. Backpacking. Photography. On 11 Mar 2008, at 07:34, ken_lanang wrote: > > > Temans, > menurut saya sih, meski nge-cap paspor itu tugas pegawai imigrasi, > ketika kita sedang menyodorkan paspor mustinya kita tetap menyaksikan > apakah paspor kita sudah dicap/belum. Jangan malah kedip2 sama > petugas di konter sebelah. hihi... > Kecuali kita pengen merasakan 'kesulitan' di imigrasi tujuan > selanjutnya. > > Baru saja, si Bunga ngomong pake bahasa jawa medok, "...bosen ah > kalau saben dino makan fish and chip terus..." > > hahaha... > > salam BP, > Ken > [Non-text portions of this message have been removed]
