Loksado..ada dimana tuch..? Kalau anda warga atau pernah tinggal Kalimantan
Selatan barangkali pernah dengar nama daerah Loksado. Atau barangkali belum
pernah dengar apalagi belum pernah kesana, pun anda warga atau pernah tinggal
lama di Kalimantan Selatan. Bisa dimaklumi karena kalau melihat di peta, dari
beberapa peta yang aku buka ternyata masih banyak yang belum mencantumkan nama
Loksado. Barangkali karena terpencil-nya atau jauh dari popularitas jadilah
tidak tercantum.
Berjarak kurang lebih 180 KM dari Banjarmasin. Merupakan sebuah kecamatan di
Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Termasuk kawasan pegunungan
Meratus. Ke daerah terpencil ini kami ber-dua seorang rekan yang tinggal di
Banjarmasin mencoba mendatangi tempat menarik ini.
Oot : Very good for Lion Air
Sesuai rencana berangkat tanggal 21 Maret 2008 pas long weekend Maret kemarin.
Mengawali start dari Jakarta menggunakan Lion Air JT 320, take off 6.15 dari
Bandara Soekarno Hata. Rencana dari bandara Syamsudin Noor menggunakan motor
bebek Shogun akan tancap langsung ke Loksado. Apa daya awal perjalanan agak
sedikit tersendat. Lion Air yang kami tumpangi saat melaju ke landas pacu
terpaksa harus balik balik lagi ke terminal keberangkatan karena ada gangguan
mesin. Setelah menunggu 15 menit di dalam pesawat penumpang dipersilahkan
turun.."hhhhuuuu..waaaah.." begitulah respon penumpang yang kecewa karena ada
delay. Bagi aku pribadi justru bersyukur walau tidak suka ada delay. Bersyukur
karena kerusakan terdeteksi pesawat sebelum take off. Coba bayangkan bila
pesawat sudah take off baru ketahuan ada kerusakan..apa ngga bikin panik.
Jadilah kami delay yang setelah diumumkan selama 2 jam. Selama 2 delay rupanya
pihak Lion Air berbaik hati memberikan sarapan pagi. Very nice 'n very good
point untuk Lion Air. Biasanya airline di Indonesia kalau ada delay seperti ini
penumpang di cuekin.Makanya surprise juga Lion Air mau kasih sarapan walau ala
kadarnya.
Setelah ganti pesawat sekitar jam 8.30 WIB Lion Air mengudara. Penerbangan
mulus dan udara sepanjang perjalanan clear. Aku pribadi menikmati penerbangan
kurang lebih 1 jam 20 menit. Mendarat mulus di bandara Syamsudin Noor, setelah
loading bagasi, Rekanku sudah menunggu untuk selanjut-nya tancap ke Loksado.
Tenda, ransel, perbekalan lain termasuk persediaan bensin sudah disiapkan.
Jadilah kami start menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam menggunakan motor
bebek boncengan dengan full bagasi.
Petualangan
Mengawali petualangan dengan makan siang ala kadarnya, baso plus gorengan nan
lezat sebelum memasuki Martapura. Selanjutnya siap menempuh 180 km. Sebuah
perjalanan panjang menggunakan motor yang belum pernah aku lakukan. Paling jauh
ke Sukabumi yang berjarak kurang lebih 100 km dari Jakarta. Start dari warung
makan kurang lebih jam 12.30 wita di perkirakan tiba jam 5 sore. Pilihan naik
motor semata karena pertimbangan ekonomis aja. Kalau mau naik mobil biaya
carter 700 rb Mau naik kendaraan umum ternyata tidak banyak pilihan dan tidak
banyak seperti di p.Jawa.
Mengatakan petualangan selain belum pernah tancap gas sejauh jarak tersebut
menggunakan motor bebek merek Shogun, juga belum tahu medan yang dilalui
seperti apa. Hanya mendapat informasi jalan yang dilalui cukup mulus karena
merupakan trans Banjarmasin - Balikpapan. Kondisi sepanjang perjalanan akan
melewati daerah yang sepi juga ramai. Bersiap aja pantat pegel walau
rencana-nya akan gantian pegang kemudi. Terbayang di benak ku akan melewati
hutan nan lebat walau jalan mulus. Biasa di pulau Jawa, terbayang seramai-ramai
Kalimantan pastilah tidak seramai di pulau Jawa.
Terbayang rasa asyik sekaligus ngeri juga. Asyik karena akan melewati jalan
yang cukup mulus. Sesuatu yang jarang di Jawa apalagi di Jakarta yang mana
jalan kerap berlubang. Ngeri bukan hanya karena terbayang melewati belantara
hutan lebat nan sepi, tetapi juga memikirkan kendaraan motor. Rekan ku memang
sudah men-servis motor-nya untuk menempuh jarak cukup jauh. Namun yang lebih
aku khawatirkan adalah bagaimana kalau ban motor gembos. Ban gembos berdasarkan
pengalaman bisa terjadi setiap saat tanpa bisa di prediksi. Takut ban gembos
bukan karena ranjau paku sebagaimana di beberapa tempat di Jakarta dan di jalan
antar kota di pulau Jawa. Berdasarkan pengalaman namanya ban gembos banyak
penyebab-nya, ngga hanya kena paku. Terbayang kondisi yang berbeda di pulau
Jawa dimana di sepanjang jalan antar kota dan antar propinsi cukup banyak
tambal ban, tapi untuk jalur yang akan kami tempuh tidak lah menjanjikan
tersedia tukang tambal ban. Repotnya lagi aku pribadi tidak punya ketrampilan
bongkar pasang ban. "buat ejoy aja dech..." kata rekan-ku menghibur dan
memberikan semangat.
Dengan banyak berdoa semoga perjalanan lancar dan memohon kepadaNYA agar
dijauhkan dari kendala teknis termasuk yang paling aku takuti yaitu ban gembos.
Menempuh perjalanan jauh ini bukannya tanpa target. Agar tidak kemalaman di
jalan kami target-kan paling lambat jam 5 sore sudah tiba. Berarti rata-rata
harus memacu kecepatan 60 km. Di jalan yang tidak seramai pulau Jawa
memungkinkan tancap gas dengan kecepatan segitu, walau tentunya harus hati-hati
dan waspada. Selain karena full bagasi ala mudik, juga suatu saat ada lobang
yang bisa berakibat kecelakaan. Urutan perjalanan sejak start dari Bandara
Syamsudin Noor akan melewati Martapura yang terkenal dengan kerajinan batu,
Tapin yang masih tercantum di peta, Kandangan, terakhir Loksado.
Apa yang terbayang di benak ku mendekati kenyataan. Mencoba melaju di rata-rata
kecepatan 60 km/jam, melewati jalan mulus yang biasa dilalui menuju Balikpapan.
Cukup banyak obyek menarik untuk di foto. Namun berhubung ngejar target tiba
udah ngga sempat motret. Sepanjang perjalanan beberapa kali aku perhatikan pom
bensin. Menyadari kondisi berbeda dengan pulau Jawa dimana pom bensin betebaran
di sepanjang jalan propinsi, setiap jarum penunjuk bensin tinggal setengah
begitu ada pom bensin langsung isi full. Konyol juga khan saat lewati hutan
kehabisan bensin..
Apa yang disampaikan rekan ku memang benar. Walau jalan mulus kami melewati
daerah yang terkadang ramai penduduk terkadang sepi. Awal perjalanan fisik
masih segar, walau rasa capek masih terasa karena harus bangun subuh-subuh
ngejar pesawat pagi plus delay. Memasuki daerah Kandangan mulai terasa pantat
pegel karena banyak duduk. Mau istirahat, kalau tidak terpaksa tunda aja dulu
berhubung ngejar target waktu. Memang sepanjang jalan ada juga tukang tambal
ban, namun untuk rute Kandangan - Loksado masih bisa dihutung pake jari alias
jarang. Yang menarik sekaligus cukup ngeri untuk rute Kandangan - Loksado
suasana jalan.
Melewati hutan cukup lebat yang ada daerah tertentu terdapat rumah-rumah
penduduk setelah itu melewati daerah hutan nan sepi..Jalan berlku-liku, naik
turun, memang meng-asyik-an. Namun karena sepi penduduk ada perasaan was-was
dan ngeri juga bilamana terjadi trouble. Akhirnya hanya bisa pasrah kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa. Nuansa yang jauh berbeda dengan di pulau Jawa aku
rasakan betul sepanjang perjalanan apalagi di rute Kandangan - Loksado. Kalau
di pulau Jawa tanah-nya sempit dan padat penduduk, kebalikannya di rute yang
kami lewati, tanah luas penduduknya sedikit...
"masih sekitar 60 kilo lagi" kata rekanku saat kami di rute Kandangan -
Loksado. Gile...itu sich Jakarta Bogor. Di "etape" terakhir ini sudah mulai
kerasa pegel-nya... Akhirnya sekitar jam 5 kami masih tiba di tujuan. Meski
belum sampai di Loksado kami tiba di penginapan sederhana nan alami bernama
Amandit Resort. Nuansa khas penginapan yang juga bisa berkemah. Jangan
bayangkan fasilitas penginapan yang mewah. Dengan harga 150 rb per kamar
mendapat fasilitas lebih dari cukup untuk kondisi disana, ranjang empuk dengan
lantai kayu plus kamar mandi dalam nan bersih.
Dibelakangan penginapan dilalui sungai Amandit yang mengalir cukup deras. Bisa
juga untuk berarung jeram menggunakan rakit bambu. Bisa juga berkemah di tempat
ini. Di temani musik alam nan sejuk. Sangat oke untuk escape, jauh dari
keramaian. Tidak ada telepon, pun juga sinyal hp. Listrik pun boleh dibilang
tidak ada. Namun di penginapan ada genset yang hanya di nyalakan kalau
menjelang malam. Jadilah kami mulai menikmati suasana "terasing" di "pedalaman"
Kalimantan Selatan. Rasa capek terobati setelah membasuh diri dengan air
jernih...Setelah badan segar rasanya akan rugi banget jauh-jauh kesini kalau
tidak menyalurkan hobi motret..
-- Bersambung --
[Non-text portions of this message have been removed]