Banjarmasin - Loksado (2 - selesai)
Apa yang menarik di Loksado..? Sebuah daerah wisata yang boleh dibilang di
"pedalaman" Kalimantan Selatan di kawasan pegunungan Meratus. Namanya pedalaman
jangan membayangkan nuansa yang very kuno dan very tradisional sebagaimana
wilayah pedalaman Kalimantan teutama di Kalimantan Tengah dan Timur. Jangan
membayangkan akan berjumpa komunitas dayak dengan cara hidup yang sederhana.
Juga jangan membayangkan kondisi jalan yang parah sebagaimana pernah di muat di
media massa. Memang kawasan wisata ini sederhana namun bukan berarti kuno
Sebelumnya saya tidak punya referensi sama sekali. Dari rekan ku "hanya"
mengatakan disana bisa lihat air terjun, sungai dimana bisa ber-arung jeram
tapi tidak menggunakan perahu karet seperti di pulau Jawa, melainkan dari rakit
bambu yang sebelum-nya harus di buat dulu oleh ahli-nya. Selain itu nuansa
alami dan menarik dari sebuah dusun bernama Malaris. Bagi yang suka fotografi
terutama yang menyukai tema human interest dan bangunan tradisonal serta nuansa
pedesaan, tidak akan rugi datang ke tempat ini.
Dari beberapa referensi mendapat informasi kalau daerah Loksado terdapat
kawasan wisata pemandian air hangat di Tanuhi. Kami pun sempat kesana untuk
melihat langsung. Memang ada resort dan penginapan yang didalam-nya ada kolam
air hangat. Namun setelah lihat langsung kondisi-nya sederhana, hanya sebuah
kolam yang tidak lah besar. Jangan membayangkan Sari Ater atau pemandian air
hangat Cimanggu di Ciwidey. Kondisinya jauh beda. May be karena belum optimal
dikembangkan karena terbentur modal serta masih jarang turis yang ke sini.
Ada juga air terjun. Namun informasi dari rekanku perlu traking sekitar 1 jam
lebih untuk kesana..Berhubung badan sudah capek dan rencana yang singkat di
Loksado rasanya kurang mood untuk melihat air terjun. Jadilah kami menengok
nuansa lain.
Secara keseluruhan Loksado kaya akan sumber daya alam. Merupakan kawasan wisata
yang menurut beberapa referensi masih kurang di kembangkan dan di promosikan.
Pengamatan singkat dari yang datang umumnya para petualang dan backpacker yang
betul-betul niat ke daerah ini. May be karena letaknya cukup jauh, akses
transportasi umum kesana termasuk jarang, serta tidak seramai obyek wisata
lain, sehingga membutuhkan banyak dana untuk menjadikan kawasan ini sebagai
tujuan wisata.
Yang terkenal di Loksado adalah petualangan ber-arung jeram di Sungai Amandit
yang cukup deras arus-nya. Cuma kondisinya jangan membayangkan seperti di pulau
Jawa yang mana para operator rafting menyediakan kondisi perahu karet yang
"nyaman" serta fasilitas lain. Yang ada adalah rafting menggunakan rakit bambu
alami dengan juru mudi yang lihai..Kalau mau nge-rasa-in rafting perlu order
rakit dulu dengan biaya sekitar 150 rb, bisa untuk 4 orang. Setelah dapat order
rakitnya dibuat dulu dengan cara sederhana.. Karenanya kalau mau rafting harus
order semalam sebelumnya. Namun karena ngga niat untuk basah-basah-an untuk
kali ini tidak niat ber-rafting ria. Yang penting bisa motret..
Dari refernsi daerah Loksado rupanya banyak tanaman Anggrek..Dari salah satu
refrensi disebuhkan surganya Anggrek. Wah sayang baru tahu setelah menyiapkan
catper ini. Itupun setelah searching di google. Waktu kesana boleh dibilang
ngga pernah lihat namanya Anggrek. Padahal aku nge-fans berat dengan Anggrek
ini...
Yang cukup menarik setelah membuka website ini,
http://www.ychi.org/index.php?option=com_content&task=view&id=116&Itemid=1.
disebutkan : "daerah Lokasdo kaya akan tumbuh-tumbuhan. Tercatat ada 12 jenis
tumbuhan endemic. Dua diantaranya adalah keluarga Palmae dan satu lagi jenis
yang snagat diminati oleh pihak Cotanical Garden Edinburgh Inggris, yaitu
Rhododendron Alborugosum. Sembilan jenis lain adalah Lahung (Durio dulcis),
Damar merah (Shorea beccariana, S. parvistipulata), Pitun (Shorea myrionerva),
Damar (Shorea obscura, S. rugosa), Tengkawang (Shorea stenoptera), Resak
(Vatica enderti) dan Binturung (Artocarpus lanceifolius).
Malaris
Merupakan desa yang sederhana dengan perpaduan bangunan/rumah modern dan
tradisional. Cukup menarik adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu.
Terlihat sangat sederhana, namun menarik sebagai ajang hunting foto terutama
peminat landscape dan nuansa pedesaan.
Mengenai asal usul Malaris berikut kutipannya yang diambil dari link di atas :
Nama kampung atau balai Malaris ini diambil dari nama seorang leluhur (datu)
mereka yakni Dung Malaris (seorang perempuan) yang hidup pada zaman kerajaan
Banjar, pada saat itu beliau merupakan salah seorang penegak (petinggi) dari
kerajaan. Dung Malaris menurut sejarah yang berkembang dimasyarakat diketahui
beliau tidak mempunyai suami, namun mempunyai saudara (kakak) bernama Nini
Mangkuraksa. Beliau berpesan apabila suatu saat nanti mati maka beliau meminta
dikuburkan ditengah-tengah kampung ini (Pohon besar di Muara sungai Wani-Wani)
dan sekarang tempat tersebut dikeramatkan oleh masyarakat Malaris. Setelah Dung
Malaris wafat, maka posisi beliau digantikan oleh Nini Datu Marhaban. Kemudian
dilanjutkan lagi oleh Nini Maniranjung sampai akhirnya kepemimpinan wilayah
diserahkan kepada Nini Ma'andun. Pada saat kepemimpinan Nini Ma'andun ini,
terjadilah perubahan struktur pemerintahan yang cukup besar baik ditingkat
masyarakat adat Dayak sampai ditingkat kerajaan Banjar, yang disebabkan karena
adanya invasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda telah sampai ke
tanah Borneo dan menaklukan beberapa kerajaan dan salah satunya adalah kerajaan
Banjar.
Hanya semalam dan total tidak lebih 24 jam berada di daerah Loksado. Karena
waktu yang singkat kami harus kembali ke Banjarmasin. Tanggal 22 Maret siang
kami kembali ke Banjarmasin. Berarti kembali melanjutkan petualangan bermotor
ria menempuh jarak 180 kilometer. Siap-siap pantat pegel.
Mengawali perjalanan pulang dari penginapan dengan cuaca cerah dan cenderung
panas. Namun..apa yang sempat saya khawatirkan terjadilah. Setelah menempuh
perjalanan 30 kilometer rute Loksado - Kandangan melewati hutan dan rumah
penduduk yang cukup jarang, ban motor kami gembos.Duch gembos di daerah seperti
ini. Tambal ban pasti jauh. Sempat di tolong sama penduduk setempat yaitu bantu
mompa. Rupanya gembos ban karena panas di salah satu sambungan, bukan karena
kena benda tajam. Namun penduduk setempat sempat menghibur dengan mengatakan
kalau tambal ban tidak jauh. Wuaaa..asyik nich ada harapan..Walau sempat
berpikir bilamana ngga ketolong apa boleh cegat mobil buat begitu ada mobil bak
terbuka, motor di naikin.
Jarak dekat menurut penduduk setempat yang memang sudah terbiasa dengan kondisi
alam-nya ternyata beda persepsi. Di udara yang cukup terik, dengan full bagasi
kami menuntut motor dengan jarak kurang lebih 1 kilo. Cukup melelahkan. Untuk
jarak yang menurut penduduk setempat "dekat", bagi kami cukup menguras
keringat. Namun begitu melihat tempat tambal ban yang lengkap, legalah hati.
Ngga hanya minta di tambal tapi tukar dengan yang baru. Beruntungnya juga
tersebut..Sementara jarak tempuh ke Banjarmasin masih sekitar 150 kilometer.
Tuhan Maha Baik...Tuhan tidak membiarkan kami kesulitan lama-lama. Di saat kami
kesulitan Tuhan membuka kan jalan...Thanks GOD.
Kami melanjutkan perjalanan panjang menuju Banjarmasin. Di "etape" Tapin -
Martapura yang jaraknya masih 100 km, waktu menununjak pk 3 siang lewat dikit,
kami berhadapan dengan deretan truk pengangkut batu bara yang "konvoi" menuju
pelabuhan. Dari rekan ku dapat informasi kalau truk-truk itu ngejar rit.
Artinya mereka akan berpacu dengan waktu Jadi sangat mungkin mereka, para
sopir truk, akan merajai jalanan, tidak akan mau ngalah. Jadi lah "fight"
dengan para truk. Berpacu dengan waktu agar tiba di Banjarmasin tidak
ke-malam-an aku terapkan gaya naik motor ala pulau Jawa, serobot, zig-zag, cari
celah untuk bisa terobos, namun tetap hati-hati..
Perjalanan panjang dan melelahkan berakhir di Banjarmasin sekitar pk 6
sore..Berarti sejak dari penginapan Amandit ke Banjarmasin plus trouble ban
gembos menempuh waktu 5 jam. Puji Tuhan kami tiba selamat, terluput dari
marabahaya walau di jalan sempat kena hujan cukup deras. Lega sudah menikmati
petualangan ini...Sudah pasti menjadi pengalaman tidak terlupakan meski badan
lelah. Merupakan hadiah ter-indah di saat Tuhan menambah 1 tahun usia. Apalagi
sudah memberikan kesempatan meng-icip-i sebagian kecil nuansa "pedalaman"
Kalimantan Selatan.
Bagi para backpacker, penimat petualang di Kalimantan, Loksado bisa dijadikan
referensi. Namun jangan berharap muluk dengan fasilitas lengkap ya. Menikmasi
nuansa alam yang masih alami, ber-rafting ria, serta escape dari hiruk-pikuk
keramaian, menjadi jawaban kala berkunjung ke daerah ini. Sayang ngga sempat
mencatat kendaraan umum dan harga-nya. Yang pasti kendaraan umum ke daerah ini
cukup jarang dan harus beberapa kali naik. Karena kendaraan umum cukup jarang
maka dianjurkan naik kendaraan pribadi.
Beberapa tips bilamana ingin ke Loksado :
1. Bilamana naik motor, siapkan siapkan baik-baik mesin motor. Jangan nekad 'n
ceroboh dengan kondisi motor. Mogok di tengah hutan bisa membayangkan
akibatnya. Selain itu tidak ada salahnya kalau naik motor atau mobil perlu
bensin cadangan. Mengingat pom bensin sejak start berangkat meski ada tapi
tidak sebanyak di pulau Jawa. Very good untuk Suzuki Shogun..(bukannya promosi
lho)..yang oke banget menempuh jarak jauh sekaligus.
2. Bila ingin naik kendaraan umum, pastikan mendapat informasi yang akurat
jadwal kendaraan kesana, termasuk rute-nya
3. Warung makan cukup banyak tersedia sepanjang perjalanan
4. Bawalah snack, cemilan, bagi yang suka ngemil, berhubung di Loksado cukup
jarang warung yang jugal snack/cemilan. Kalaupun ada jaraknya cukup jauh
5. Siap-siap sinyal hp lemah
6. Berhubung listrik termasuk jarang, sebaiknya charge dulu hp, ipod, dll
peralatan elektronik yang ingin di bawa
7. Bersiaplah dengan kondisi tidak ada TV
8. Jaga kelestarian lingkungan. Jangan membawa sesuatu yang diperoleh dari
alam, seperti metik anggrek (bila ketemu), batu alami, dll
9. Bersikaplah ramah terhadap penduduk disana. Jangan segan-segan menyapa
selamat pagi atau siang atau setidaknya memberikan senyum ramah bilamana
berjumpa.
Sebagai penutup, dedikasi pertama catper ini kepada rekan-ku yang mengajak ku
berpetualang melihat Loksado. Kedua kepada warga Banjarmasin atau rekan-rekan
yang pernah tinggal di Banjarmasin. Dan terakhir ketiga, kepada rekan-rekan
petualang dan pencinta alam.
Salam
[Non-text portions of this message have been removed]