Di Rocky Mountain pinginnya sih tinggal di tengah hutan biar ketemu binatang2. Tapi karena saya gak naik mobil, Banff Hosteling INternationational adalah satu2nya pilihan karena bisa diakses kendaraan umum (taksi) dan lumayan dekat dengan downtown untuk beli makanan. Selebihnya banyak yang bertipe hut jauh di dalam hutan, gak ada pemanas dan air panas, harus bawa bahan makanan buat masak2 sendiri. Dan jaraknya impossible buat ke stasiun bis tanpa naik mobil.
Hostel ini sesuai dengan iklannya. Asik banget! Ambience nya asik banget buat traveler kongkow2 di depan perapian di ruang duduk (saat itu gak dinyalain krn udah musim semi). Karena banyak banget traveler Jepang, hostel ini menyediakan meja khusus berisi brosur bahasa Jepang. Gak heran, di web nya, banyak yang berharap tinggal lebih lama karena disana banyak ketemu sohib baru. Sayang karena badan capek, tiap kali begitu duduk di sofanya langsung lenyap....maka saya harus segera pindah ke tempat tidur. Tiap traveler dikasih key kartu magnetic untuk akses masuk ke hostel dan kamarnya. Ada kamar khusus buat wanita, pria dan coed. Tiap kamar terdiri dari 2 bunk bed (tempat tidur tingkat, jadi total ada 4 tempat tidur) dengan 1 toilet attached. Kamar mandi diluar. Nama dan Negara asal traveler yang tidur disitu digantung di sisi tempat tidur. Tapi, hampir tidak mungkin berinteraksi dengan para travelers di kamar, karena semuanya baru masuk kamar saat larut malam dan langsung bablas. Saat bangun pagi, ada peraturan tak tertulis, traveler yang beres2 utk check out harus didahulukan. Setelah itu baru kita bisa bangun dan pake toilet semau kita. Semua pekerja di hostelling international adalah para traveler juga yang kerja temporer. Di hostel itu ditaruh plang besar : JOB SEEKER PACKAGE : 2 weeks accommodation, dlsb. Untuk yang mau kerja/pernah kerja di hostelling international bisa dapat paket special utk menginap di jaringannya di seluruh dunia. Memang banyak traveler yang datang ke Banff untuk mencari kerja, mulai dari ABG sampe kakek-nenek. Beneran, kakek2 & nenek2 juga! Dan di downtown, banyak sekali peluang. Jalan2 di downtown, sejauh mata memandang penuh dengan turis2 kulit putih, Jepang dan beberapa turis India. Sopir taksi surprised waktu saya bilang dari Indonesia, Uh, we dont have that country here...... Iya. Gak ada turis Asia Tenggara atau kulit hitam Afrika. Pinoys yang biasanya jadi pekerja cleaning service pun tidak ada. Misi khusus saya adalah mencari Beavers http://en.wikipedia.org/wiki/Beaver dan Elk http://en.wikipedia.org/wiki/Elk Sebenarnya ini musim yang berbahaya karena Elk sedang punya anak. Small bull yang segede alaihim itu dimusim begini hobi menyerang traveler, maka jarak minimal adalah 50 m dari Elk. Saat ini pula lah keluarga Bear & Grizzly juga turun gunung untuk nyulik anak2 Elk. Berarti dimana ada keluarga Elk kemungkinan ada Bear juga. Apalagi musim ini juga bersamaan dengan Bear punya anak. Bear selalu mendongakkan kepala mencium bau manusia dari arah angin, mereka menghindari manusia. Tapi kalo kebetulan kita jalan berlawanan dengan arah angin dan tidak tercium olehnya, Saat itulah kita harus tepuk tangan kuat2, jangan lari atau manjat pohon, karena bear adalah pemanjat ulung. Suara tepuk tangan membuat Bear menyangka binatang yang lebih besar sedang mematahkan batang pohon dan dia akan menjauh. Kalo kita lari tau manjat pohon maka kita akan dicabik-cabik, karena dia menyangka kita akan menyerang anak2nya. Beavers hampir tidak ada lagi. Beaver yang suka bangun dam untuk mengumpulkan ikan tidak disukai penduduk. Padahal ini system alami untuk mencegah aliran air bah. Akibatnya banyak tempat yang banjir sekarang karena tidak ada Beavars lagi. Global warming menyebabkan garis es di gunung2 makin menipis keatas, sehingga menggiring beavers jauh ke puncak2 gunung, karena beavers hanya suka tempat dingin. Banff hostelling international menyediakan peta trail lengkap jadi kita bisa jalan tanpa pemandu. Lagipula, tidak ada pemandu yang bisa menjanjikan bahwa kita pasti akan ketemu binatang. Untuk cari binatang liar dalam musim ini, kita wajib berada dalam group, gak boleh pergi sendirian. Sebenarnya cari teman jalan dengan cara menempelkan kertas di papan pengumuman. Tapi untuk saya yang Cuma punya 2 hari penuh, waktunya terlalu singkat buat ketemu teman jalan. Jadi terpaksa saya menyusuri trail sendirian. Hari pertama saya pake untuk nyasar. Rencananya mau liat bentukan batuan raksasa yang sacral dulu di Hoodos, tapi koq trailnya sudah jauh masuk hutan. Saya nanya orang 3 kali (sambil tangan menunjuk ke arah timur),Is this a trail to Hoodos? Jawabnya : Yes, eventually . Lalu, Yes, go down this trail. Lalu, Yes dear, but its quite far.....are you OK? Setelah jauh turun ke lembah, ketemu orang yang bilang, Yes, this is the trail to Hoodos but you are supposed to walk to the opposite direction. Waks! Lha orang2 tadi piye tho? Jelas2 tangan saya dari tadi menunjuk ke satu arah. Hmmm.... Ada apakah dengan prosesor orang2 Canada? Saya jadi ingat di stasiun bus di Calgary, satu deret orang salah gate semua gara2 orang2 kasih petunjuk ngaco dengan yakin..... Capek, saya balik dan mampir ke kamar mandi di camping ground. Yang namanya camping ground itu isinya caravan semua, gak yang pake tenda. Di toiletnya ada tulisan besar2 : You are in Bear country.....berisi safety steps menghindari Bears. Pantesan semua pake caravan, gak ada yang pasang tenda disin....... Tiba2 ada kijang besar lari2 cuek ....Gak ktemu Elk, ktemunya Kijang ..yah lumayanlah .. Rupanya di Rocky Mountain semua karma cepat baliknya. Saya menawarkan diri kepada sekelompok pengendara sepeda untuk mengambilkan foto mereka. 10 menit kemudian ada ibu2 menawarkan diri mengambil foto saya dengan ucapan sama persis dengan yang saya katakan ke para pengendara sepeda tadi. Keesokan harinya, saya niatkan trekking cari binatang lagi. Eh di bis umum sopirnya cerita ke orang Australia, Baru-baru ini ada orang dibunuh Bear di camping ground lho .Bearnya terus ditembak mati.. Waduh, motivating banget ceritanya....camping ground hanya berjarak 100 m dari hostel saya, dan hari ini saya berencana mblusuk2 hutan sendirian cari Elk..... Di tourist information, staff Bapak2 tua yang bertugas jadi ngobrol panjang lebar ttg wildlife di Banff. Pengawas di tourist information jadi bolak-balik pingin mengingatkan Si Bapak Tua itu untuk tidak lama2 melayani saya, tapi dia tidak tega, karena Si Bapak semangat sekali diskusi ngalor ngidul dengan saya, menanyakan kondisi Cenderawasih yang menurutnya burung terindah di dunia. Akibatnya dari belakang punggung si Bapak sayanya yang dipelototi. Mencium gelagat yang membahayakan jiwa, saya lalu mohon diri. Jalan sendirian di hutan Rocky Mountain untuk cari binatang liar pada musim ini jelas berbahaya. Tapi tidak ada pilihan lain. Ini hari terakhir saya di Banff. Karena hujan, saya menghabiskan hari mengunjungi tourist sites dan baru bisa masuk hutan pk. 5 sore. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore lebih dan agak gelap karena mendung. Trail sudah mulai bersemak2 tinggi. Saya ragu2 untuk terus ke danau, karena menurut peta ada cabang trail yang juga jalur Bears. Bagaimana kalo saya salah perhitungan dan masuk ke jalur bears? Saya sendirian, sudah sore dan HP mati. Kalo ada bear, tepuk tangan saya yang kecapekan cuma terdengar seperti sorak-sorak bergembira di telinga si Bear. Saya lalu memutuskan kembali dengan berat hati. Tiba2 krosssaaaaak!! Seekor kijang besar loncat tepat didepan saya dan berlari masuk ke semak2. Waduh! Padahal mata saya selalu awas. Gimana kalo yang loncat tadi Elk? Atau bear? Bisa jadi saya jalan berlawanan dengan arah mata angin, tidak tercium bear, jadi harus berpapasan dengan bear yang lewat. Walaupun travel insurance saya men-cover evakuasi, tapi sisa bagian tubuh mana nanti yang masih bisa dievakuasi? Jalur ke Revelstoke yang kena mud slide sudah dibuka. Saya siap2 sepagi mungkin ke stasiun Greyhound, berharap masih sempat trekking ke Vermillion Lake untuk melihat jejak peradaban beavers. Lebih aman pergi pagi2 daripada sore menjelang malam. Tapi haduh......taksinya datangnya telat! Ya sud lah, di Jakarta nanti saya beli documentary National Geographic aja lah tentang Elk dan Beavers... . Selama jalan ditutup akibat mud slide, baik travel insurance dan asuransi dari credit card yang saya pake bayar bis tidak mau menanggung extension biaya penginapan. Kebanyakan asuransi memang hanya menanggung delayment pswt terbang. Jadi kawan, pilihlah asuransi yang men-cover perjalanan air dan darat juga. Dari Revelstoke, dengan mobilnya Mayumi, imigran Jepang, kami menuju Nakusp. Tidak ada kendaraan umum ke Nakusp. Sepanjang jalan, banyak road sign gambar kijang. Naik mobil harus pelan2, karena Kijang suka menyeberang dan menjilat garam di jalan peninggalan mobil pembersih salju. Nakusp adalah kota kecil. Setiap mobil yang ke Nakusp harus naik ferry menyeberangi dam yang luas, dan bisa antri selama 2 jam. Sebenarnya pemerintah ingin bangun jembatan, tapi uangnya saat ini dialokasikan ke persiapan olimpiade 2010. Kami ke public high school tempat suami Mayumi jadi kepala sekolah disana. Ecletive major-nya (mata pelajaran pilihan) adalah bertukang dan permesinan. Jadi lulusan sekolah SMA sudah punya dasar membangun rumah sendiri dan bikin traktor. Ada satu ruangan dimana guru2 memberi pelajaran tambahan buat anak2 yang gak ngerti, lengkap dengan sofa, internet dan coffee maker. Bedanya, murid2 tidak ditarikin uang les. Dengan jumlah penduduk yang terus menurun, sekolah pemerintah ini harus bersaing dengan sekolah swasta yang lebih mahal. Apa kelebihan sekolah swasta? Sekolah swasta punya kuasa mecat murid yang dianggap bandel, sedang public school punya kewajiban mempertahankan muridnya. Wah kalo di Indonesia kayak gitu, orang tua bakal berlomba2 masukin anaknya ke public school..... Rumah Mayumi dan Kees adalah log house di kaki gunung yang masih suka didatangi bear. Dalam kondisi dingin ditengah hujan dan kulit meranggas, saya terpaksa memenuhi undangan mereka berendam di pemandian air panas di atas gunung malam2. Tapi seru......anehnya gatal2 di kulit langsung hilang, padahal bukan gatal akibat penyakit kulit. Wah! Mungkin saya satu2nya orang Indonesia yang pernah kesana selama ini.... Besoknya adalah usaha terakhir mencari Elk. Saya diantar ke rumah Margareth oleh Ibu Kees nenek-nenek 90 tahun imigran Belanda yang masih hobi nyetir mobil. Rumah Margareth mungkin rumah paling atas di Valley of Robson. Terletak di hutan di atas bukit, untuk kebutuhan air bersih mereka membuat saluran dari mata air di hutan langsung ke rumah. Menurut Margareth, sudah bertahun-tahun dia tidak melihat Elk. Degradasi lingkungan ternyata terjadi di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia. Kami mendaki bukit, berharap menemukan Elk di dalam hutan. Tiba2 Margareth berteriak girang, Hey! Come! Saya berlari-lari mendekat. Saya pikir wah akhirnya ktemu Elk juga . Setelah dekat, Margareth bilang, Look! This is Elk dropping! Tumpukan kotoran Elk! Yaah..... Muter2 di Rocky Mountain, nyasar sampe kaki mau lepas, hampir ditabrak kijang.....yang didapat ya hanya potret peninggalan bersejarah itu..... Salam, Tari YM ID : [EMAIL PROTECTED] http://kuntarini.multiply.com http://profiles.friendster.com/kuntarini
