Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, jumlah turis manca yang masuk ke 
tanah air memang sangat kecil. Dengan penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa, 
potensi ini sayang jika belum tergarap. Problemnya lagi-lagi sangat elementer. 
Daya tarik yang ada masih Bali dan Jawa sentris. Bentuk negeri kepulauan dengan 
ukuran seluas Eropa jadi kendala untuk mendapatkan ongkos transport murah namun 
tetap dengan standard safety yang layak.

Saya melihat 2 hal di atas utamanya dari yang saya alami dalam setahun 
terakhir. Hari-hari ini China lagi musim libur. Datang di stasiun untuk naik 
kereta rasanya mirip suasana Lebaran di Yogya dengan 2-3 kali kepadatan calon 
penumpangnya. Di obyek turis massal seperti tembok besar, terracotta warriors, 
tempat pengembangan panda, mayoritas pengunjung adalah orang lokal. Apakah 
karena musim libur? Dari obrolan dengan orang lokal, suasana seperti itu nyaris 
berlangsung sepanjang tahun. Ukuran Cina juga seluas Eropa namun bentuk negara 
daratan memungkinkan orang bepergian dengan kereta kelas hard seat (sekelas 
kereta ekonomi). Saya terus terang iri mengapa kok di negara kita tak bisa 
seperti ini. Hal sebaliknya saya alami setahun lalu. Baik saat ke Machu Picchu 
maupun naik kereta antara Cuzco - Aguas Calientes, saya nyaris tak pernah 
ketemu dengan wajah orang setempat.

Satu hal yang perlu dicatat, banyaknya turis tidak selalu banyaknya devisa. Ada 
negara-negara tertentu punya obyek yang bisa menjadi semacam 
'pesugihan'. Akses ke sana (diper) sulit. Jika akses ke tempat itu 
mudah, ongkos masuknya sangat mahal. Misalnya Machu Picchu, Tibet, Serengeti,  
makam Nefertari, Taj Mahal. Sayangnya, kita juga tak punya 'pesugihan' 
seperti itu. Jalan praktisnya, yang mau ke luar dari Indonesia ditarik 1 juta 
Rupiah. Setahu saya, dulu hanya Albania yang mengambil jalan pintas begini.

Salam dari Chengdu

Nb: ada yang bisa bantu ngubah alamat dan subyek jika nulis lewat BB?

Ambar Briastuti wrote: 
>             Begitulah ndre, urusan begini antara Singapura-Malaysia pasti 
> tuding  
> menuding. Saya tidak tahu apakah Singapura mencatat pekerja dari JB  
> (malaysia) yang saban hari pulang balik lewat Causeway. Dan itu  
> angkanya lebih besar dari 'pendatang' Singapura yang belanja di JB.  
> Kasusnya sama, hanya pp sehari. 
> Tidak aneh sebenarnya, karena sentimen dua negara ini besar sekali  
> berkaitan dengan jembatan perbatasan. Tahun 2006 bahkan rencana  
> pembangunan besar2an dari Malaysia ditolak oleh Singapura, dan juga  
> dibaalkan sendiri oleh Malaysia. Soal imigrasi keduanya juga adalah  
> refleksi 'kemesraan hubungan' tadi. Singapura menuding Malaysia biang  
> penyendupan rokok dan jual bensin murah, Sebaliknya Singapura  
> menuding supir2 bis/taksi dari Malaysia tukang kebut2an. Walau secara  
> de facto, keduanya saling membutuhkan. Pokoknya seperti lagunya Diana  
> Nasution Benci Tapi Rindu itu :) 
> Beda Asean dan Eropa adalah EU sudah mengadopsi Schengen yang intinya  
> menggunakan satu kontrol imigrasi untuk beberapa negara. Sedang di  
> Asean itu belum diterapkan (atau dipikirkan?) . Jadi jika Singapura  
> ngga melihat paspor Malaysia, kemungkinan karena mereka sangat  
> percaya diri dengan sistem imigrasi. Hanya klarifikasi aja Ndre,  
> beberapa kali saya lewat JB, saya lihat semua orang pake paspor entah  
> di Woodlands atau JB. Mungkin yang dimaksud Andre adalah semacam  
> Kartu Penduduk Malaysia yang bisa dipakai lewat imigrasi secara  
> otomatis (seperti cashcard yang di tap di mesin). 
> Atas saran om Puguh, saya malah menghitung angka jumlah turis tadi  
> dengan jumlah penduduk (populasi) per negara. Itu menunjukkan  
> indikasi 'kemampuan daya saing" mendatangkan turis. Mo tahu hasilnya? 
> 1. Singapore 233% 
> 2. Malaysia 82.7% 
> 3. Thailand 22.8% 
> 4. Brunei 18.14% 
> 5. Vietnam 4.9% 
> 6. Philippines 3.4% 
> 7. Indonesia 2.4% 
> Singapura menduduki puncak dengan mendatangkan turis 2X jumlah  
> penduduknya yang hanya 10.3juta di tahun 2006. Malaysia selanjutnya  
> dengan tingkatan yang cukup fantastis (nah kan ketauan kenapa dua  
> negara ini bersaing keras). Indonesia hanya menduduki paling bontot,  
> kalah  dengan negara seperti Vietnam, Brunei dan Philippines. 
> Catatan : Angka visitor dari th 2007, sedang jumlah populasi  
> diperoleh data dari 2006. 
> Sumber : 
> Wikipedia - List of East Asian and Southeast Asian countries by  
> population at http://tinyurl. com/4kn3rf 
> Wikipedia - Asean- with 2005 population record at http://tinyurl. com/ 
> prl3u 
> Salam, 
> Ambar Briastuti 
> www.ceritaambar. com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
> Photography. 
> On 24 Jun 2008, at 01:23, androsa wrote: 
>> Mbar, data yang disebutkan itu sedikit membingungkan 
>> terutama untuk data Malaysia 
>> hal ini pernah dibahas di fordis Thorn Three 
>> beberapa mengatakan kalau Malaysia memasukkan warga Singapura yang 
>> berbelanja ke Malaysia sebagai turis 
>> 
>> jadinya? angkanya melonjak drastis tis 
>> bayangkan saja kalau ada orang Singapura beli rokok di Johor Baru, dua 
>> kali dalam sehari brarti ada 2 catatan 
>> Jadi ingat cerita seorang pelajar Singapura yang mengatakan kalau 
>> dipikir2 aneh juga mau pergi ke JB (Johor Baru) harus menunjukkan 
>> paspor sedangkan di Eropa yang begitu besar malah tidak perlu 
>> menunjukkan paspor lagi kemana-mana 
>> Sepertinya data dari paspor itulah yang jadi catatan untuk Malaysia 
>> 
>> Salam 
>> 
>> Andre 
>> 
>> -- In indobackpacker@ yahoogroups. com , Ambar Briastuti 
>> <ambar.briastuti@ ...> wrote: 
>> > 
>> > 
>> > Jumlah pengunjung/turis di negara Asean tahun 2007. 
>> > 
>> > 1. Malaysia 20.97juta 
>> > 2. Thailand 14.8juta 
>> > 3. Singapura 10.3juta 
>> > 4. Indonesia 5.51juta (meningkat 4 juta dari taon sebelumnya, 
>> > targetnya VIY08 katanya 6juta) 
>> > 5. Vietnam 4.171juta 
>> > 6. Philippines 3.1juta 
>> > 7. Brunei 179ribu saja 
>> > 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
>      



      ______________________________________________________________________
Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel.
http://sg.travel.yahoo.com

Kirim email ke