Sambungan dari caper sebelumnya: (http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/message/23821)
Danau Laut Tawar meberikan rasa teduh pada pengunjung yang datang. Dengan permukaannya yang tenang, dikelilingi pegunungan Gayo, dan kabut tipis diatasnya membuat kami betah duduk berjam-jam dipinggir danau, mengamati orang-orang yang sedang mancing dan piknik, ditemani oleh secangkir kopi Gayo yang nikmat -- Keliling Danau Dengan Becak -- Dengan luas kurang lebih 5.817 ha, perlu waktu sekitar 2 jam untuk mengelilingi danau ini. Kurangnya angkutan umum reguler disekitar danau menjadikan carteran kendaraan sebagai pilihan terbaik. Antara Labi-labi, kami memilih untuk mencarter sebuah becak. Dengan kendaraan carteran kami bisa berhenti dengan bebas di tempat-tempat menarik yang tersebar disepanjang jalan mengelilingi danau. Salah satu tempat ini adalah Gua Putri Pukes, sebuah gua peninggalan jaman purbakala yang memanjang sejauh beberapa kilometer menembus pegunungan Gayo. Jalan ini sendiri sudah tidak bisa dilewati, karena sudah runtuh di beberapa tempat. Didalam gua ini ada sebuah pilar, yang dipercaya merupakan seorang putri yang berubah menjadi batu, karena melanggar aturan adat. Selain putri yang menjadi batu, beberapa benda peninggalan purbakala, seperti kampak batu, juga diperlihatkan didalam gua ini. Permandangan disepanjang perjalanan juga tak kalah indah. Beberapa kali kami minta abang becak untuk berhenti untuk mengambil foto kota Takengon, sawah di sebuah pedesaan, sampai sebuah kontur tanah yang mengingatkan akan Bali. Di sisi lain dari danau, adalah Desa Bintang. Sebuah patung kuda besar ditepi dermaga sudah cukup untuk menunjukkan spesialisasi desa ini: sebuah pacuan kuda. Patung besar ini terlihat megah dengan latar belakang langit dan danau laut tawar. Sayang kami tidak melihat sendiri pacuan kuda tersebut, karena hanya diadakan mendekati tanggal 17 Agustus, merayakan hari kemerdekaan RI. Sedikit berjalan kaki dari dermaga, kami tiba di Pantai Menye (Pantai Manja), salah satu pantai di tepi Danau Laut Tawar. Di hari Minggu ini banyak orang yang berlibur di Pantai Menye, baik berenang, bermain sepeda air, atau hanya bercengkrama di saung yang bisa disewa. Telepon saya berbunyi, dari Pak Adi. Pagi ini, sambil sarapan nasi gurih di Rumah Makan Sinar Baru di dekat terminal, kami berkenalan dengan Pak Adi. Beliau akan pergi dengan keluarganya ke sebuah daerah wisata, dan menawarkan kami untuk bergabung. Rupanya Pak Adi sudah mau berangkat, dan mengkonfirmasikan apakah kami ingin ikut atau tidak. So nice of him, tapi berhubung kami sedang berada di sisi lain dari Danau Laut Tawar, akhirnya kami tidak bisa bergabung. Terima kasih Pak Adi. -- Sore hari di Renggali -- Puas mengelilingi danau, kami lalu menyusun rencana perjalanan selanjutnya sambil makan siang. Dengan semangat menjelajahi Banda Aceh, maka kamipun memutuskan kembali dengan L300 malam. Kendaraan berangkat jam 8:30 malam, sehingga kami memiliki waktu sekitar 6 jam. Sayangnya tempat wisata di Takengon rata-rata cukup jauh, sehingga waktu 6 jam ini tidak bisa digunakan untuk eksplorasi lebih lanjut. Selesai makan, kami mampir ke Toko & Penggilingan Kopi Lakun di pasar Takengon. Sedikit tips dari sebuah kedai kopi yang kami singgahi, kalau mau bawa pulang kopi Gayo, coba makan di beberapa tempat. Kalau ketemu yang rasanya pas, tanya sama yang jual, darimana dia beli biji kopinya. Dan Kopi Lakun ini merupakan salah satu yang telah kami coba di sebuah kedai kopi, yang rasanya cocok dengan selera kami. Selesai dengan urusan beli kopi, kami menyetop sebuah becak untuk menuju ke Hotel Renggali. Hotel Renggali merupakan satu-satunya hotel yang terletak di tepi Danau Laut Tawar. Hotel ini terlihat cukup tua, dan menurut receptionist-nya, akan segera direnovasi. Akses ke hotel ini cukup sulit, karena jarang labi-labi reguler yang melewati hotel ini. Tapi jangan khawatir, tinggal tanya ke receptionist, dan mereka akan mencarikan transportasi untuk menuju ke kota atau mengelilingi danau. Di belakang hotel ini terdapat taman yang cukup luas dan terawat. Sepasang opa-oma terlihat sedang bercengkrama di bangku yang tersedia di teras belakang hotel, sambil menikmati secangkir kopi. Kami sendiri memilih sedikit turun mendekati tepi danau, sehingga dapat menikmati matahari sore dengan lebih leluasa. Sungguh fantastis melihat permukaan danau yang tenang, dengan latar belakang pegunungan Gayo yang hijau berubah menjadi kuning, disinari matahari tenggelam. Hari mulai gelap, dan kamipun kembali ke kota Takengon, tepatnya terminal bus, untuk mencari makan malam sambil menungu jemputan menuju Banda Aceh. Makan malam dengan roti bakar coklat, yang menggunakan selai coklat, dan roti bakar srikaya. Untuk mengusir dingin, segelas bandrek susu berwarna merah muda telah terhidang, lengkap dengan isi kacang tanah dan roti. Tepat jam 8:30 malam, kami melihat Kota Takengon untuk terakhir kalinya dari L300 yang membawa kami menuju Banda Aceh. Benny http://www.sunsetmood.web.id Note: Foto Danau Laut Tawar dapat dilihat di: http://www.pbase.com/bennyc/takengon [Non-text portions of this message have been removed]
