HI Hari, Di email saya tidak ada satu kalimat pun yang menganjurkan pelarangan orang utk liat penyu. Hanya perlu diatur. Masalahnya, tidak ada petugas yang mengatur, padahal kita bayar retribusi utk menjamin keberlangsungan pendaratan penyu tersebut. Sampai berapa lama lagi penyu akan tetap mendarat disana? Petugas2 harusnya justru bertugas malam hari saat penyu mendarat untuk mengatur tingkah polah pengunjung. Bisa toh diatur untuk aplusan?
Salam, Tari YM ID : [EMAIL PROTECTED] http://kuntarini.multiply.com http://profiles.friendster.com/kuntarini --- On Wed, 8/27/08, Hari Jonathan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Hari Jonathan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [indobackpacker] Usulan To: [EMAIL PROTECTED] Date: Wednesday, August 27, 2008, 9:53 PM Maaf Mbak, sy kurang setuju dengan pendapat Mbak, khususnya masalah penyu. menurut saya biarkan saja orang yg berkunjung ke sana untuk melihat-lihat dari dekat penyu-penyu tersebut bertelur. Intinya jangan di larang. Sebab melalui e-mail ini, ada usulan untuk melarang, Hanya saja, memang perlu ada penjelasan dan perlu ketegasan dari petugas untuk menegakan aturan tersebut. Justru kedatangan pengunjung itulah membuat wisata di sana menjadi bergariah, jika tidak tentu tidak ada arti apa-apa kekayaan potensi yg dimiliki daerah tersebut. Sama hal nya dengan situs di Sangiran, mereka praktis tidak bisa berbuat apa-apa atas daerahnya sendiri. Setahu saya, yg lebih berbahaya justru adalah para pencuri-pencuri telur itu yg biasanya beraksi malam hari yg kemudian dijual. Kalau maslah sedikitnya penyu yg bertelu, seingat saya 20 thn yg lalu pun sedikit juga penyu yg mendarat untuk bertelur. Salam, HJ ----- Original Message ----- From: Ms tari rahardjo To: [email protected] Sent: Wednesday, August 27, 2008 9:36 PM Subject: Re: [indobackpacker] Usulan Good idea, Nit.... Ehm, dari omong2 dengan seorang kawan, salah satu negara tetangga kita yg paling maju wisatanya di Asia Tenggara ternyata mempunyai platform yang disosialisasikan ke rakyat di daerah pariwisata gimana standar internasionalnya. Dengan begitu, saat masyarakat membangun daerahnya, secara otomatis prasarananya dibangun setidaknya mendekati standar internasional dengan swadaya dari masyarakat, dan tentu saja memikirkan sustainability daerah tsb, jadi daerah tsb gak hancur akibat pariwisata yang salah urus. Saya jd inget email teman2 tentang Ujung Genteng. Dulu puluhan penyu mendarat disana untuk bertelur, tapi dengan kondisi pengunjung yang brutalica gitu, sekarang cuma ada satu dua penyu yang bertelur dirubung ratusan orang yang ribut dan motret pake blitz. Sampai kapan kapan penyu masih akan mendarat disana utk bertelur? Kalau sudah gak ada penyu yg bertelur disana, penyu makin diambang kepunahan, dan Ujung Genteng pun segera ditinggal pengunjung. Ekonomi lokal dari pariwisata mandeg. Tidak bisakah dipasang tali pembatas supaya pengunjung tidak terlalu dekat? Tidak bisakah para petugas berkeliling di malam hari utk mengatur para pengunjung, dengan tegas menyita kamera pengunjung yang nekad memakai blitz? Bukankah petugas2 itu ada karena keberadaan penyu2 yang bertelur disana, yang justru pada malam hari? Waktu krusialnya adalah malam hari, tapi koq mereka malah gak ada? Lalu buat apa mereka disana kalo adanya petugas dan tidak adanya petugas ya sama saja? Lebih baik mereka ditiadakan saja, udah ngabisin duit pajak....... Mengenai pariwisata, kita bisa bantu membangun pariwisata yang community based. Caranya, berkawanlah dengan penduduk di daerah tsb. Ajak diskusi, dari situ kita bisa sumbang pikiran secara dua arah gimana sebaiknya menjaga dan mengelola tempat pariwisata. Daerah pariwisata yang sustainable adalah yg community based, masyarakat diajak membangun sekaligus menjaga alamnya. Juga beri masukan agar penduduk menyiapkan satu kamar untuk penginapan, kasih tau standardnya. Dengan kemampuan yg ada mungkin dia gak bisa adakan kamar standar international, tapi setidaknya prinsip2nya mendekati lah. Sehingga dia bisa dapat masukan dari situ. Yah, jadi konsultan gratisan lah.... Kalo penduduk itu serius dan kamarnya layak jual, bisa diposting di www.hostels. com atau tempat lainnya. Silakan jadi perantara hotel tsb dan mengambil komisi sekian persen, atau dananya disalurkan langsung seluruhnya ke penduduk tersebut. Terserah dan sah-sah saja. Berkawan, ajak diskusi masyarakat agar jadi masukan sekaligus memotivasi mereka. Saya lagi mikir2 pingin bantu promosi & mengembangkan desa Ngadas selatan Bromo, tapi masih mentok di infrastruktur transportasi Malang - Ngadas nih.... Salam, Tari YM ID : kuntarini_rahsilawa [EMAIL PROTECTED] com http://kuntarini. multiply. com http://profiles. friendster. com/kuntarini --- On Wed, 8/27/08, ida hendriawati <voocha_chantiq@ yahoo.com> wrote: > From: ida hendriawati <voocha_chantiq@ yahoo.com> > Subject: [indobackpacker] Usulan > > Aku punya usulan nich gimana kalau setiap trip yang > diadakan disisihkan mungkin min. Rp. 10.000,- untuk donasi > ditempat pariwisata yang kita datangi mungkin ide ini sudah > pernah ada yang melaksanakan tapi mungkin dalam bentuk Uang > yang pada ujung2nya ga berbekas atau bahkan disunat sama > orang2 yang kurang bertanggung jawab . #yiv1663484041 #ygrp-mkp { BORDER-RIGHT:#d8d8d8 1px solid;PADDING-RIGHT:14px;BORDER-TOP:#d8d8d8 1px solid;PADDING-LEFT:14px;PADDING-BOTTOM:0px;MARGIN:14px 0px;BORDER-LEFT:#d8d8d8 1px solid;PADDING-TOP:0px;BORDER-BOTTOM:#d8d8d8 1px solid;FONT-FAMILY:Arial;} #yiv1663484041 #ygrp-mkp HR { BORDER-RIGHT:#d8d8d8 1px solid;BORDER-TOP:#d8d8d8 1px solid;BORDER-LEFT:#d8d8d8 1px solid;BORDER-BOTTOM:#d8d8d8 1px solid;} #yiv1663484041 #ygrp-mkp #hd { FONT-WEIGHT:bold;FONT-SIZE:85%;MARGIN:10px 0px;COLOR:#628c2a;LINE-HEIGHT:122%;} #yiv1663484041 #ygrp-mkp #ads { MARGIN-BOTTOM:10px;} #yiv1663484041 #ygrp-mkp .ad { PADDING-RIGHT:0px;PADDING-LEFT:0px;PADDING-BOTTOM:0px;PADDING-TOP:0px;} #yiv1663484041 #ygrp-mkp .ad A { COLOR:#0000ff;TEXT-DECORATION:none;} [Non-text portions of this message have been removed]
